Seringkali catatan buruk masa lalu proses hidup kita menghantui hingga saat ini, tidak jarang setiap bayang-bayang keburukan atau kesalahan tersebut muncul malah menghambat kita untuk maju dan berubah menjadi lebih baik seperti yang diharapkan.

Mengenai hal tersebut, mungkin kita perlu menyikapinya dengan belajar seperti seorang sopir atau pengemudi. Belajar hidup seperti sopir bukan berarti kita mengikuti segala  jalan kehidupannya dan juga bukan berarti kita harus jadi sopir betulan. Maksud dari judul diatas adalah sebuah gambaran perumpaan kalau ternyata aktivitas rutin profesi seorang sopir atau pengemudi tersebut ternyata mempunyai pesan moral yang cukup positif, antara lain :

Tidak Banyak Melihat Kebelakang

Seorang sopir harus fokus kedepan, pandangannnya menatap penuh konsentrasi. Tidak dibenarkan ia banyak melihat kebelakang karena itu akan membahayakan dirinya dan juga penumpang (jika ada). Boleh ia melihat ke belakang, itupun hanya sesekali atau dalam kondisi tertentu, dan itu juga kadang tidak langsung melainkan atas bantuan spion.

Gambarannya adalah bahwa dalam menjalani hidup kitapun harus fokus dan konsentrasi selalu. Konsentrasi bisa berarti macam-macam, baik itu dalam bekerja, belajar, maupun muhasabah diri. Kita juga tidak perlu atau bahkan tidak boleh banyak memikirkan apa yang sudah terjadi dan terlewati, tetapi memang kita wajib dalam keadaan dan situasi tertentu untuk merenungkannya.

Tujuan kita dalam sesekali melihat kebelakang atau masa lalu dalam hidup tidak lain adalah sebagai bahan renungan untuk evaluasi diri, atau mengambil hikmah dan pelajaran supaya hal tersebut tidak terulangi lagi. Itupun tidak boleh setiap waktu, karena akan menghambat produktifitas kinerja tenaga dan pikiran kita. Bisa dilakukkan saat menjelang tidur, sehabis sholat, ataupun dalam 1/3 malam. Evaluasi atau pelajaran atas sebuah kesalahan tidak hanya diambil dari perjalanan hidup kita, tapi juga kita bisa mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain agar tidak dilakukan oleh kita.

Biarlah apa yang sudah terjadi menjadi catatan amal perbuatan kita dihadapan Allah SWT. Yang pasti pada langkah selanjutnya minimal kita berbuat tiga hal ;

  1. Meminta ampunan kepada Allah yang maha kuasa atas kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Dan juga meminta supaya diri kita dijaga dari perbuatan yang menghinakan kita baik dihadapan manusia maupun dihadapan Allah SWT.
  2. Berusaha untuk tidak mengulanginya jika itu memang sebuah perbuatan yang buruk. Kita memang tidak bisa menjamin diri untuk tidak mengulanginya, tapi paling tidak dengan berusaha**untuk tidak mengulanginya merupakan langkah awal sebagai sebuah jaminan.
  3. Memperbaiki diri agar menjadi jauh lebih baik dan berganti jalur atau arah supaya kita tidak didekatkan kepada kesalahan-kesalahan baik yang pernah dilakukan maupun yang belum dilakukan.

Mematuhi Ramu-rambu

Banyak rambu-rambu yang berderet di sepanjang jalan, baik jalan arteri maupun jalan tol. Rambu-rambu tersebut ada untuk menjadi panduan bagi para sopir atau pengemudi dengan tujuan memberikan keselamatan bagi para pengguna jalan. Berapapun usia seorang sopir, dari golongan dan kasta apa ia dilahirkan, apapun pangkatnya, semuanya harus tunduk pada rambu-rambu lalu lintas.

Demikian halnya dengan kita, dalam hidup kita diberikan banyak rambu-rambu baik itu rambu-rambu agama, rambu-rambu adat, maupun rambu-rambu negara. Perkara dari berbenturan atau tidak hubungan antar rambu-rambu tersebut, saya yakin masing-masing rambu-rambu mempunyai peran untuk memberikan keselamatan pada kita sesuai jalur yang dipasangi rambu-rambu tersebut. Misalnya, ketika kita hidup bernegara maka rambu-rambu negara itulah ada untuk menjaga keselamatan warga negaranya. Kemudian ketika hidup beragama, maka rambu-rambu agama itulah ada untuk menjaga keselamatan umatnya. Memang akan lebih nyaman lagi kalau satu sumber rambu-rambunya bisa berfungsi dengan baik tanpa gesekan di semua jalur. Sehingga tidak terlalu banyak rambu-rambu yang harus kita hapal.

Rambu-rambu hidup atau yang disebut aturan hukum ini wajib dipatuhi oleh siapapun tanpa pandang bulu, semua sama ketika dihadapkan di muka hukum. Ketika ada satu saja yang tidak sama kedudukannya dimuka hukum ini akan berakibat seperti seorang sopir yang nekat tetap melaju saat lampu merah menyala, bahaya dan mencelakakan. Celaka bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.

Kesimpulan

Sobat, disini saya baru bisa menguraikan dua pelajaran dari profesi kerja seorang sopir. Yaitu, tidak banyak melihat kebelakang dan mematuhi rambu-rambu. Insya Allah, sebetulnya masih banyak pelajaran yang bisa kita gali. Namun, intinya kurang lebih kita bisa menyimpulkan bahwa itu semua (tidak banyak melihat kebelakang dan mematuhi rambu-rambu) dilakukan supaya kita bisa selamat dan berhasil mencapai tujuan yang dimaksud.

Upaya menjaga keselamatan disini bukan hanya untuk diri sendiri, kalau ibaratnya seorang sopir membawa penumpang maka itu adalah gambaran kita membawa keluarga, saudara, masyarakat, atau umat yang harus kita jaga juga keselamatannya, sesuai dengan peran kita disitu yaitu sebagai pemimpin.

Jadi, fokus dan konsentransilah terus ke arah tujuan yang akan kita tuju dengan mematuhi segala aturan yang berlaku, biarlah apa yang sudah dilewati menjadi cerminan evaluasi kita untuk menjadi lebih baik. Insya Allah apa yang kita maksud akan tercapai. Amin… 🙂

Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangannya, semoga bermanfaat…