Jangankan terlibat dalam perdebatan, sekadar menyaksikan pun lelah rasanya. Dua tahun ke belakang, saya masih termasuk orang yang suka berdebat. Bahkan saya sempat membuat website khusus untuk berdebat. Lama-lama kemudian, sampai saat ini tiba waktunya, mulai terasa betapa melelahkannya. Lebih dari sekadar itu, begitu banyak waktu yang terbuang.

Belum lagi energi yang terkuras entah berdampak apa. Yang jelas, ketika sibuk berdebat sepertinya sudah tertinggal 1 langkah.

Perdebatan selalu berujung pada tanpa titik temu. Maklum, kita sama-sama mengedepankan wawasan, pengetahuan, dan ego masing-masing. Ketika menceburkan diri ke arena perdebatan seperti tidak ada bekal yang paling penting dari “tidak boleh kalah!”.

Belum lagi doktrin “pertahankan argumenmu” sudah mengakar begitu dalam.

Lalu apa gunanya perdebatan jika hanya untuk adu argumen tanpa mencari titik temu? Lagian, kalaupun untuk mencari titik temu bukan debat tempatnya, melainkan dialog atau musyawarah.

Saya jadi merasa, jika perdebatan dikedepankan untuk membenturkan dua sisi yang berbeda bukankah hanya semakin melemahkan keduanya? Seperti lupa, jika kita masih makan, minum, tidur, buang hajat, dan hidup di tanah yang sama.

Apalagi jika hal yang kita perdebatkan merupakan pengulangan dari perdebatan yang pernah terjadi dan tanpa kesimpulan positif apapun. Tidak kah kita mengulangi kesalahan yang sama?

Konsisten pada argumen memang menandakan teguh pada pendirian, tapi masalahnya, kehidupan  lebih membutuhkan orang-orang yang banyak berkarya dibanding bicara (debat). Jika satu tindakan mampu membungkam jutaan kalimat ucapan, harusnya kita mulai sadar jalan debat mana yang akan kita pilih.

Belum lagi jika ucapan kita yang tumpah ruah itu tidak sesuai dengan tindakan (yang harusnya menjadi penegas ucapan). Itu sudah jadi pukulan telak buat diri sendiri yang betapa konyolnya dihantam oleh tangan sendiri, alias bunuh diri.

Berdebat bisa membalikan yang benar jadi salah dan yang salah bisa jadi benar. Yah, namanya juga bersilat lidah, memutar balikan kata-kata dengan merangkainya seolah tampak benar  (pembenaran) adalah bagian dari jurus ampuh. Sedangkan kebenaran, sejatinya tidak diperdebatkanpun posisinya tetap hakiki.

Satu sabda dari Rasulullah SAW semoga bisa jadi pencegah buat kita dari ajang perdebatan :

Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam keadaan bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaknya. (HR. Abu Daud)

Percayalah, berdebat akan menguras energi kita dengan luar biasa. Apalagi jika mental kita tidak terlalu kuat, bisa-bisa tidak bisa mengendalikan diri lalu emosi yang berbicara. Kalau sudah emosi yang berbicara sama saja dengan menonjolkan sisi lemah dari diri sendiri. Sekali sentil, cetarrrrr !!! kita tidak akan berkutik.

Lebih baik, kita sama-sama salurkan energi untuk sesuatu yang positif. Biarlah karya kita berbicara. Membungkam hujan hujatan dan serbuan nyinyiran. Bukankah orang-orang lebih menilai kita dari tindakan dibanding ucapan?

Kalau terlalu sulit menakar maksudnya “yang positif”, seberapa bermanfaat bisa jadi patokannya.

Mudah-mudahan tulisan ini tidak memicu perdebatan, karena bukan untuk itu tulisan ini di-publish. Tapi, jika Anda ingin yang disampaikan saya terbuka untuk menerimanya.