Pada lebaran tahun 2007 alhamdulillah saya pulang kampung dan bisa berlebaran bersama keluarga, walaupun tidak semua anggota keluarga hadir untuk momen ini saya sangat bersyukur, karena setidaknya saya berlebaran bersama ibu yang sangat saya cintai. Berkumpulnya seluruh anggota keluarga bagi keluarga saya memang sesuatu yang sulit, hal ini tidak terlepas dari keadaan keluarga saya sendiri yang terpencar-pencar. Dan ketika benar-benar bisa berkumpul semua itu adalah sesuatu yang sangat istimewa buat saya dan keluarga.

Setelah lama tidak pernah berlebaran dikampung halaman kemudian bisa kembali berlebaran di kampung sendiri tentulah sangat menyenangkan, walaupun suasananya tidak seperti dulu lagi disaat saya masih kecil. Saya benar-benar menikmati suasana yang berbeda, suasana yang tidak sama dengan ketika berlebaran di perantauan. Walaupun suasananya menjadi asing di kampung sendiri pokoknya indah dehh…

Satu hari seusai hari lebaran, saya diajak oleh teman saya untuk jalan-jalan naik mobil truk, tidak keren memang tapi jujur itu sangat mengesankan. Bayangan saya, saya akan diajak jalan-jalan ke sekitar daerah Ciater atau mungkin Tangkuban Perahu dan sekitarnya, atau biasanya (seingat saya waktu kecil) ke Pantai Pondok Bali, wilayah Kab. Subang bagian utara (pantura). Ketika saya bertanya keteman saya “Kita akan jalan-jalan kemana neh ?”, teman saya menjawab “ke pesantren”. Terang saja saya bengong dan kaget, tidak biasanya disuasana lebaran jalan-jalannya ke pesantren, benar meleset bayanga perkiraan saya.

“Pesantren ???, enggak salah ???… ziarah ke makam tokoh kiyainya maksudnya ?” tanya saya.

“Enggak ko, bukan begitu maksudnya. Pesantren yang dimaksud yaitu penjara,  kita mau ke penjara euy, ngejenguk ******, ******, dan ******, mereka ditahan disana karena kasus penganiayaan.” Jawab teman saya.

Sayapun tambah bengong, tapi kali ini bukan bengong dengan istilah pesantren yang = penjara tersebut. Saya bengong atas nasib teman-teman saya yang pada saat itu meringkuk di dalam jeruji besi.

Beranjak dari kisah tersebut, kini di tahun 2011 pikiran saya kembali diingatkan dengan penjara yang diistilahkan sebagai pesantren tersebut, seiring dengan munculnya kasus Kalapas Nusakambangan yang ternyata  juga menjadi legalitasor masuknya narkoba kedalam Lapas Nusakambangan.

Sudah menjadi rahasia umum memang kalau penjara bukan lagi tempat yang efektif untuk menjadi tempat pesakitan bagi para pelaku tindak kriminal dan kejahatan. Logika awalnya penjara memang merupakan konsep sanksi yang dapat memberikan efek jera bagi para pelaku tindak kriminal dan kejahatan, dan menjadi pelajaran bagi masyarakat lainnya agar tidak melakukan pelanggaran hukum, paling tidak untuk kasus yang sama.

Selain itu, penjara yang memberikan pembatasan dan pengurangan terhadap hak-hak para narapidananya sangat diharapkan bisa memberikan rehabilitasi terhadap para narapidana (napi), sehingga begitu napi tersebut bebas ia tidak lagi mengulangi kesalahannya, selain karena kapok juga karena sudah ada bekal baru (mental dan spiritual) yang lebih baik yang merupakan hasil rehabilitasi dari lembaga pemasyarakatan (lapas).

Konsep-konsep yang bisa dipahami dengan akal yang sederhana itu kini ibarat panggang jauh dari api. Seseorang yang dipenjara karena kasus maling, begitu bebas bukannya baik malah jadi perampok (lebih parah), orang yang dimasukan ke penjara begitu bebas karena kasus narkoba bukannya berhenti nyandu tapi malah jadi bandar. Ini adalah fakta, yang lahir dari kesalahan sistem yang diperparah dengan penyimpangan pada pelaksanaannya.

Sistemnya dianggap salah, karena masih memberikan peluang besar kepada para pelaksananya untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan dan penyalahgunaan. Kesalahan dimulai dari awal perekrutan para pelaku sistem itu sendiri, perekrutan sangat sarat dengan trik intrik materialistik dan nepotistrik (*istilah terakhir maksa banget **J). *Karena orientasi untuk mengabdinya adalah uang, maka dimana ada uang disitulah lahan pengabdiannya. Kasarnya, dimana bandar narkoba siap memberikan kompensasi yang lebih besar dari gaji yang diberikan oleh negara maka *why not ?, *karena uang sudah dianggap most oriented. Selain itu dengan bekerjasama dengan para kartel-kartel tersebut dianggap akan jauh lebih memberikan rasa aman bagi para pelaksana tersebut, ketimbang nantinya mereka akan terus dibawah bayang-bayangan ancaman manakala para kartel itu bebas.

Inilah, Penjara ala Pesantren

Penjara ala pesantren itu sendiri sepertinya memang belum ada atau mungkin sayanya yang belum tahu. Paling tidak maksud dari penjara ala pesantren itu sendiri satu hal yang hadir dalam benak pikiran saya yang berawal dari kisah jalan-jalan saya ke pesantren (penjara). Saya sendiri memang tidak sempat menanyakan kenapa penjara ko pesantren ?, padahal pada kenyataanya sangat jauh berbeda dengan yang namanya pesantren. Tapi *its oke, *saya rasa tidak ditanyakanpun kita bisa memahaminya, paling tidak kita memahami itu sebagai kata kiasan yang memperhalus kata “penjara”.

Banyak orang tua yang ketika sudah lelah dan menyerah dalam mendidik anaknya yang kelakukannya sudah sangat buruk lalu kemudian menitipkannya ke pesantren-pesantren. Mereka percaya bahwa di pesantren ada satu pola yang baik dan positif untuk **memanusiakan manusia. **Padahal (sebatas yang saya ketahui) pola pendidikan perilaku dan mental yang diajarkan oleh pesantren itu sangat sederhana, yaitu dengan memupuk kembali fitrah manusia sebagai makhluk yang diciptakan untuk mengabdi kepada Allah SWT.

Sistem yang diterapkan pada sebuah pesantren jarang sekali ada penyimpangan pada pelaksanaannya, karena memang orang-orang yang bertanggungjawab untuk menjalankan sistem tersebut dengan keimanannya yang kuat sangat yakin betul bahwa mereka memiliki tanggungjawab langsung kepada Allah SWT. Dan orientasi pengabdian mereka bukan lagi uang ataupun metari melainkan ibadah.

Untuk memanusiakan manusia hanya dengan pendekatan-pendekatan fitrah manusiawi kita bisa merehabilitasinya, disamping dengan tidak mengabaikan sanksi-sanksi yang wajib diterima oleh para narapidana tersebut. Jalurnya hukumnya pertama berikan narapidana tersebut sanksi yang sesuai yang kemudian disertai dengan proses pemulihan dan perbaikan terhadap dirinya.

Sistem keamanan di pesantren memang tidak seketat pengaman di penjara, tapi bukan tidak mungkin kan kalau untuk sistem pengamanannya agar para narapidana tersebut tidak melarikan diri menerapkan pola di penjara-penjara saat ini ?, dengan beberap inovasi saya yakin sangat mungkin.

Secara lingkup area sangat terbatas seperti di lapas, tapi secara pembinaan sangat manusiawi dengan mengadopsi sistem pesantren. Setidaknya beberapa hal dapat terpenuhi :

  1. Secara sanksi pidana, mereka sudah menerimanya dengan tidak adanya hak-hak kebebasan pada diri mereka seperti disaat mereka hidup dilingkungan bermasyarakatnya, ini sebagaimana dipenjara-penjara pada umumnya.
  2. Secara manusiawi, hak-hak mereka tetap terpenuhi. Bisa kita bandingkan bagaimana kehidupan di penjara dengan dipesantren, mana yang jauh lebih manusiawi kita tentu dapat menilainya sendiri.
  3. Secara perilaku mereka bisa cenderung lebih cepat menjadi baik, dengan penekanan pembinaan mental dan spiritual secara halus akan semakin mendekatkan diri mereka dengan Allah SWT. Semakin dekat diri dengan Allah perilaku dan mentalpun akan semakin baik.
  4. Secara hubungan sosial, tidak akan pernah para pelaksana sistem tersebut merasa terancam dibawah bayang-bayang balas dendam para napi yang bebas dikemudian hari, karena begitu mereka bebas mereka (Insya Allah) sudah berperilaku dan bermental jauh lebih baik. Yang ada berterimakasih bisa jadi.

Dari gambaran-gambaran diatas mudah-mudahan bisa kita fahami bagaimana penjara berkonsep pesantren tersebut. Atau sederhanya begini saja, sobat bayangkan sebuah lembaga pemasyarakatan namun kehidupan didalamnya sangat bernuansa pesantren.

Pada faktanya tidak semudah menteorikan memang, tetapi tidak mudah tentunya bukan berarti tidak mungkin.

Apa yang termuat pada artikel ini hanyalah apa yang keluar dari dalam benak pemikiran saya, bisa mengandung sesuatu yang benar atau bahkan mungkin juga sepenuhnya salah. Apa yang benar itu semata-mata kehendak Allah, dan apa yang salah itulah sifat manusiawi saya. Dan saya mohon maaf atas segala kekliruannya. Mudah-mudahan bermanfaat.