Teringat kembali cerita ibu tentang aku di 25 tahun yang lalu, dimana saat itu aku yang masih dalam kandungannya hampir terlahir diantara dua rel yang membentang diatas bantalan-bantalan kayu hitam yang beralaskan batu-batu dengan jumlah yang siapapun tidak sanggup untuk menghitungnya.

Kini, diusia yang hampir-hampir tidak aku sadari secepat itu bertambah (padahal sepertinya baru saja kemarin aku disetrap oleh guru SD-ku karena kenalanku), ingin aku berbicara tentang rel kereta. Ya, rel kereta yang sepertinya belum ada satupun yang menapakinya selangkah demi selangkah dari ujung barat Banten hingga ujung timur Jawa Timur. 

*Ada apa dengan rel kereta ? *

Ada aku, dan kamu…

Aku rel yang sebelah kanan, dan kamu rel yang sebelah kiri. Kita tidak sedang berjalan kaki diatasnya, atau bukan pula yang menaiki gerbong diatasnya, tapi kitalah rel itu. Satu rel saja berubah dari posisinya dan membuat arah sendiri, maka hancurlah gerbong kehidupan kita. Satu rel saja lepas dari bantalannya, maka celakalah !.

Siapa yang celeka ?.

Aku dan kamu, begitu juga dengan amanah-amanah Tuhan yang ditipkan kepada kita supaya bisa kita hantarkan selamat sampai tujuan. 

Lihatlah bantalan rel-nya !. Itulah tahapan demi tahapan proses yang harus kita tapaki. Tidak hanya satu bantalan proses, tapi jutaan bahkan milyaran. Proses itulah yang akan mendewasakan kita sampai ke stasiun hidup yang menjadi tujuan. Tapi, jangan berharap bisa sampai ketujuan kalau baru satu bantalan saja kita sudahmerasa kepanasan karena teriknya cobaan.

Hai, sekarang marilah kita tatap hamparan batu yang berada dibawah kita dan bantalan kita. Dan, mari kita bertanya : kenapa yang menjadi alas kita adalah hamparan batu sebesar kepalan tangan bukan batu-batu besar atau beton sekalipun ?.

Ternyata, inilah jawabannya :

Itulah kesederhanaan, itulah redaman, itulah penyesuaian… batu-batu tersebut ukurannya hanya sekepalan tangan, lebih kecil dari batu kali atau beton sekalipun. Ternyata, dengan cara-cara yang sederhana (dan kadang dianggap kecil) guncangan dan beban kita bisa diredam. Dengan kesederhanaanlah, kamu dan aku lebih tenang untuk sampai ketujuan.

Lalu, sekarang kita tatap ujung dari kita !. Ya… kita, kamu dan aku, rel kanan dan rel kiri. Apa yang bisa kita lihat ?. Hanya sebuah titik. Itulah persfektif kesempurnaan. 

Tidak mungkin memang bagi kita menjadi sempurna, tapi dengan fokus menatap dan menuju titik perspektif itulah kita akan terus berusaha menjadi lebih baik, dengan harapan sebagai hamba yang dimuliakan dihadapan-Nya. Karena, titik perspektif kesempurnaan itu hanyalah milik Dia, Dia yang akan kita tuju seperti perspektif yang sedang kita tuju.

Untuk aku dan kamu !. Kamu yang masih menjadi rahasia-Nya… 🙂