Kesabaran Tanpa Batasan yang Melahirkan Berjuta Senyuman

Sejauh mana ukuran kesabaran tidak ada satupun manusia yang dapat menetukan, setidaknya bagi manusia-manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsunya, karena sebetulnya kesabaran itu sendiri tidak mengenal batasan. Kesabaran dengan batasan adalah miliki mereka orang-orang yang berputus asa.

Berbicara masyarakat Baduy sangat berkaitan erat dengan masalah kesabaran. Istilah kesabaran juga memiliki hubungan erat dengan ketekunan, ketabahan, kesederhanaan, kebersyukuran dan kebijaksanaan. Dan itu semua sangat kental dengan masyarakat Baduy.

Hampir sebagian besar dari kita tahu dan percaya bahwa orang Baduy, khususnya Baduy Luar sering bepergian keluar daerah dan itu mereka lakukan dengan berjalan kaki ditambah lagi tanpa alas kaki, ini bukan sekedar berbicara kekuatan fisik apalagi ilmu-ilmu kebatinan. Tapi, disitu sangat jelas tergambar sebuah ketekunan dan kesabaran, mereka tidak menjadikan itu sebagai sesuatu beban tapi menikmatinya sebagai suatu nikmat dari yang Maha Kuasa akan kemampuan sebuah kaki untuk berjalan. Luar biasa… !

Puun yang tinggal di Cibeo yang memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam memelihara hubungan dengan masyarakat diluar komunitas suku Baduy memiliki salah satu orang kepercayaan, orang kepercayaan Puun di Cibeo adalah Ayah Mursyid. Ayah Mursyid ini pernah berkunjung ke Cikeas untuk menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan beliau melakukan itu dengan berjalan kaki dari Cibeo tanpa alas kaki untuk menemui Bapak Gede (sebutan warga Baduy terhadap Presiden) guna membicarakan berbagai hal. Ayah Mursyid ini dikenal cerdas walaupun tidak bisa membaca dan menulis.

Ada yang sanggup diantara kita untuk melakukan itu ?, ilmu pengetahuan apa yang membuat kita sanggup untuk melakukan itu ?. Sebetulnya mungkin kita juga sanggup namun kita sudah menyerah terlebih dahulu. Apa sobat berpendapat karena mereka sudah terbiasa ?, yupss… itu betul sekali, mereka terbiasa dengan sabar dan kita terbiasa dengan keyidaksabaran.

Itu adalah satu dari sekian banyak bukti bagaiamana kesabaran masyarakat baduy, apalah gunanya ilmu selangit kalau tidak memiliki kesabaran, ketekunan, kebersyukuran atau kebijaksanaan.

Apabila sobat berkesempatan bersilaturahmi ke komunitas Baduy, tidak perlu kaget jika sobat tidak menemukan orang-orang yang penuh dengan kegelisahan, terlihat pusing, stres atau bahkan berkeluh kesah. Selama berpapasan di jalan hingga ke perkampungan sobat akan disuguhkan keramahan dan senyuman yang luar biasa indahnya. Dan itu menyunggingkan senyuman-senyuman itu mereka tidak memerlukan setumpuk uang berlipat, rumah bertingkat, atau mungkin mobil yang mengkilat.

[![Masyarakat Baduy yang Penuh Senyuman](https://blog.rosid.net/content/images/2011/03/Baduy-Penuh-Senyuman.jpg "Baduy Penuh Senyuman")](https://blog.rosid.net/content/images/2011/03/Baduy-Penuh-Senyuman.jpg)
Masyarakat Baduy yang Penuh Senyuman
Hampir setiap harinya (kecuali pada masa Kawali – waktu larangan bagi masyarakat Baduy untuk menerima tamu), selalu ada saja masyarakat yang datang mengunjungi masyarakat Baduy. Namun sama sekali mereka tidak pernah merasa terganggu dan tetap menerima tamu dengan hangat, ramah dan tidak mengada-ngada. Bayangkan, jika setiap harinya ada yang berkunjung bertamu kerumah sobat selain begitu menginap lagi. 🙂

Kesederhanaan yang Berwujud Pada Kearifan dan Kebijaksanaan

Sungguh luar biasa kesan yang didapat dari kehidupan masyarakat baduy, bagaimana cara memperlakukan alam sulit ditemukan dikehidupan masyarakat kita umumnya, sehingga kita bisa benar-benar bersahabat dengan alam. Sampai saat ini dan mudah-mudahan tidak pernah terjadi, belum pernah terdengar ada longsor di sekitar tanah ulayat masyarakat Baduy, kebanjiran atau bahkan *ilegallogging, *ini adalah salah satu bukti bahwa mereka benar-benar memperlakukan alam dengan bijak, sehingga alampun dengan senang hati bersahabat dengan mereka.

Kesederhanaanlah yang membawa mereka menjadi demikian, rasa syukur yang tinggi terhadap yang Maha Kuasa atas apa yang mereka miliki mampu mengendalikan diri dari segala hal kebutuhan yang menurut mereka tidak terlalu penting. Mereka tidak pernah meminta lebih, rasanya masyarakat Baduy betul-betul memahami bahwa “Tuhan memang tidak langsung mengabulkan setiap apa yang kita inginkan, tapi Tuhan telah memberikan apa yang kita butuhkan” selanjutnya tinggal sejauh mana kita memaksimalkan apa yang telah Tuhan berikan. Dan disadari atau tidak masyarakat Baduy sepertinya masyarakat Baduy sedang melakukan itu.

Bagaimana dengan kita,  sudahkah kita memaksimlkan apa yang Tuhan berikan ?, kalau belum… layakkah kita meminta yang lainnya ?

  • Dengan konsistensinya pada amanat, masyarakat Baduy menemukan ketertiban….
  • Dengan kepatuhannya masyarakat kepada Puun dan bertanggungjawabnya Puun kepada masyarakat, Warga Baduy menemukan sebuah ketenteraman…
  • Dengan bijaksananya masyarakat Baduy dalam memperlakukan alam, merekapun menemukan sebuah kedamaian….
  • Dengan bersikap sabar dan sederhana dalam hidup, masyarakat Baduy telah menciptakan sebuah kebahagiaan….

Ternyata kebahagiaan itu sepertinya mudah dan murah, atau bahkan gratis. Tapi kenapa ya sepertinya kita untuk bahagia itu malah mahal ???… Mungkin kita harus lebih belajar banyak lagi pada masyarakat Baduy, yang telah mampu mencipatakan “Negeri Bahagia”. 🙂