Jika  Anda orang yang memiliki motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri, tidak peduli, tidak mau mengalah, semuanya dianggap tidak lebih baik dari pemikiran dan kemauan Anda, maka Altruis adalah kebalikan dari pengertian itu semua. Tepat sekali kalau menyimpulkan bahwa Altruis adalah kebalikan dari Egois.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Altruis adalah orang yang banyak mengutamakan kepentingan orang lain (tidak mementingkan diri sendiri), sedangkan menurut Wikipedia, Altruis atau **Altruisme **adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain yang kadang tidak memperhatikan diri sendiri. Baik KBBI maupun Wikipedia memberikan dasar pengertian yang sama, yaitu Kepedulian.

Istilah Altruis sendiri diciptakan oleh Auguste Comte (59 tahun), seorang ilmuwan asal Perancis yang  meninggal pada tahun 1857, beliau dikenal juga sebagai “Bapak Sosiologi”. Jauh sebelum istilah Altruis muncul (bahkan ketika peradaban manusia dimulai) sebetulnya paham-paham yang terkandung dalam pengertian Altruis sudah ada seiring dengan fitrahnya manusia, namun hanya istilahnya saja yang berbeda.

Perilaku Altruis hampir dianggap benar oleh semua agama (bukan semua agama benar), dan saya rasa semua agama sangat menganjurkannya. Berdasarkan aturan pada agama yang saya yakini, yaitu agama Islam, di dalam Surah Al-Maidah ayat 2 Allah SWT berfirman;

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

Betapa dengan jelasnya Allah SWT memerintahkan kita berperilakui peduli dan tolong menolong untuk suatu kebaikan, dan tidak berbuat kerugian.

Sifat-sifat yang terkandung dalam karakter Altruis antara lain :

Peduli, jiwa dan raganya tidak akan sanggup melihat orang lain dalam kesulitan, apalagi membuat orang lain kesulitan. Hal yang paling menyakitkan dan menyedihkan bagi orang-orang seperti ini adalah ketika melihat orang lain dalam kesulitan atau dalam masalah besar dan ia tidak memiliki kemampuan untuk menolong orang tersebut.

**Ikhlas, **apa yang ia lakukan dan korbankan untuk memberikan bantuan atau pertolongan dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan lumrah. Tidak ia anggap istimewa, selama ada anggapan dari dirinya bahwa perbuatannya adalah sesuatu yang istimewa maka ia merasa itu belum ikhlas, karena perbuatan baiknya masih teringat-teringat dalam pikiran. Sedangkan prinsip ikhlas itu sendiri “berikan dan terlupakan (oleh dirinya)”, seperti halnya kita melakukan sesuatu yang dianggap biasa dan lumrah yang sering terlupakan begitu saja. Dalam memberikan bantuan, sama sekali tidak terpikirkan yang namanya “timbal balik”, berpikir “biarlah Allah yang membalasnya”-pun tidak. Ia menganggap bahwa memberikan pertolongan adalah sebuah kewajiban yang harus dibiasakan. Namun sesungguhnya bagi yang menerimanya itu sangat luar biasa.

**Rela Berkorban, **karakter seperti ini memang seringkali diajarkan oleh guru-guru sekolah kita mulai dari SD bahkan mungkin sampai bangku kuliah). Tapi sampai dimana pengaplikasiannya ? entahlah… Rela berkorban yang dimaksud bukan cuma rela mengorbankan sesuatu atas kelebihan yang kita miliki. Karakter rela berkorban sesungguhnya adalah meskipun yang ia miliki pas-pasan atau bahkan kurang, ia tetap rela berbagi dengan orang lain.

**Mementingkan Kebersamaan, **ini satu hal yang pasti. Sama sekali tidak terpikirkan dalam dirinya untuk “kenyang atau memperkaya diri sendiri”. Kalau kata orang Sunda *“**Hirup sauyunan tara pahiri-hiri, Silih pikanyaah teu inggis bela pati” *(Hidup bersama-sama tidak saling mendengki, saling menyayang  tidak ragu untuk saling menolong sampai mati). Ia yakin betul bahwa dalam setiap hak-nya disitu ada kewajibannya, dan kewajibannya itu adalah hak untuk orang lain.

Semangat Altruis inilah yang kini mulai mengikis atau bahkan hilang dari tatanan kehidupan kita, sekalinya ada yang berjiwa Altruis malah disalahmanfaatkan oleh orang-orang tertentu. Adakalnya kedok palsu kepedulian sering kali dibungkus oleh tujuan *feedback *yang menguntungkan, seakan-akan tidak ada bedanya antara peduli dan promosi. Sekalinya mau rela berkorban  harus menunggu dulu setelah memiliki kelebihan atau cadangan untuk diri sendiri, padahal ada satu prinsip yang mengatakan ;

Untuk bersedakah tidak mesti menunggu menjadi kaya, tetapi dengan bersedekah sudah pasti Anda kaya.

Jangankan yang menjadi hak-nya, yang bukan hak-nyapun dihembat. Kalau dipikir-pikir saya sering merasa malu dengan apa yang diceritakan oleh Bapak Mahfud MD beberapa waktu lalu disebuah stasiun televisi swasta. Diceritakan begitu pak Mahfud tiba di Stasiun Gambir Jakarta, ia bertemu tukang semir yang cacat, karena merasa iba pak Mahfud melorohkan selembar uang kertas kepada tukang semir tersebut. Diluar diguaan ternyata dengan santunnya tukang semir itu menolaknya seraya berkata, “Bapak, saya bukan pengemis. Saya mau dikasih uang kalau sepatu bapak disemir. Tapi bukan lima puluh ribu, lima ribu… cukup”. Ini adalah satu kisah hidayah yang perlu kita teladani bersama, bahwa untuk kaya cukup mengambil yang menjadi hak milik kita, paling tidak itulah kaya hati.

Ditengah derasnya gempuran budaya hedonis, individualis dan pragmatis, mudah-mudahan cahaya semangat Altruis, semangat kepedulian, keikhlasan, rela berkorban, dan mementingkan kepentingan bersama terus tumbuh dikehidupan kita, minimal dimulai dari sendiri karena kita tidak hidup sendiri. Sehingga kelak, istilah Altruis tidak lagi menjadi asing atau kalah populer dengan istilah Egois. Lebih populernya istilah Egois dibanding dengan rivalnya yaitu Altruis bukan tidak mungkin karena lebih banyak orang-orang yang egois dibanding dengan orang-orang yang altruis.

Ok, demikian secuil buah pemikiran yang coba saya tuangkan kedalam satu halaman blog yang sederhana ini, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua. 🙂