Satu ketika mungkin kita pernah dalam situasi yang kurang menyenangkan dan menjengkelkan akibat ulah orang lain. Ketika dalam kondisi tersebut itulah ada satu pertanyaan “bagaimana cara kita menyikapinya ?”, jawabannya pasti relatif karena setiap orang berbeda-beda. Beda dalam cara berpikirnya dan beda dalam mengendalikan perasaan dan emosinya.

Yang ingin saya tuliskan kali ini adalah bagaimana sebetulnya kecerdasan kita dalam mengendalikan perasaan dan emosi.

Pernahkah kita menyaksikan seseorang yang sedang memaki-maki atau marah-marah dengan mengeluarkan bahasa yang sangat kotor, kasar dan menjijikan. Semua nama hewan di Ragunan ia sebutkan, semua jenis kotoran ia ucapkan. Bagaimana pendapat sobat-sobat  ketika menyaksikan kejadian seperti itu ?. Atau bahkan jangan-jangan diri kita sendiri yang seperti itu ?, *duh.. *mudah-mudahan jangan sampai ya.

Sebagian besar orang menilai (terlebih lagi masyarakat tradisional) hasil dari pendidikan yang kita raih adalah sejauh mana kita semakin beradab, beretika, bertatakrama, dan semakin cerdas dalam mengendalikan emosi ?. Masyarakat akan tetap menganggap kita sebagai manusia yang kerdil secara kepribadian ketika kita tidak bisa bersikap dan berucap selayaknya manusia yang berpendidikan.

Saya tidak ingin mengatakan kalau orang yang berkata kasar, kotor, jorok atau menjijikan itu melanggar hukum. Saya juga tidak ingin *menjudge *mereka sebagai orang yang kurang cerdas dalam menjaga lidah, mulut, dan ucapannya. Saya akui kalau sayapun pernah seperti itu. Tapi, yang ingin saya sampaikan adalah satu cerminan yang kini membuat saya berpikir ulang untuk berkata kasar, jorok, kotor, menjijikan,  dan umpatan kata-kata makian yang merendahkan. Cerminan tersebut adalah sebuah pepatah lama :

Apa yang keluar dari mulut botol, itulah isi botol

Penerjemahan kasarnya adalah apa yang keluar dari mulut manusia itulah gambaran pribadi manusia tersebut.

Sekarang begini, kalau apa yang keluar dari mulut botol adalah air, sudah pasti isi botol tersebut adalah air, tidak mungkin minyak apalagi kecap. Kemudian, ketika yang keluar dari mulut seorang manuisia adalah kata-kata kasar yang dimakikan kepada orang lain seperti kata (maaf) “bodoh !”, “tolol !”, “bego !” dan lain sejenisnya, lalu bagaimana dengan isi kepribadian si orang tersebut jika diibaratkan botol tadi?. Silahkan sobat-sobat terjemahkan sendiri.

Okelah memang, kita manusia tidak bisa disamakan dengan botol (benda). Tapi kalau memang disitu ada pelajaran yang berharga, *why not *kita ambil itu sebagai cerminan untuk memperbaiki diri. Tidak ada yang salah kan ketika sebuah botol memberikan pelajaran kepada kita supaya menjaga mulut kita dari kata-kata kasar ?.

Demikian sobat, itu adalah salah satu pelajaran hidup buat kita dari sebuah botol. Masih banyak lagi tentunya hal-hal yang bisa kita jadikan cerminan hidup di dunia ini. Semoga kita dapat banyak menemukannya dan tidak pelit untuk membagikannya.