![Daur ulang cartridge](https://blog.rosid.net/content/images/2012/07/cartridge-300x253.gif "Daur ulang cartridge")
(ilustrasi dikutip dari best4lesspc.com)
Ada dua cara pemasaran yang cukup populer disekitar kita saat ini. Yaitu ; *viral marketing* dengan menggiring opini publik melalui sosial media (semisal blog, facebook, twitter, youtube, dan lain sejenisnya) dan *care marketing*.

Kedua cara ini dianggap cukup efektif karena selain lebih efisien, juga mampu menjadi siasat ketika masyarakat semakin tidak mudah termakan oleh iklan yang ‘jualan banget’.

Khusus untuk care marketing saya ingin sedikit menyampaikan ide yang berbau unek-unek tentang keterkaitannya dengan mesin cetak, atau yang kita kenal printer.

Care marketing (saya menyebutnya demikian sesukanya saya. Maaf, bukan lulusan jurusan marketing. Hehehe… !) adalah strategi marketing yang saya fahami sebagai sebuah cara untuk mendapatkan simpati publik terhadap produk kita melalui cara-cara yang ramah lingkungan, bersifat sosial, mengedukasi, dan konruktif. Meskipun kadang tidak jarang bahwa manfaat produknya sendiri sangat desduktrif.

Kita bisa melihatnya dari perusahaan-perusahaan rokok. Mereka sadar kalau produknya selalu menjadi pro-kontra dan kadang dianggap lebih banyak sia-sianya dibanding manfaatnya.

Lalu mereka membuatlah sebuah care marketing semisal akademi olahraga, yayasan pendidikan, menyeponsori event sosial, dan lain sebagainya, yang kesemuanya sama sekali tidak ada hubungannya dengan produk mereka.

Ini tidak jarang dianggap sebagai cara mereka ‘menambal celah’ yang bisa mengganggu eksisteni perusahaannya sewaktu-waktu. Sehingga opini masyarakat dapat terbentuk dan bahkan menjadi seperti ada ketergantungan terhadap perusahaan tersebut. Misal, munculnya anggapan : “Tidak akan ada yayasan pendidikan ini tanpa perusahaan rokok tersebut !

Care marketing kemudian menarik pemikiran saya terhadap keterkaitan isu lingkungan dan printer. Ide yang hampir serupa sebelumnya sudah dikampanyekan (bahan iklan) oleh salah satu produsen tinta refill (isi ulang), dimana dengan mengisi ulang cartridge secara manual akan lebih ramah lingkungan, karena cartridge bekas tersebut tidak langsung dibuang ke tempat sampah, disinilah teori *Reuse *dari 3R ( Reduce, Reuse, Recycle ) berlaku.

Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah :

Sejauh mana kepedulian para produsen printer terhadap isu lingkungan berkaitan dengan cartridge printer mereka, yang menurut thedailygreen.com baru bisa terurai setelah 1000 tahun ?

Tampaknya pola care marketing harus diterapkan juga oleh para produsen tersebut, terserah siapa yang mau mulai duluan.

Mereka tidak hanya berani menawarkan output tinta yang hemat, tapi juga harus bertanggungjawab atas cardtridge buatan mereka sendiri. Misalnya seperti judul postingan ini ; bagi konsumen yang membeli cartrdige baru dengan membawa (mengembalikan) cartrdige lama akan mendapatkan diskon.

Sang produsen tidak hanya melakukan promosi produk, tetapi juga mengajak kepada masyarakat untuk sama-sama bertanggungjawab terhadap kelestarian alam. Disini tidak hanya ada 3R, tapi mungkin bisa tergenapkan menjadi 4R, yaitu dengan adanya Repair terhadap cardtridge bekas yang dikirim kembali ke perusahan pembuat.

Ya, ini memang salah satu strategi marketing, tapi disamping sisi promosi juga ada manfaat. Cara ini juga yang mulai dilakukan oleh beberapa produsen minuman berbotol plastik. Mereka tidak lagi mengiklankan segarnya minuman mereka, tapi mulai mengiklankan bagaimana kemasan mereka lebih ramah lingkungan. Inilah, care marketing, menyentuh jiwa sosial dan kepedulian konsumen.

Okey, sekian duluan curcol unek-uneknya, mudah-mudahan bisa menginspirasi para produsen printernya.