Kalau kita bertanya, apa yang membuat sesorang menyukai baju yang berwarna putih ?, alasannya bisa dengan mudah kita tebak yaitu, bersih, rapih, terlihat sederhana tapi elegan, menyimbolkan kesucian, dan lain sejenisnya. Kemudian ketika kita bertanya apa yang membuat seseorang tidak menyukai baju yang berwarna putih ?, maka dengan mudahnya pula kita bisa menebak satu alasan yang paling populer, yaitu mudah kotor.

Orang yang memilih baju putih memiliki kecenderungan akan lebih berhati-hati supaya tidak mudah kotor. Dan dengan berwarna putih juga bisa dengan mudah melihat bajunya (yang mengena pada dirinya) kotor atau tidak, dan begitu terlihat kotor maka ia lekas membersihknnya karena ia malu kalau pakaian kotor tersebut terus dipakai, selain itu juga demi menjaga kesehatan. Kebersihan yang ada pada bajunya benar-benar bersih dan bisa dilihat secara kasat mata.

Kemudian, orang yang tidak menyukai baju berwarna putih dengan satu kekhawatiran mudah terlihat kotor, ia tidak terlalu apik dan berhati-hati agar pakaiannya tidak mudah kotor. Kotor-kotor sedikit tidak apalah, yang penting tidak terlihat kotornya, dan oleh karena itulah tidak memilih baju berwarna putih dengan satu kekhawatiran tadi. Kebersihan yang ada pada bajunya tidak bisa dijamin benar-benar bersih, karena setitik – dua titik noda kadang tidak bisa dilihat oleh kasat mata, dan itu biasa menjadi maklum.

Kalau jabatan tersebut diibaratkan baju, yang putih apa yang gelap yang kita inginkan ?.

Jabatan yang berwarna putih, itu artinya jabatan tersebut benar-benar harus dijaga sebaik mungkin agar tidak ada cela yang melekat padanya. Setiap ada kesalahan yang menjadi noda harus segera dibersihkan, karena kalau tidak kita harus bersiap menjadi bahan tertawaan dan cibiran orang-orang yang melihat noda (aib) pada baju (jabatan) tersebut.

Jabatan yang berwarna gelap. Saya tidak yakin ini sebuah amanah, ini lebih identik diduduki dengan penuh obsesi. Segala cara dilakukan demi menggapai dan mendudukinya. Mustahil rasanya sebuah jabatan yang diraih tidak secara amanah bisa dikenakan layaknya baju putih. Jabatan yang diduduki dengan cara sekehendak hati tidak ubahnya baju yang berwarna gelap. Orang yang memakainya (mendudukinya) tidak terlalu peduli terhadap kebersihan dan kerapihan, apalagi kesuciannya.

Jabatan yang berwarna gelap ini sengaja ditempuh supaya begitu ada kotoran yang nempel tidak terlalu terlihat, meskipun kotornya kadang sudah bukan main.

Jabatan yang berwarna putih begitu dicuci (dibersihkan) maka kotorannya tidak terlalu banyak, air (petugas) pembersihnya tidak terlalu kesulitan. Saat kotor sedikit saja, langsung disalin dan dibersihkan, jadi akumulasi  kotornya tidak terlalu banyak, bahkan mungkin tidak ada.

Jabatan yang berwarna gelap begitu dicuci (dibersihkan) maka barulah terlihat betapa kotornya. Membuat sangat keruh air (petugas) pembersihnya. Ini terjadi karena tidak ada kepedulian begitu ada noda-noda kecil yang mengotori jabatan tersebut, tidak terasa noda-noda yang kecil tersebut menjadi banyak dan membandel.

Jadi, buat yang sedang menduduki jabatan. Anggaplah jabatan yang sedang diduduki saat ini sebuah baju berwarna putih yang harus dijaga kebersihan, kerapihan, dan kesuciannya. Setiap pengabaian terhadap kesalahan yang akan menjadi noda akan menyulitkan semua pihak dan diri sendiri ketika harus membersihkannya.

Kemudian untuk yang menduduki jabatan hasil super obsesi, tidak perlu khawatir, belum terlambat untuk membersihkan bajunya meskipun mungkin tidak akan menjadi baju berwarna putih. Jadikanlah baju (jabatan) yang terlanjur berwarna gelap saat ini tetap terjaga kebersihannya, jangan biarkan banyak noda semakin mempergelap baju (jabatan) -nya.

Sekian, semoga Allah terus membimbing kita menjadi umat yang amanah.

Baju Putih, Baju Gelap, dan Jabatan