Di hari pertama puasa kemarin Allah SWT memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga buat saya. Sehabis kumpul sama teman-teman di Komunitas Topi Bambu untuk liputan acara di salah satu stasiun televisi, saya sedikit bingung. Waktu menunjukan sekitar pukul 4 sore lebih 25 menitan, masih ada 1 jam setengah lebih sampai waktu berbuka, ngabuburit kemana ya kira-kira ?. Daripada menghabiskan waktu tidak karuan, akhirnya saya lebih memilih* ngabuburit* di mesjid saja, kebetulan saya juga belum sholat Ashar jadi bisa sekalian sholat disana.

Usai sholat, saya duduk santai diselasar lantai dua masjid, sambil memandangi hiruk pikuk di jalanan. Ada satu pemandangan yang menarik, yaitu banyaknya anak-anak kecil yang mondar-mandir menjajakan makanan dan minuman untuk berbuka. Sekalian ingin tahu sedikit tentang mereka, saya beli satu bungkus kue getuk yang masih hangat, dan satu bungkus es teh manis. Luar biasanya ternyata hampir semua dari mereka masih rajin bersekolah dan puasa.

Apa yang saya lihat memang bukanlah sesuatu yang baru, bukan pula sesuatu yang aneh. Tapi memang biasanya dari sesuatu yang tidak aneh tersebut sebetulnya terdapat pelajaran yang sangat berharga. Persitiwa sore hari menjelang buka tersebut mengingatkan saya pada adik-adik saya dulu, yang harus “belajar memutus urat gengsi” dari semenjak usia dini. Masih ingat betul dalam benak saya, setiap berangkat sekolah selain harus menggendong tas, adik saya juga haris menjinjing dua termos es yang berisi bungkusan-bungkusan es “mambo”, itupun bukan buatan sendiri, melainkan punya tetangga yang memang dirumahnya punya lemari es, lumayanlah… 1 bngkus es mambo dapat lebihnya 25 rupiah.

Berat memang untuk memulai perjalanan proses hidup seperti itu, tapi akan jauh lebih berat lagi jika kita tidak melakukannya. Percaya atau tidak, dalam keadaan seperti itu dapat terus mengalir senyuman yang terus terpancar selama kita tidak berkeluh kesah. Satu bungkus es mambo terjual, rasa senang mulai terpancar. Dua, Tiga, Empat, Sepuluh, Dua puluh, apalagi sampai habis semua terjual, sungguh hari yang membahagiakan.

Pernah satu ketika saya tak tahan ingin menangis, ketika melihat adik saya pulang sekolah dengan keadaan lesu (tapi tidak menangis), karena es yang terjual hanya 2 buah, di hari tersebut tenyata cuaca sedang kurang bersahabat. Saya tahu itu sesuatu yang biasa dan lumrah, tapi saya benar-benar terharu dengan ketegaran adik saya.

Semangat ceria anak-anak kecil di depan mesjid benar-benar sebuah pelajaran yang begitu berharga, dalam kondisi perut yang kosong, cuaca yang lumayan terik meskipun sudah sore, mereka masih tetap semangat untuk berburu rizki dengan cara yang halal. Sama sekali tidak terpancar keluhan, rasa kecewa, apalagi putus asa.

Perjuangan mereka benar-benar tidak lagi mengenal kata gengsi. Baginya gengsi hanyalah penghambat, pribadi manja dan malas. Bagi mereka “kita tidak bisa hidup dengan kata gengsi”. Jangan beri ruang pada gengsi, karena kita tidak memakan gengsi. Kegigihan mereka mengingatkan saya pada satu pepatah yang mengatakan ;

Kesalahan terbesar mengenai pengangguran adalah karena banyaknya orang yang mencari uang, bukan mencari pekerjaan.

Pekerjaan itu banyak, dan kalau kita mengerjakannya dengan tetap berpegang teguh kepada Allah SWT, inysa Allah tidak akan sia-sia. Rasa gengsi itu pula yang menjadi salah satu pemicu terbesar banyaknya “Pengangguran”. Padahal menurut defini Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri ;

**Menganggur : **Tidak melakukan apa-apa; tidak bekerja

Jadi, jika saja kita menegaskan diri untuk memutuskan urat gengsi dari hidup kita, insya Allah kita tidak lagi menganggur. Lakukanlah pekerjaan apapun selama itu halal, niatkanlah segala jerih payah kita untuk yang Maha Pemberi rizki, bukan untuk uang, karena hakekatnya uang (rizki) hanyalah efek dari keadaan, perbuatan, dan usaha kita, bekerjalah untuk yang memberikan efek tersebut. Wallahualam…