Sewaktu anak belum lahir, saya dan istri sempat punya rencana membuatkan beberapa akun media sosial untuk anak. Termasuk kanal YouTube. Isinya, tentu saja tentang perjalanan dan keseharian dia sendiri. Mulai dari bayi, sampai kelak bisa dia kelola sendiri.

Latar belakang kami yang sama-sama blogger dan sosial media geek banget (saat itu) menjadi pendorong utama untuk membawa kehidupan anak ke dunia maya.

Setelah dia lahir, akun-akun atas namanya langsung diamankan. Termasuk mengamankan domain yang sesuai dengan namanya.

Baru sempat upload beberapa foto di akun Instagramnya, rencana langsung diputarhaluan. Akun media sosial dan blog yang sudah dibuat akhirnya kami hentikan hanya sebatas dibuat. Tidak diisi lebih lanjut.

Berdasarkan hasil beberapa kali diskusi, masukan dari teman-teman, dan tentu saja pertimbangan akhir kami, kami putuskan untuk tidak "mengeksiskan" anak kami di media sosial lebih lanjut. Tidak lebih dari sesekali "nyempil" kalau saya atau istri upload foto keluarga.

Kenapa akhirnya sampai dibatalkan?

Baik, saya coba uraikan satu persatu.

Belajar Menjaga Privasi Anak

What People Really Do On Facebook
Orang jahat ada di mana-mana, apalagi di internet. (Photo by Glen Carrie / Unsplash)

Ya, sebagai orang tua baru, kami harus mulai peka dengan ini. Kami harus sadar, bahwa anak mempunyai hak privasi yang harus dijaga. Apalagi ketika dia belum bisa menjaganya sendiri.

Jangan sampai kami yang terbiasa dengan dunia internet malah menyeret anak kami ke dunia virtual di saat yang belum layak.

Seharusnya, pengetahuan kami tentang dunia internet bisa menjadi wawasan bagi kami dalam mengendalikan perilaku kami dan anak terhadap internet. Bukan kami dan anak yang dikendalikan internet.

Kadang kita tidak sadar, bahwa di dunia maya ada begitu banyak mata-mata jahat yang mengamati semua hal tentang diri dan keluarga kita dengan segala niat buruk dan super buruknya.

Kami pikir, biarlah konsekuensi itu terhenti pada diri kami (sebagai orang tua) yang datanya di internet tidak ada jaminan aman, bahkan mungkin sudah tersebar, baik karena tangan kami sendiri maupun karena ulah pihak lain.

Anak Belum Tentu Setuju

Girl Power
Kalau ternyata nanti dia tidak suka bagaimana? waktu tidak bisa diulang loh! (Photo by Isaiah Rustad / Unsplash)

Anggaplah saya telah mengunggah banyak hal tentang keseharian anak di internet. Kemungkinan yang terjadi di masa mendatang, bisa saja dia merasa nyaman dan menikmatinya, atau justru malah sebaliknya, dia tidak terima masa kecilnya diekspos habis di dunia maya. Masa di mana dia belum bisa menilai bahwa itu baik atau buruk menurut pemikirannya saat ia sudah dewasa.

Kami sangat khawatir dengan ini.

Apalagi kalau dia sampai punya anggapan bahwa kami orang tua yang buruk. Seolah telah melakukan eksploitasi. Perlu digarisbawahi, saya tidak sedang menyebut Anda yang melakukan hal ini sedang mengeksploitasi anak Anda, tapi, sekali lagi saya ingin katakan; saya khawatir kelak anak saya mengatakan itu pada saya dan istri saya.

Saya dan istri akhirnya berkesimpulan; biarlah kelak menjadi keputusannya sendiri untuk masuk atau tidak ke dunia maya, dengan catatan dia memahami betul risikonya (mudah-mudahan kami bisa membimbingnya dengan baik) dan secara syarat platform juga sudah mencukupi.

Belum Memenuhi Persayaratan

Padahal belum cukup umur, tapi malah dibuatkan dengan memanipulasi tanggal lahir. (Photo by Kelli McClintock / Unsplash)

Kita tahu, hampir semua media sosial memiliki persyaratan kecukupan usia. Hanya saja, persyaratan dasar ini masih banyak diabaikan, terutama oleh orang tua. Entah karena membang benar-benar tidak tahu, atau mungkin tidak peduli.

Sebagai contoh, Facebook dan Instagram disediakan untuk orang berusia di atas 13 tahun (atau usia minimal resmi di negara tertentu), lalu bagaimana bisa ada anak yang masih duduk di bangku SD memiliki akun di media sosial tersebut?

Belantara internet sangat mengerikan. Banyak hal baiknya, tidak sedikit juga hal buruknya. Itulah mengapa persyaratan usia diperlukan. Yang usianya cukup saja bisa tersesat, apalagi yang belum cukup?

Netizen itu kejam? kadang (malah seringnya) iya!

Masih ingat, ketika kanal Youtube seorang anak di-bully habis oleh netizen?

Begitulah jahatnya netizen, mereka kadang tidak peduli siapa yang dia komentari dan bagaiman respon kejiwaan yang dikomentari.

Kita yang sudah dewasa saja bisa down berhari-hari, apalagi anak-anak yang masih sangat labil dan rapuh?

===

Itulah, beberapa sebab yang membuat saya dan istri akhirnya batal 'meroketkan' anak di media sosial.

Lalu bagaimana dengan akun-akunnya.

Ada yang ditutup, ada juga yang "diamankan". Terutama domain. Anggaplah kami investasi aset digital untuknya di masa depan, apalagi semakin ke depan untuk mendapatkan nama domain akan semakin sulit.