Bertahun-tahun hidup dalam kekejaman dan kezaliman ideologi dan penguasa tirani, seakan tak layak baginya untuk hidup. Segala derita terus mereka terima demi menyelamatkan surga, ya surga. Mereka rela mempertaruhkan jiwa dan raga untuk menjaga keimanan dan aqidah Islam mereka walaupun segala siksa dan derita terus mereka terima. Siapakah dia ?, yaitu saudara-sauadar kita suku Rohingya.

[![Kurang lebih, beginilah kondisi mereka ditengah lautan. Subhanalloh...](https://blog.rosid.net/content/images/2011/02/rohingya2-300x204.jpg "rohingya2")](https://blog.rosid.net/content/images/2011/02/rohingya2.jpg)
Kurang lebih, beginilah kondisi mereka ditengah lautan. Subhanalloh…
Etnis *Rohingya* adalah penduduk asli negara bagian Arakan. Arakan sendiri merupakan sebuah negara bagian seluas 14.200 mil persegi yang terletak di barat Myanmar. Merupakan daerah pesisir timur teluk bengali yang bergunung-gunung. Berbatasan langsung dengan India di utara, negara bagian Chin di timur laut, distrik Magwe dan Pegu di Timur, distrik Irrawady di selatan dan Bangladesh di barat laut. Namun kini, mereka telah kehilangan hak atas tanah asli etnisnya.
[![](https://blog.rosid.net/content/images/2011/02/Rohingya-300x225.jpg "Rohingya")](https://blog.rosid.net/content/images/2011/02/Rohingya.jpg)
Saudara-saudara kita melakukan Ibadah Sholat dipinggir pantai Sabang – NAD tempat yang diharapkan mungkin menjadi tanah harapan bagi mereka.
Penduduk Muslim *Rohingya* merupakan mayoritas penduduk di Arakan, dengan jumlah kurang lebih 90 persen. Namun selama 49 tahun kemerdekaan Burma (Myanmar) jumlah itu terus berusaha dikurangi, mulai dari pengusiran hingga pembunuhan, hingga saat ini hanya tersisa sedikit umat Islam *Rohingya* di selatan Arakan sedangkan di bagian utara *Rohingya* masih menjadi mayoritas.

Pada tanggal 16 Pebruari lalu voanews.com memberitakan 129 warga Rohingya diselamatkan di laut Indonesia setelah terkatung-katung selama tiga minggu diatas lautan setelah kapal kayu mereka pecah. *Inalillah… 🙁 *Pergi melarikan diri dari tanah airnya adalah salah satu pilihan paling tepat menurut mereka demi menyelamatkan diri sekaligus menyelamatkan aqidah mereka dari kezaliman penguasa Myanmar. Berminggu-minggu hingga berbulan-bulan mereka terapung-apung diatas luas bentangan samudera tak tentu kemana arah, mereka hanya punya semangat keimanan yang terus membimbing mereka untuk menemukan tanah harapan demi hidup rukun, tenteram, aman dan nyaman termasuk dalam menjalankan kewajibannya sebagaimana makhluk yang merasa bertuhan.

[![](https://blog.rosid.net/content/images/2011/02/rohingya4-234x300.jpg "rohingya4")](https://blog.rosid.net/content/images/2011/02/rohingya4.jpg)
Anak Rohingya sedang bersuci
Bisa kita bayangkan sobat, betapa sulitnya cobaan keimanan yang mereka terima. Ini bukan dongeng, ini bukan kisah masa lalu yang kini sudah tidak ada, ini adalah kisah nyata dari waktu yang lalu dan masih terjadi sampai saat ini. Untuk sholat saja mereka taruhannya nyawa.

Kenyataan yang dialami oleh saudara-saudara kita dari etnis Rohingya mengingatkan kita kepada kisa Pemuda Ashabul Kahfi yang harus melarikan diri dari kedzaliman raja Diqyanus. Dengan mudahnya Allah menyelamatkan mereka dalam kelelapan tidur, hal ini mungkin karena pertolongan terakhir hanya tinggal satu yaitu kekuasaan Allah. Bedanya dengan etnis Rohingya saat ini adalah, dunia termasuk umat seluruhnya tahu keadaan mereka saat ini, namun masalahnya sebagian besar umat Islam itu sendiri kurang peduli untuk saling tolong menolong, yang sebetulnya umat Islam itu sendiri mampu menolong jika serentak kompak saling tolong menolong.

Apa yang dialami oleh etnis Rohingya saat ini mudah-mudahan membukakan mata hati dan pikiran kita, bahwa secara keadaan personalitas kita masih jauh lebih baik dari mereka, maka syukurilah itu., sedangkan secara keadaan umum umat Islam masih berada dalam kezaliman dan dunia tutup mata akan hal itu. Tidak ada alasan bagi kita untuk berkeluh kesah, tidak ada alasan bagi kita untuk lalai diri. Masih beruntung kita bisa beribadah dengan tenang tanpa ancaman senjata dikepala, masih berpakaian layak, masih bisa tidur nyenyak, panas tidak kepanasan hujan tidak kebasahan. Untuk menutup aurat saja kaum muslimah Rohingya menggunakan bahan dan benda apapun yang penting auratnya tetap terjaga, tidak peduli model, corak ataupun warna.

[![](https://blog.rosid.net/content/images/2011/02/rohingya5-300x221.jpg "rohingya5")](https://blog.rosid.net/content/images/2011/02/rohingya5.jpg)
Anak-anak Rohingya, demi sebuah keyakinan dan aqidah menutup aurat dengan kain seadanya.
Dunia telah menutup mata terhadap penyiksaan junta militer Myanmar terhadap kaum Muslimin Rohingya, mereka hanya lebih peduli kepada satu sosok “juru dakwah” ideologi demokrasi mereka, yaitu Aung San Su Kyi. Mereka hanya perduli pada simbol-simbol ideologi, apalah gunanya ideologi kalau tidak memberikan kesejahteraan rakyatnya ? apalah fungsinya ideologi kalau tidak bisa menjamin ketenteraman dan kenyaman masyarakatnya ?.

Sampai kapankah kita turut serta menjadi bagian orang-orang yang tutup mata terhadap terhadap keadaan kondisi saudaranya sendiri ?. Mungkin kita berpikir dengan apa kita dapat membantu mereka ?, bantulah mereka dengan do’a yang sungguh-sungguh jika kita tidak bisa membantu mereka dengan hal lain, bantu dengan Qunut kita, bantu dalam munajat ditengah malam.

Semoga Allah terus melindungi mereka dan kita tidak tutup mata atas keadaanya…