“Kalau sebuah kapal berlayar mengarungi samudera, ada satu alat yang tidak bisa ditinggalkan oleh kapal tersebut, yaitu jangkar. Jangkar ini berfungsi sebagai penahan kapal dari hempasan gelombang atau arus dan hempasan angin atau badai. Saking fitalnya jangkar, maka jangkar juga sering dijadikan simbol dunia kemaritiman.

Kalau diri kita ini diibaratkan sebuah kapal yang berlayar mengarungi samudera kehidupan di dunia, maka jangkar tersebut bisa diibaratkan seperti prinsip hidup. Prinsip tersebut akan menjaga keseimbangan diri kita disaat kita dihajar oleh gelombang kehidupan, didera oleh cobaan,  dan ditarik oleh godaan. Kalau manusia tidak memiliki prinsip sama halnya dengan kapal tidak memiliki jangkar, akan sangat mudah terombang-ambing lalu ditenggelamkan. Maka dari itu, mulai dari sekarang, mumpung masih muda, mulailah hidup dengan prinsip, prinsip yang bisa menjadi jangkar kehidupanmu. Prinsip itu harus wajar, antara diri kamu dengan prinsip kamu harus seimbang, prinsipnya tidak terlalu berat juga tidak terlalu ringan. Seperti sebuah kapal, kapal feri dengan kapal nelayan jangkarnya juga berbeda. Manusia yang berkarakter itulah manusia yang berprinsip.”

Jangkar KehidupanItu adalah sepenggal kalimat nasehat yang pernah saya terima dari guru BK waktu SMA, yang sering saya jadikan tempat curhat sekaligus menggali pembelajaran hidup. Beranjak dari *transfer *ilmu tersebut, masa-masa pencarian jati diri terus bergerak, kadang santai kadang juga frontal. Yang menjadi tanda tanya besar dalam hati dan pikiran saya dikemudian hari adalah *“Kenapa yang di ibaratkan jangkar tersebut adalah prinsip, bukannya keimanan. Bukankah keimanan juga memiliki peran sebagai penyeimbang dan pengokoh diri dari segala macam persoalan hidup ?”. *Ketika pertanyaan tersebut muncul dalam benak pikiran saya, saya tidak bisa menanyakannya kembali kepada guru BK tersebut, karena selain saya sudah lulus tapi juga guru BK tersebut sudah berpulang menghadap Allah SWT (Semoga Allah menerima semua amal ibadahnya).

Nasehat tersebut kemudian menjadi tonggak bagaimana saya harus memaknai jangkar, prinsip dan keimanan. Hingga akhirnya saya berhenti pada satu kesimpulan (yang kesimpulannya tidak terlepas dari benar dan salah) :

Setiap prinsip harus dibangun berdasarkan keimanan. Ketika prinsip dibangun diatas landasan keimanan maka sama halnya itu semakin mengokohkan kedekatan hubungan kita dengan Allah SWT. Prinsip dibangun diatas keimanan itu sama halnya dengan memposisikan diri di jalan kehidupan yang digariskan oleh Allah SWT. Akan tetapi ketika Keimanan di bangun di atas prinsip itu bahaya, karena dikhawatirkan kalau prinsip yang didahulukan (tanpa keimanan) akan dipenuhi oleh hawa nafsu kita. Sehingga mustahil rasanya kalau keimanan dapat terjaga dengan baik diatas landasan hawa nafsu.

Prinsip hidup yang didalamnya berisi nilai-nilai keimanan sama halnya dengan telah menjadikan keimanan benar-benar sebagai pedoman hidup.  Prinsip belum tentu mengandung nilai-nilai keimanan, tetapi keimanan sudah pasti mengandung nilai-nilai yang harus dijadikan prinsip.

Kalau tidak salah, sering kita menemukan sebuah kalimat “Sumpah, gwe gak bakalan maafin tuh orang”. Sejatinya kata sumpah-serapah ini sudah menjadi sebuah prinsip yang ia tanamkan pada dirinya, karena sifatnya prinsip itu harus dipertahankan maka sekuat tenaga dengan dibantu oleh dorongan setan ia akan mempertahan terus prinsip tersebut, padahal itu merupakan prinsip keliru yang bertolak belakang dengan keimanan. Maka disinilah betapa pentingnya landasan keimanan dalam menggariskan sebuah prinsip.

Dalam prinsip ada sumpah, dan sebaik-baiknya sumpah adalah bersumpah atas keimanan pada Allah SWT yang tertuang dalam dua kalimah syahadat, dan sebaik-baiknya prinsip adalah berteguh diri dalam menjalankan sumpah atas keimanan kita kepada Allah SWT. Untuk memudahkan kita dalam hidup, Allah terus membimbing kita baik melalui semua firmannya yang tertuang dalam Kitab Suci Al-Qur’an maupun dalam segala peristiwa kehidupan yang dijadikan pelajaran buat umat manusia, yang didalamnya terkandung nilai-nilai keimanan yang harus dijadikan prinsip.

Di surah Al Jaatsiyah ayat 20 Allah SWT berfirman :

AL JAATSIYAH - 20

Artinya : *“Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” *

Dan di surah An Nahl ayat 65 :

Artinya : “Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).”

Prinsip memang terbagi kedalam berbagai macam puluhan bahkan ratusan atau bahkan ribuan kategori. Ada prinsip kepemimpinan, prinsip pendidikan, prinsip mengajar, prinsip belajar, prinsip menjadi ayah, prinsip menjadi ibu, prinsip menjadi kepala keluarga, prinsip menjadi wakil rakyat, prinsip bekerja, dan prinsip-prinsip lain sebagainya. Namun, apapun kategori prinsipnya semuanya patut kita sandarkan pada keimanan, karena sejatinya didalamnya penuh kebenaran.

Sebagai contoh :

Seorang pemimpin yang menyandarkan prinsip-prinsip kepemimpinannya kepada nilai-nilai keimanan maka insya Allah setiap kebijakan yang ia ambil tidak akan melenceng dari hukum-hukum Allah yang memang ada untuk menjadi Rahmatan Lil ‘Alamin, yang menyejahterakan semua masyarakatnya. Sehingga semua kebijakan yang diterapkan terbebas dari hawa nafsu dan segala macam kepentingan diluar kepentingan rakyatnya.

Demikian tulisan singkat ini coba saya posting, harapannya mudah-mudahan kita bisa menjadi pribadi yang memiliki prinsip dalam mengarungi hidup, sehingga kita benar-benar menjadi manusia yang berkarakter. Prinsip bukan sembarang prinsip, melainkan prinsip yang bersumber dari keimanan yang dapat menjadikan kita manusia berakhlakul karimah. Tulisan ini memang terlalu pendek, sependek pengetahuan saya, oleh karena itu saya sangat mengharapkan sekali kita bisa saling sharing dan berbagi wawasan untuk saling membangun kemaslahatan. Amin… Semoga bermanfaat.