Tanpa HandphoneKetika kita sudah begitu dekat dengan sesuatu, baik itu barang maupun makhluk hidup, rasanya hal yang menjadi terberat dalam hidup adalah kehilangan hal-hal tersebut. Kalau kita tarik masa waktu kebelakang, masa dimana hal-hal tersebut (barang atau makhluk hidup) belum dekat dengan kita, sepertinya kita merasa biasa saja dan kehidupan tetap dijalani dengan normal.

Dua bulan yang lalu, tepatnya 14 April 2011. Ponsel *butut *saya yang pada saat itu menjadi salah satu barang terpenting ikut berenang dengan rendaman celana yang akan di cuci. Teledor sekali memang, tapi itulah manusia. Sudah teledeor, masih saja lagi marah-marah sendiri karena ulah sendiri. Lengkaplah sudah kebodohannya.

Kesalnya bukan main, karena disaat keadaan dompet yang kulit ketemu kulit, yaitu kedua sisi kulit dompet yang tidak terpisahkan oleh sekat yang bernama *pulus, *saya diharuskan ganti ponsel. Setelah ganti ponsel dengan yang lebih *butut * (yang penting nyambung cooooyy…) tiba-tiba ide buruk nyasar di kepala saya ; Kalau bikin program 30 hari tanpa handphone kira-kira gimana ya ?. Perasaan saya rasanya langsung berontak ; *Gak mungkin bos, berat ituu… !!!. *Antara yakin dan setengah hati, setelah dipikir-pikir dan gau kelamaan mikir, okelah saya coba.

Dihari pertama percobaan, beratnya bukan main neeeh. Tangan gatal mulu pengen mencet-mencet keyboard, penasaran pengen tau informasi dan kabar kawan-kawan, hahhhh…. saya yakin deh sobat-sobat lebih tau gimana rasanya gak pake handphone sehari saja.

Sebelum bercerita lebih jauh, perlu diketahui sedekat apa hubungan saya dengan  ponsel saya.

Pertama, Saya bekerja pada salah satu provider layanan internet, dan didalam handphone tersebut terdapat kurang lebih 40 nomor pelanggan yang setiap harinya selalu ada saja yang menghubungi saya atau mereka yang harus saya hubungi. Selain itu juga ponsel tersebut merupakan sarana penunjang komunikasi saya dengan rekan-rekan di pekerjaan.

Kedua, handophone adalah sarana satu-satunya untuk komunikasi saya dengan ibu di kampung, selain saya yang pulang kampung atau ibu yang data dari kampung.

Ketiga, saya mulai aktif di Komunitas Bloger Benteng Cisadane (KBBC) yang mau tidak mau seharusnya saya menggunakan ponsel untuk komunikasi antar member komunitas.

Keempat, untungnya saya sudah tidak aktif lagi di jejaring sosial via handphone, semisal Nimbuzz, Mig33, Morange dan lain sejenisnya.

Setelah berjalan satu minggu, saya mulai terbiasa, dan bahkan saya sangat bisa menikmatinya, bisa dibilang malas rasanya untuk menggunakan ponsel kembali. Setelah sampai 1 bulan, sayapun memutuskan untuk menambah 1 bulan lagi puasa handphone-nya. Keuntungannya sebagai berikut :

  1. **Tidur nyenyak dan kadang sering bablas, ini yang paling sangat terasa. Biasanya saat tidur ada bunyi berdering dari satu alat segede 3 jari, kini enggak lagi. Baik itu alarm maupun SMS atau panggilan telepon dijamin say goodbye. Dengan kata lain, *gak *ada yang mengganggu hari-hari kita.
  2. Budget belanja pulsa *gak *kepakai. Yang biasanya sehari lebih dari 10 ribu, sekarang enggak lagi, tapi itu gak ngejamin isi kantong utuh, karena meskipun gak beli pulsa anehnya masih aja boros. Mungkin lebih tepatnya uang jatah pulsa jadi alih fungsi.
  3. Kuping lebih adem, solanya gak “disengat-sengat” oleh panasnya handphone ataupun headset yang terus aja nempel di kuping.
  4. Punya banyak waktu untuk istirahat, mungkin ini sisi lain dari “puasa nelepon”. Meskipun punya banyak waktu lebih untuk istirahat, inipun gak ngejamin kalau kita bisa istirahat, karena soal waktu lebih kepada kita bagaimana mengaturnya, mana untuk kerja, aktivitas, istirahat, ataupun bersantai.
  5. Gak dibuat kesal disaat terjadi gangguan jaringan, gimana mau kesal, pake sinyalnya aja kagak !. Gak dibuat kesal juga sewaktu baterai lowbate (ya iya laaaaaaaaaaah… secara, HP-nya udah dibius duluan).

Itu adalah sisi keuntungannya, tapi jangan salah. Sisi kerugian dan masalahnya juga ngejublek.

  1. Siap-siaplah kita diomelin oleh orang lain, baik itu teman, atasan, saudara, atau bahkan pasangan. Untungnya saya belum punya pasangan.
  2. Kalau Anda sedang ikut serta dalam suatu lomba atau ajang kompetisi yang mengharuskan sobat menggunakan handphone, siap-siap saja digugurkan meskipun jadi pemenangnya.
  3. Insya Allah, akan ditinggalkan oleh banyak rekanan bisnis Anda.
  4. Disaat darurat yang membutuhkan bantuan orang lain, Anda harus berjuang sendirian karena tidak dapat menghubungi siapapun.
  5. Yang lain foto-foto pake handphone di satu momen, kita cukup numpang di foto aja ya.
  6. Dan lain hal yang bisa menggoyahkan konsistensi sobat untuk tidak menggunakan handphone.

Sampai tulisan ini diposting, saya sudah sangat merasa nyaman tidak menggunakan ponsel. Yang membuat saya tidak tahan adalah saya harus menghadapi berbagai keluhan orang-orang baik yang tidak dapat menghubungi saya. Dan pada akhirnya saya juga harus menjadari, bahwa kita tidak bisa hidup sendiri, dan itu adalah makna lain dari “komunikasi”.

Selama 60 hari saya berusaha belajar untuk kehilangan kontak komunikasi dengan semua orang yang nomor handphonenya tersimpan di daftar kontak saya. Suatu saat saya akan kehilangan yang sesungguhnya, tapi sebelum kehilangan yang sesungguhnya saya ingin lebih memahami betapa berharganya nilai komunikasi yang dapat mempererat silaturahmi diantara kita semua. Jadi, mulai saat ini saya harus lebih bijak dalam berkomunikasi. Tidak boleh berlebihan dalam memanfatkan fasilitasnya karena kelak belum tentu kita sanggup dan tegar untuk kehilangan, tetapi juga tidak boleh terputus jalinannya karena kelak kita akan butuh pertologan.