Bagi sebagian orang, mempercayai adalah salah satu hal tersulit dalam hidup. Setidaknya bagi mereka yang pernah dikecewaan oleh yang namanya kepercayaan. Apapun itu yang melatarbelakanginya.

Sebelumnya saya tidak pernah tahu kalau mempercayai adalah bagian dari sesuatu yang harus dipelajari, sampai kemudian baru sadar kalau ternyata selain mereka yang pernah dikecewakan oleh kepercayaan, adapula “barisan” lain yang begitu sulit untuk memberikan rasa percaya, yaitu orang-orang yang pernah berbuat kesalahan bersama dengan orang yang harus dipercayainya.

Semakin merasa masih bodoh ketika kemudian saya baru menyadari juga ; bukankah untuk mempercayai Agamapun kita harus mempelajari agama tersebut ?

Belajar percaya memiliki banyak maksud, misalnya :

  • Mempelajari dan berusaha memahami apa yang akan dipercayainya, sehingga dapat memutuskan kesimpulan apakah layak dipercayai atau tidak.
  • Mencoba untuk bisa percaya, setidaknya untuk sementara waktu sambil berproses dan mengamati. Kemudian tidak sungkan untuk menutup rasa percayanya ketika proses mencoba untuk percaya tersebut malah semakin dipenuhi rasa tidak percaya.
  • Mengevaluasi rasa percaya sebelumnya untuk memberikan rasa percaya pada momen selanjutnya, dengan harapan tidak lagi tercebur kedalam kekecewaan yang sama.

Dari ketiga maksud diatas, mana yang pernah kita lakukan ?

Untuk poin kesatu, ini menjadi perlu ketika kita berusaha sebisa mungkin untuk meminimalisir rasa kecewa dikemudian waktu, dan kita harus siap untuk itu, kecuali mempercayai Allah SWT, karena Ia tidak mungkin mengecewakan rasa percaya kita.

Kalimat terakhir di paragraf di atas juga lahir dari sebuah rasa percaya.

Lubangpun tidak ingin dimasuki oleh keledai yang sama

Untuk poin yang kedua, yakinkah sanggup atau pernah melakukannya ?. Kalau pernah, pasti sudah tahu bagaimana rasanya. Kalau belum, sepertinya tidak disarankan untuk mencobanya. Kecuali jika sudah mampu membayangkan kemungkinan terburuk (rasa kecewa) yang akan terjadi, dan Anda siap (juga benar-benar tegar) ketika apa yang tidak diinginkan itu terjadi. Tapi sekali lagi, lebih baik tidak mencobanya, karena kenyataan bisa tidak lebih baik ataupun sama dengan yang kita bayangkan.

Pada poin yang ketiga, inilah gambaran kalau sepertinya peribahasa *“Keledaipun tidak ingin masuk ke lubang yang sama” *layak dimodifikasi menjadi “*Lubangpun tidak ingin dimasuki oleh keledai yang sama”. * Semisal setan yang bergelar ‘S1’ sudah berhasil menggoda pengikutnya hingga lulus ‘S2’, kemudian setan penggoda tersebut tidak ingin diikuti lagi oleh makhluk yang selama ini digodanya. Ilmu kesetanannya sudah kalah tinggi oleh ‘didikannya’.

Claude M Bristol menulis sebuah buku yang berjudul “The Magic of Believing”. Dalam bukunya ia menjelaskan bahwa ada satu untaian umum yang terjalin di banyak budaya dan agama yang ia investigasi. Semua orang, baik primitif atau beradab, telah melahirkan filosofi tertentu yang merupakan pusat budaya mereka. Orang dari segala usia telah dianggap berasal dari gagasan bahwa ; jika Anda percaya bahwa sesuatu akan terjadi, itu akan terjadi. Ini adalah kekuatan keyakinan yang menyebabkan hal-hal terjadi dalam hidup kita.

Kebanyakan orang mendefinisikan kepercayaan sebagai keyakinan batin, perasaan kepastian tentang sesuatu yang berarti. Seperti sesuatu yang kita sayangi dan begitu berakar dengan sangat dalam. Rasa percaya akan meliputi (juga mempengaruhi) mental dan emosional. Karena ia begitu tertanam dalam pikiran dan hati.

Rasa Percaya Mempengaruhi Tindakan

Saya adalah orang yang merasa percaya jika rasa percaya dapat mempengaruhi tindakan. Misalnya begini ; jika kita percaya pada penyebab, kita akan berjuang untuk itu. Jika kita percaya pada agama kita, kita akan menjalaninya. Jika percaya pada orang lain, kita akan mendukung dan mengangkat mereka. Rasa percaya mendorong kita, ia seperti sebuah akar dari tujuan dan tindakan.

Sejarah penuh dengan orang-orang terkenal yang percaya pada konsep atau sesuatu yang menjadi penyebab mereka untuk mencapai hal-hal luar biasa dalam hidupnya.

Mempercayai Orang yang Pernah Berbuat Kesalahan Bersama

[one_half]Alih-alih membahas masalah kepercayaan soal agama, saya malah melompat ke masalah hubungan saling percaya antar manusia. Tidak apalah, *toh *memang ini salah satu hal yang juga saya anggap penting dari postingan ini.

Ada dua orang pencuri yang sudah berteman lama. Keduanyapun tidak hanya berteman dengan status profesi sama-sama pencuri, tapi juga pernah dan bahkan sering melakukan kejahatannya bersama-sama

“Belajar untuk percaya adalah salah satu tugas yang paling sulit dalam hidup”

Isaac Watts (Politikus Inggris, 1674 – 1768e)

Pertanyannya adalah : Jika salah satu dari mereka (sebut saja si A) kemudian memiliki sebuah rumah dengan beberapa barang berharga di dalamnya. Bisakah si A percaya untuk menitipkan rumahnya untuk beberapa waktu kepada temannya yg juga sama-sama pernah sering mencuri bersama, yaitu si B ?.

Jawabanya mungkin bisa !. Tapi seberapa percaya ?, apakah rasa khawatir dan bayang-bayang ; “*kalaupun teman, jika bisa dimakan ya dimakan” *tidak menghantui pikiran si A ?.

Kemudian ada contoh lagi, orang yang menjadi istri Anda misalnya hasil dari merebut (perselingkuhan) orang lain (suami sah si istri tersebut). Kemudian ketika Anda bepergian dalam waktu yang lama meninggalkan istri Anda, apakah yakin istri Anda tidak akan selingkuh seperti dulu berselingkuh dengan Anda dari suaminya ?.

Apakah Anda bisa mempercayainya ?.

Apakah tidak yakin kalau balasan serupa (hukum karma) atas kesalahan masa lalu Anda juga akan menimpa Anda ?

Hemh… percaya itu sepertinya memang rumit, saking rumitnya tidak jarang begitu membatasi hati dan pikiran kita untuk sadar kalau setiap orang itu punya masa lalu, hari ini, dan masa depan. Dan, ia bisa jadi jauh lebih baik dari masa lalunya, juga telah meninggalkan semua kebiasaan buruknya. Atau memang, ia masih betah di lubang yang sama. Ahhh, lagi-lagi malah merumitkan teman-teman yang sedang berusaha untuk percaya atau berusaha memberikan maaf pada diri sendiri (teman yang pernah berbuat salah bersama tidak ubahnya diri sendiri).

Mengevaluasi Rasa Yakin / Percaya

Sayangnya, sementara rasa yakin atau percaya bisa sangat memberikan kekuatan, ia juga bisa sama-sama melemahkan. Banyak sekali keyakinan dalam diri kita adalah negatif, atau pesimis tentang seseorang, situasi, bahkan diri kita sendiri. Ia begitu membatasi kita sampai-sampai menyabotase hasil yang semestinya bisa dicapai. Penting rasanya kawan untuk berhenti sejenak dan mengambil waktu untuk menganalisis rasa yakin atau percaya kita. Apakah ia membantu atau menghambat ?.

Kekuatan Keyakinan Positif

Banyak yang bilang kalau orang sukses berpikir secara berbeda dan juga percaya secara berbeda dari sebagian besar orang di dunia. Keyakinan sudah ibarat meletakkan dasar bagi tingkat keberhasilan yang mereka capai.

Kita memang bisa melihat, bahwa keyakinan tidak selalu apa yang benar atau faktual di dunia nyata. Kekuatan keyakinan masing-masing datang dari orang-orang yang meyakininya. Kita bisa saja percaya pada apapun yang bisa (bukan ingin) kita percayai. Yang pasti akan ada akibatnya, dimana kita akan menarik peristiwa, pengalaman, dan orang-orang dalam kehidupan agar sesuai dengan rasa yakin kita. Untuk alasan ini, sepertinya sangat penting dan harus untuk berpegang kepada rasa yakin atau percaya yang mampu membuat kita lebih berkembang, dan melepaskan rasa yakin atau percaya yang memberikan dampak negatif terhadap diri kita.

[![Kadang percaya itu antara pilihan dan keharusan. Seperti dua persimpangan rel kereta.](https://blog.rosid.net/content/images/2012/08/percaya-adalah-pilihan.jpg "Kadang percaya itu antara pilihan dan keharusan. Seperti dua persimpangan rel kereta.")](https://blog.rosid.net/content/images/2012/08/percaya-adalah-pilihan.jpg)
Kadang percaya itu antara pilihan dan keharusan. Seperti dua persimpangan rel kereta yang harus dilalui oleh rangkaian gerbong dengan Masinis dan organ kerja lainnya sebagai pemegang kendali.
Semoga bermanfaat, dan yang tidak kalah pentingnya semoga kita tidak asal meyakini atau mempercayai. Karena ia akan memberikan efek antara negatif dan positif terhadap diri kita.

Wallahu’alam