Semua orang ramai-ramai membicarakan perihal pergantian tahun, terutama yang berkaitan dengan rencana *next time *di 2012 dan kilas balik catatan 2011. Semuanya punya konsep, bayangan, dan rencana beda-beda. Ada yang untuk kepentingan pribadi, keluarga, kelompok atau golongan. Tapi apapun itu kita hargai sebagai sebuah hak, hak seseorang yang tentunya jangan sampai berbenturan dengan hak orang lain.

Saya termasuk orang yang biasa-biasa saja dengan menyikapi datangnya pergantian tahun, nyaris semalaman dipergantian tahun tersebut tetap melakukan rutinitas seperti biasa saja, online dan utak atik blog sampai mata mengeluarkan hasratnya untuk terpejam. Bukan berarti tidak optimis atau bahkan pesimis dalam menyongsong tahun baru, bukan pula anti terhadapnya. Saya lebih cenderung menganggap kalau pergantian tahun adalah persoalan momentum saja, karena pada dasarnya semua hal masih berjalan normal seperti biasa saja. Baik itu metronom waktu yang terus berjalan maupun perut yang harus tetap diisi.

Kenapa saya sebut momentum ?

Pergantian tahun adalah hal lumrah yang pasti akan terjadi selama kita menggunakan kalender. Ini tidak ada bedanya dengan pergantian detik, menit, jam, hari, pekan dan juga bulan. Selain memiliki fungsi hitung, juga memiliki fungsi pengingat.

Pengingat inilah yang kemudian saya refleksikan sebagai momentum. Momentum untuk melakukan evaluasi atas rencana dan tindakan sebelumnya, dan memperbaiki rencana serta tindakan selanjutnya.

Saat saya memperhatikan beranda facebook, begitu banyak ungkapan status-status ungkapan rasa bahagia dalam menyongsong tahun. Entah bahagia karena masih diberi umur atau karena bisa pesta pora dengan teman-temannya, entahlah… saya tidak mau membahas terlalu jauh soal itu. Yang paling saya garis bawahi adalah luar biasanya rasa optimisme setiap orang, dengan kesimpulan umumnya ;tahun 2012 harus lebih baik.

Siapa Yang Semangat Menyongsong Tahun 2012 ?

Pertanyaan diatas muncul dalam benak pikiran saya ketika begitu banyaknya orang yang bersemangat menyambut tahun 2012 dengan optimisme “esok dan seterusnya harus lebih baik”.

Bayangan saya kemudian langsung meloncat ke aktivitas perjuangan hidup di awal tahun 2012, yaitu hari Minggu, 1 Januari 2012. Siapa nih yang paling *action *duluan ?.

Dengan sudut pandang dan wawasan saya yang tidak terlalu luas, pikiran saya langsung terbayang kepada petugas kebersihan.

Saya teringat dengan presentasi dari manajemen Ancol saat *press conference *Musikal Laskar Pelangi dan Perayaat Tahun Baru 2012, pihak manajemen menjelaskan bahwa Ancol dan Pemda DKI akan mengerahkan semua petugas kebersihan yang ada mulai pukul 2 dinihari. Apa yang bisa kita simpulkan ?

Tidak bisa serta memang untuk bilang kalau petugas kebersihan ditambah lagi dengan pemulung disebut sebagai orang-orang yang paling bersemangat menyongsong tahun 2012. Tapi bagaimanapun saya akui, saya lebih salut kepada mereka ketimbang kepada orang-orang yang begitu mantapnya mengatakan “mulai besok harus lebih baik” tapi nyatanya jam 11 siang tanggal 1 Januari 2012 baru bangun tidur. Jelas, untuk langkah awal kita sudah kalah oleh petugas kebersihan dan pemulung.

Apakah hanya diukur dari langkah awal seperti itu ?

Tidak memang, tapi dari situ kita bisa mendapatkan gambaran mana resolusi mana ilusi, mana  khayalan dan mana kenyataan.

Berkaca Pada Telapak Kaki

Ketika menyusun sedemikian rupa resolusi kesekian kalinya di tahun 2012, mungkin hal pertama kita lakukan adalah melihat kembali jejak-jejak langkah kehidupan kita di fase tahun sebelumnya. Atau bahkan kalau perlu melontar lebih jauh lagi kebelakang. Jangan terlalu lama, karena evaluasi bukan untuk terlelap di masa lalu.

Ibarat sebuah lompatan, kita butuh ancang-ancang atau awalan agar ada hentakan poros through bagi tubuh kita untuk meloncat kedepan lebih jauh lagi. Pada saat pengambilan ancang-ancang itulah kita harus mengambil langkah mundur ke belakang.

Mungkin demikian halnya dengan evaluasi untuk resolusi, kita butuh berkaca pada telapak kaki kehidupan yang telah mencatatkan banyak amal perbuatan, untuk kemudian segera melangkah dengan lebih baik.

Celakanya, untuk saya pribadi adalah ketika saya berusaha untuk evaluasi (muhasabah) tersebut mempersulit harapan saya untuk membuat rencana tambahan di resolusi baru. Apa pasalnya ?, ternyata masih banyak hal dari rencana sebelumnya yang terlaksanakan sesuai harapan.

Haruskah saya meninggalkan rencana sebelumnya yang belum terlaksanakan sesuai harapan untuk menambah rencana jangka panjang baru ?

Sepertinya tidak, ibarat pepatah saya tidak bisa menggenggam pasir dengan menggunakan kedua siku saya. Evaluasi tersebut harus saya genapkan dengan meragap kemampuan diri. Saya harus menyimbangkan antara optimis dan realistis.

Terlalu mengandalkan logika kah saya ?

Entahlah, saya hanya bisa menyimpulkan kalau banyak harapan saya yang tidak terwujud karena justru saya merasa masih belum melogiskan tindakan, alias masih belum proforsional.

Banyak hal baik mungkin yang terjadi diluar logika kita, tapi itu adalah sisi lain keajaiban dari kekuasaan Allah SWT.

Dan Aku-pun Malu

Sempat terpikir dalam benak saya untuk merencanakan ini dan itu, khayalan yang melebihi batas kewajaran akan kemampuan diri saya. Mungkin itulah yang disebut dengan “gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Dan itu terpikirkan ketika saya belum melihat catatan memori kebelakang, catatan tentang harapan di tahun 2011, 2009, 2008, dan terus kebelakang.

Hampir saya lupa, kalau setiap cita-cita itu butuh proses. Proses yang bisa panjang dan juga singkat. Hampir saya lupa, kalau resolusi di tahun-tahun sebelumnya juga butuh waktu yang mungkin melewati tahun 2012.

Sungguh saya benar-benar merasa malu kepada Tuhan,  belum juga rencana sebelumnya dilaksanakan sepenuhnya , sudah mengajukan kembali “proposal khayalan” di momentum waktu yang baru.

Wahai 2012, mohon maaf sepertinya saya harus tanpa rencana tambahan kecuali rencana-rencana pelengkap yang harus dibuat untuk mewujudkan mimpi-mimpi sebelumnya yang belum terwujudkan. Karena hidup ini seperti efek domino yang selalu berantai sampai antara aku atau iblis yang kalah, mungkin demikian halnya juga dengan resolusi. Resolusiku harus lahir dari misi dan evaluasi, bukan ilusi.