Sebelum membaca lebih jauh tulisan ini, saya menyarankan kepada sobat untuk terlebih dahulu membayangkan seperti apa kira-kira bayangan sobat tentang sebuah negeri yang penuh kebahagiaan, penuh kedamaian, dan menenteramkan itu. Kemudian bayangkan juga kira-kira dimana ya letak negeri tersebut… Tidak perlu lama-lama cukup 3 menit saja.

Baik, jika sudah bisa sobat bayangkan, sekarang simpan dulu baik-baik bayangan tersebut. Sekarang ijinkan saya untuk sedikit berbagi kisah tentang sebuah negeri yang sejauh saya melangkah saya anggap bahwa inilah negeri yang paling bahagia itu.

Untuk datang ke negeri tersebut memang tidak mudah, diperlukan usaha dan semangat yang tangguh, setangguh masyarakat di negeri tersebut. Jangan membayangkan sobat dapat sampai dengan mudah ke negeri tersebut dengan menaiki pesawat terbang komersil ataupun halicopter carteran. Tapi tidak perlu khawatir, sepanjang perjalanan menuju negeri tersbut sobat akan disuguhi penawar hati yang luar biasa takjubnya, jika sobat benar-benar menikmati itu Insya Alloh sobat akan menyadari betapa luar biasanya kuasa Allah SWT.

Begitu sobat memasuki wilayah negeri tersebut, sobat akan disambut dengan kalimat :

Buyut nu dititipkeun ka Pu’un

Nagara satelung puluh telu

Bangawan sawidak lima

Pancar salawe nagara

Gunung teu meunang dilebur

Lebak teu meunang diruksak

Larangan teu meunang dirempak

Buyut teu meunang dirobah

Lojor teu meunang dipotong

Pondok teu meunang disambung

Nu lain kudu di-lain-keun

Nu ulah kudu di-ulah-keun

Nu enya’ kudu di-enya’-keun

Yang artinya kurang lebih :

Amanat yang dititipkan kepada Pu’un

Negara Tiga Puluh Tiga

Sungai Enam Puluh Lima

Gunung tidak boleh dihancurkan

Lembah tidak boleh rusak

Larangan tidak boleh langgar

Amanat tidak boleh dirubah

Panjang tidak boleh dipotong

Pendek tidak boleh diasmbung

Yang bukan harus harus dilainkan

Yang jangan harus dinafikan

Yang benar harus dibenarkan

Sebuah kalimat penyambut sederhana namun begitu luar biasa dampaknya kita masyarakat mematuhinya. Negeri yang saya maksud adalah Komunitas Warga Badui yang berada diwilayah Kabupaten Lebak, Banten. Kenapa saya menyebutnya negeri ?.

Bagi saya, Badui bukanlah sekedar komunitas suatu warga, bukan pula sekedar suatu suku apalagi primitif. Suku Badui malahan saya rasa jauh lebih beradab dibanding sebagian masyarakat modern saat ini yang katanya mengaku-ngaku bangsa yang beradab. Tidak percaya ?, mari kita coba telaah.

Apalah gunanya modernisasi kalau hal tersebut malah semakin mengarahkan manusia pada ketidaksabaran dan cenderung individualis, masyarakat Badui memang tidak modern, tetapi dalam ketidak modernannya mereka masih tetap bisa hidup rukun saling berdampingan dan tolong menolong.

Pembuktian Pola Alami yang Ilmiah

****Percaya atau tidak, di usia yang sudah menginjak 70 tahunpun warga Baduy masih sehat segar bugar, bandingkan dengan kondisi masyarakat (yang katanya) modern dengan usia yang sama, yang kebanyak sudah dihinggapi berbagai penyakit kronis. Hal ini tidak terlepas dari pola hidup masyarakat Baduy yang sangat alami, begitu dekat dengan alam, begitu bersahabat dengan lingkungan.

Bagi sobat-sobat yang pernah menginjakan kaki di tanah ulayat suku Badui mungkin sempat kaget ketika mau mandi dilarang menggunakan sabun, odol, sampo atau alat pembersih badan lainnya. Dan lebih kaget lagi ketika kita tahu, bahwa mereka telah melakukan itu seumur hidup. Tidak pelu mengerutkan dahi terlebih dahulu. Secara pola hidup, mulai dari makanan, lingkungan, dan kebutuhan primer maupun sekunder lainnya, masyarakat Baduy (terutama Baduy Dalam) jarang sekali berhubungan langsung dengan yang namanya zat kimiawi. Hampir semua aspek kehidupan sangat lekat dengan alam, dan logika sederhanapun bisa dipahami bahwa persoalan yang berasal dari alam maka dikembalikan kepada (oleh) alam, demikian juga yang bersumber dari kimia maka dikembalikan lagi kepada kimia. Mereka hampir bisa dipastikan tidak pernah terkontaminasi dengan zat kimia, jadi mereka tidak perlu lagi menggunakan bahan kimia.

Alasan lainnya kenapa semua orang tidak diperkenenakan memakai sabun, sampo, odol dan lain sejenisnya tadi adalah untuk menjaga lingkungan. Semua orang yang berada di lingkungan masyarakat Baduy melakukan rutinitas yang berhubungan dengan air seperti mandi dan mencuci itu semua dilakukan disungai, sungai-sungai ini lah yang menjadi hulu bagi puluhan bahkan ratusan sungai yang berada di wilayah Banten dan sekitarnya. Apabila mereka mandi atau mencuci dengan sabun disungai, maka itu akan mencemari sungai langsung dari hulunya, hulunya saja sudah rusak apalagi hilirnya ?. Sungguh luar biasa tingkat kesadaran dan kepedulian masyarakat Baduy, mereka tidak hanya memikirkan komunitas mereka, jauh dari sekedar itu mereka juga memikirkan kehidupan orang lain yang berada diluar komunitas mereka.

Mereka tidak sekolah, namun tindakan kepedulian mereka jauh lebih modern dari orang-orang yang bersekolah. Mereka tidak mengenal istilah reboisasi, tidak mengenal *Global Warming, *tidak mengenal istilah seremonial “penanaman sejuta pohon”, mereka hanya percaya bahwa mereka dititipi sebuah amanat (buyut) dan itu harus mereka patuhi seumur hidup,. Tidak ada aturan tertulis yang mengatur kehidUpan mereka, namun kesadaran yang membuat mereka tetap pada kondisi seperti saat ini.

Ketika masyarakat perkotaan dipusingkan dengan persolan lingkungan yang tidak sehat, masyarakat baduy masih bisa enjoy menikmati hidup penuh dengan ketenangan dan kedamaian, dengan kualitas lingkungan yang sangat sehat. Hal ini karena adanya kesadaran dan upaya bersama untuk tetap menjaga lingkungan, karena dampaknya juga akan dirasakan oleh diri sendiri. Berbeda dengan masyarakat perkotaan yang cenderung saling menyalahkan, banyak maling teriak maling, dan yang paling sering dijadikan sasaran adalah pemimpin tanpa masyarakatnya mau sadar diri juga.

Pemerintah Harus Belajar Dari Baduy

Apabila sobat memasuki kawasan Baduy dari arah Ciboleger, maka persis di depan gerbang memasuki kawasan Baduy (Baduy Luar) maka akan didapati sebuah prasasti yang dibuat oleh sebuah sekolah tinggi yang khusus mencetak para abdi negara, yaitu Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Pada prasati tersebut terpatri sebuah kalimat “BADUY BUKAN TANP PEMERINTAHAN, TETAPI…. PEMERINTAH HARUS BELAJAR DARI BADUY”. Yang membuat prasasti ini adalah sebuah lembaga pendidikan tinggi, ini artinya orang-orang sekelas profesorpun mengakui bahwa masyarakat Baduy mempunyai sistem pemerintahan yang berjalan dengan baik dan itu mampu menjaga stabilitas masyarakat Baduy. Apalah gunanya mengaku-ngaku negara demokrasi, apabila nyatanya negara seperti dalam ketidak teraturan.

Masyarakat Baduy dipimpin oleh seorang Puun, Puun yang memimpin terdiri dari 3 orang, ketiga-tiganya memiliki fungsi dan peranan masing-masing dan berkdeudukan di 3 kampung yang berbeda ;

  1. Kampung Cikeusik, Puun yang berkedudukan disini bertanggung jawab memelihara persoalan yang berhubungan dengan keyakinan
  2. Kampung Cibeo, Puun yang berkedeudukan disini bertanggungjawab  memelihara hubungan dengan masyarakat luar
  3. Kampung Cikertawarna, Puun yang berkedudukan disini bertanggungjawab mememlihara pembinaan dan kesejahteraan warga

Ketiga Puun tersebut tidk pernah berbenturan dalam mengurus tanggungjawabnya, apalagi benturan kepentingan pribadi. Semuanya berjalan beriringan dan saling melengkapi. Tidak ada Undang-undang ataupun aturan tertulis yang memandu kepemimpinan mereka, yang melandasi kepemimpinan Puun-puun tersebut adalah Buyut (Amanat) yang juga berkaitan erat dengan keyakinan, mungkin dari sinilah bisa dilihat betapa pentingnya keterkaitan keyakinan dengan pola kepemimpinan. Hal yang paling sederhana namun sangat berharga bahwa pola-pola pemerintahan masyarakat Baduy melahirkan gambaran “Pemimpin taat rakyat hormat”, dan itu adalah timbal-balik yang menguntungkan semuanya.

**Bersambung…
**

Baduy, Sebuah “Negeri” Yang Penuh Kebahagiaan (Bag. 2)

**
**