Berbeda PandanganAda sesuatu yang sangat menarik di salah satu organ tubuh kita, yaitu dua bola mata. Selain memiliki fungsi sebagai alat penglihatan dan mendeteksi cahaya, ternyata sepasang bola mata kita juga memiliki pesan moral tentang kepribadian, setidaknya menurut saya.

Saat kita terbangun dari tidur, dua bola mata kita terbuka secara bersamaan. Ketika ngantuk dan tertidur  terpejam bersamaan. Ketika refleks dan berkedip dilakukan bersamaan. Ketika melirik ke berbagai arahpun dilakukan bersamaan. Sampai ajal menjemputpun dua mata kita terpejam untuk selamanya secara bersamaan.  Hampir semua hal selalu dilakukan bersamaan oleh kedua bola mata kita. Tapi, meskipun kedua bola mata kita selalu melakukan banyak hal secara bersamaan, keduanya tidak pernah saling melihat dan menatap secara langsung.

Saking uniknya, ada juga yang menjadikannya sebagai bahasa romantisme :

“Kita itu seperti kedua bola mata, selalu melakukan banyak hal secara bersamaan tapi tidak pernah saling melihat”

Sifat dari kedua bola mata kita tersebut  memberi satu pesan (khususnya bagi diri saya pribadi), bahwa untuk tidak selalu sama dalam sudut pandang itu kadang perlu.

Misalnya begini, kadang kita tidak tahu ada sesuatu yang menempel diwajah kita atau dibagian mata kita, karena terbatasnya jangkaun penglihatan dari mata. Nah, disitulah kita perlu adanya orang yang lain yang melihat sesuatu yang menempel tersebut untuk kemudian memberitahukannya kepada kita. Betul memang kita bisa melihatnya dengan cermin, tapi cara cermin bekerja tidak sama dengan cara bekerjanya mata.

Sekarang saya asumsikan kalau mata diibaratkan sebagai cara seseorang (termasuk kita) dalam berpendapat atau berkespresi baik melalui lisan, tulisan sikap, maupun perbuatan. Karena pendapat atau ekspresi tersebut seperti halnya mata, tentu mempunyai keterbatasan. Kalau mata mempunyai keterbatasan melihat maka bisa jadi pendapat atau ekspresi kita mempunyai keterbatasan pengetahuan (tidak sempurna).

Kita bisa mengetahui apa yang tampak diwajah teman kita karena kita berada pada posisi yang berlawanan atau saling melihat, kita tidak bisa melihatnya ketika kita berada pada posisi sejajar dengan tujuan pandangan yang sama. Dari situlah kita bisa mengambil pelajaran kalau orang-orang yang berbeda sudut pandang baik dari segi pendapat maupun pemikiran itu kadang perlu dalam hidup kita. Dengan begitu kita bisa saling menilai, mengoreksi, dan menjadi bahan untuk saling memperbaiki diri. Ketika kita melihat sesuatu yang baik dari lawan yang kita lihat mungkin kita bisa menirunya, begitupun ketika mendapatkan keburukannya cukup kita jadikan sebagai contoh yang harus dihindari.

Kadang terlalu sulit buat kita untuk menilai diri sendiri, dan kitapun tidak boleh puas dengan hasil penilaian dari orang-orang yang hanya sebatas selalu meng-iya-kan pendapat kita yang bisa jadi itu karena khawatir menyinggung perasaan kita. Berhentilah untuk selalu sensitif dan mulailah membuka pandangan secara objektif terhadap orang-orang yang berani menilai kita, berani mengkritik kita, dan berani berbeda pandangan dengan kita. Karena bisa jadi kita memang keliru, dan bisa jadi juga orang yang mengkritik kita jauh lebih jujur ketimbang orang yang selalu menyetujui setiap pendapat kita hanya karena “yang penting Anda senang”.

Bersama dengan orang-orang yang mempunyai cara pandang yang sama itu memang menyenangkan, tapi ada orang yang selalu berbeda cara pandang itu perlu. Perlu yang bukan berarti prioritas. Wallahualam…