Satu tahun lebih sudah saya bergelut dengan jejaring sosial yang bernama facebook, selama itu pula saya berusaha untuk mempelajarinya (*sok risetis banget ya ???  😉 ). *Dan salah satu hal yang paling saya perhatikan adalah status, dalam satu hari saya bisa online sampai 11 jam nonstop. Bagaimana tidak, aktivitas untuk menunjang kebutuhan hidup saya berkaitan erat dengan dunia online.

Setiap aktivitas teman-teman yang melintas diberanda saya hampir tidak terlewatkan, selalu saya baca. Bahkan, saya tulis di buku/kertas*.* Banyak hal yang saya temukan, mulai dari yang  lucu, yang aneh, yang ngeselin, yang bikin bengong juga ada. Tidak hanya sampai disitu, dengan segala macam rasa *gado-gado *facebook, masih ada lagi yang ngebual, merayu, yang ngotot, dan yang maki-maki juga ada. Tapi, jangan salah… yang nyenenengin juga buanyaaaakkk. Dan yang paling banyak ditemukan apa coba ???… Heheeeeee.. yups, patah hati. Begitu payahkah kita sampai dibuat hancur lebih oleh yang namanya cinta ? (ah.. lho juga sama ! ).

Saking banyaknya (kayaknya status-status saya juga begitu deh ya ?? ), sampai-sampai saya berpikir, apa iya yang ada dikepala kita isinya cuma tentang cinta, cinta, cinta, dan cinta ?. Tidak adakah yang jauh lebih penting sehingga hidup kita benar-benar bernilai dimata Allah SWT ?, tidak adakah rasa dalam diri dan pikiran kita untuk menjadi diri yang berarti bagi hamba-hamba Allah yang lainnya ?. Apa iya seumur hidup kita hanya akan bahagia oleh yang namanya cinta ?. *Oke, *saya juga tidak mau disebut munafik, tapi setidaknya mudah-mudahan saya bisa memahami bahwa saya tidak hidup untuk cinta, namun hidup untuk yang melahirkan dan menumbuhkan cinta.

Ada satu lirik lagu yang cukup menggugah perkara hal ini :

Mari menyusun seroja bunga seroja
Hiasan sanggul remaja puteri remaja
Rupa yang elok dimanja jangan dimanja
Pujalah ia sekadar sekadar saja

Mengapa kau bermenung
Oh adek berhati bingung

Jangan kau percaya asmara
Dengan asmara

Sekarang bukan bermenung
Zaman bermenung

Marilah kita bersama
Memetik bunga

Apabila kita coba telaah lirik lagu tersebut, luar biasa sekali hikmah atas pesan yang terkandung didalamnya. Sedahsyat apapun persoalan cinta jangan sampai meruntuhkan semangat dan motivasi hidup kita, terlebih lagi ketika justru membuat kita lupa terhadap yang melahirkan dan menumbuh cinta. Jangan biarkan kebaikan cinta dikotori oleh pengaruh-pengaruh setan yang yang terus menggiring kita kedalam kondisi yang tidak disukai oleh Allah.

Jadikan cinta yang ada dalam diri kita tumbuh diatas keridhoan Allah SWT. Jangan sampai hanya karena satu persoalan membuat kita lalai dari rasa syukur atas nikmat Allah yang lainnya, jangan sampai kita lalai dari rasa syukur atas nafas yang gratis, atas rizki yang terus mengalir, atas kasih sayang orang-orang yang terus menyayangi kita, atas tangan dan kaki yang masih rela kita gerakan. Ketika Allah mengambil sesuatu dari diri kita, maka yakinlah bahwasannya Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.

Hal yang lebih fatal ketika kita berjanji sehidup semati dengan orang yang kita cintai, jelas ini sudah diluar batas kewajaran yang seolah-olah kita dapat menentukan takdir atas diri kita sendiri, padahal takdir adalah domainnya Allah. Kita lupa bahwa setiap kali shalat kita bersumpah jikalau  ***hidup dan mati kita hanya untuk Allah SWT. ***Jangan-jangan selama ini kita hanya asal baca saja ?

Jujur, saya sempat sibuk mencari pasangan kesana kemari meskipun dengan setumpuk rasa minder. Hingga akhirnya berhenti pada satu titik kesimpulan, kenapa saya tidak sibuk memperbaiki diri ?, bukankah Allah menjanjikan pasangan yang baik untuk mereka yang baik ?. Dan Allah tidak pernah ingkar janji. Jadi tugas saya sekarang adalah perbaiki diri dan itu tidak lain merupakan salah satu upaya untuk mendapatkan jodoh yang baik (*Ciee… cieeeee….  :wowcantik ), *Aminnn… !.

Takdir itu tidak perlu dicari, dia akan datang jika saatnya datang, (termasuk jodoh pastinya) artinya tugas kita dibumi Allah ini adalah menjalankan takdir bukan mempercepat takdir dan memperlambat takdir, takdir adalah apa-apa yang menjadi ketentuan Allah atas kita, jodoh salah satunya, kalau takdirnya tak berjodoh sama si itu, yah mau sampai muntah darah nangis nanah juga tetap aja berpisah, kalau memang jodoh mau benci dan gak mau sama yang itu yah tetap aja nikah … jadi jodoh itu masalah takdir dan bahagia itu bukan hanya dari jodoh !! berapa orang yang tak bahagia setelah menikah ? Nah lho ???.

So, mulai dari sekarang mari kita sama-sama belajar dan memperbaiki diri. Jangan biarkan kita menjadi bodoh hanya karena satu persoalan. Satu pintu tertutup masih banyak pintu-pintu lain yang masih terbuka lebar. Kalaupun tidak sekarang di dunia, yak diakherat nanti, dan bagi orang-orang yang beriman bukankah kehidupan diakherat jauh lebih baik ?.

Akhir kata, mohon maaf banget kalau banyak kesalahan ataupun kekeliruan, itu semua tidak telepas dari keterbatasan yang ada pada diri saya dan semoga Allah mengampuninya,  saya berharap teman-teman dapat meluruskannya. 🙂