Ada sedikit pengalaman menarik sarat akan pelajaran hidup yang  saya dapatkan sobat, yaaaa… sebetulnya sih tidak bagus-bagus amat bagi kita, tapi ini justru bagus buat generasi kita selanjutnya.

Beberapa waktu lalu, saya dengan seorang teman mengerjakan instalasi internet Speedy di  di kawasan Gading Serpong – Tangerang Selatan. Begitu sampai di tempat, si anak yang punya rumah girangnya bukan main, sampai teriak-teriak dengan kencangnya “Horeeeeee… game online-nya bisa dirumah…..” lari-lari kesana-kemari didalam rumah (saking senangnya). Maklumlah usinya baru sekitar sepuluh tahunan (kelas 3 SD).

Sayapun dengan teman mulai mengerjakan instalasi, proses instalasi agak sedikit rumit, karena si pemilik rumah minta dipasangkan dilantai dua, sedangkan *splitter *telepon ada di lantai satu. Selain itu beliau ingin supaya jalur kabelnya dirapihkan sekalian. Selama pemasangan anak pemilik rumah yang berusia 10 tahun tadi terus mengikuti setiap pergerakan kami,  seolah-olah serba ingin tahu dan penasaran. Sesekali ia pun melontarkan pertanyaan

Omm… masih lama ya ?”

dengan sedikit guyon teman saya menjawab “*nggak’ ko deee…. bentar lagi, gak sampe besok ko..  😀 “. *

  • “Huuuu… kalau sampe besokmah berarti tiap masang beginian om nginep donk ?, wah udah berapa rumah tuh yang om inepin ??? hehehehehhh.. “* sahutnya

Saya pun terkekeh mendengar celetukkannya. 😀

Singat cerita pengerjaan, sekitar jam dua siang instalasipun selesai, dengan penuh kegembiraan si anak tadipun langsung mencoba main game online. Wahhh…. girangnya bukan main dah dia.. 😀

Baru sekitar 5  menitan si anak tersebut menjajal koneksi internet barunya, ibunya memanggil mengingatkan kalau dia harus berangkat les bimbel. Si anak agak kesal dan malas sepertinya, sambil ngedumel ia bilang “*iyaaaa.. entar maaah”. *

Tidak lama ibunya naik menghampiri dia, dengan nada yang santai si ibu bilang “Eitttt… ade gak boleh begitu, bagaimana komitmen awalnya ?, kata mamah kan oke kita  pasang internet dirumah, tapi koneskuensinya tidak boleh mengganggu rutinitas belajar ade, kalau ade gak’ konsisten ya otomatis mamah cabut lagi internetnya, mumpung om-omnya masih disini… hayoooo.. konsisten ngga’ ?”

Dengan sedikit cemberut, si anak pun turun dari kursi**komputernya. Bisa kita pahami rasa kesal pada dirinya, karena rasa senangnya harus ditunda dan disambung lagi dilain waktu.

Baik sobat, ceritanya tidak bagus kan ?, penyampaiannya juga buruk… Inti dari kisah tersebut adalah “komitmen”.

Hampir tidak pernah sebelumnya saya menemukan hal seperti itu, yaitu bagaimana baiknya hubungan komunikasi antara si anak dan orang tua, sehingga diantara keduanyapun bisa terbangun komitmen yang sangat kuat. Sebagian besar dari kita apabila menuruti permintaan sang anak jarang sekali ada komitmen timbal balik yang pada akhirnya untuk kebaikan sang anak pula. Sebagian besar dari kita cenderung “turuti” kemudian si anak berhenti merengek dan itu kita anggap “selesai”, jarang sekali kita pikirkan bagaimana efek selanjutnya bagi si buah hati.

Yang lebih menarik lagi ketika si ibu mengucapkan kata “komitmen”, saya rasa jarang anak berusia 10 tahun memahami maksud kata “komitmen”. Bagi saya ini bukan hanya berarti bahwa si anak cerdas, justru dari sini bisa kita gambarkan bahwa ibu (orang tua) dengan si anak sudah terbiasa membangun kesepakatan dan menepatinya, sehingga lambat laut istilah kesepakatanpun ditransisikan ke istilah komitmen.

Tentunya tidak mudah untuk menjaga dan membangun komitmen, satu komitmen tidak dipatuhi oleh kedua belah pihak maka jangan harap dapat menciptakan komitmen bersama yang baru. Ketika sang anak atau orang tuanya melanggar komitmen maka sudah bisa dipastikan untuk selanjutnya tidak ada lagi kepatuhan.

Dengan sudah difahaminya  maksud komitmen oleh si anak, itu berarti bahwa antara anak dan orang tua sudah terbiasa menciptakan kesepakatan, dan itu tentunya sesuatu yang positif untuk menumbuhkan kejujuran dan jiwa bertanggung jawab pada diri si anak yang dicontohkan langsung oleh orang tuanya dengan sama-sama menaati perjanjian atau komitmen yang disepakati.

Sudahkah kita bersikap konsisten pada generasi kita ?, sudahkah kita mengajarkan mereka konsisten ?, belum terlambat… lakukanlah… ^,^