Sejak kecil kita sudah diajarkan dan didorong untuk menjadi ‘pemenang’, berjuang dengan tangguh mengalahkan segala halang rintang. Motivasi digenjot sedemikian rupa supaya kita menjadi pribadi yang melejit dan penuh kesuksesan dalam karir. Dari sedemikian banyak motivasi pembangkit semangat supaya kita sampai pada puncak karir, entah apapun bidangnya, mau artis, politikus, pengusaha, pemimpin, pejabat, atau da’i sekalipun, saya sedikit ingin “belajar mengulas” tentang satu filosofi.

*Heheheheeee… *belajar main-main sama filosofi lagi nih ya, setelah sebelumnya kita bahas masalah Pohon Bambu dan Air. Yang coba kita ambil pelajarannya kali ini adalah buah kelapa. Kenapa Cuma buahnya ?.

Mengenai bagian pohon yang lainnya mulai dari akar atau proses tumbuhnya, kita anggap itu sebagai gambaran kita dalam meniti sebuah karir, *step by step, *setahap demi setahap seperti yang nampak pada pohon kelapa, sampai akhirnya menjulanglah karir kita ibarat tingginya pohon kelapa. Pepatah mengatakan *“semakin tinggi prestasi kita, maka semakin kuat goncangannya”, *persis semakin tinggi pohon kelapa maka semakin kuat goncangan dari angin yang  dirasakan.

Begitu kita sampai dipuncak, kita bukan hanya akan dihadapkan pada hembusan cobaan atau goncangan, tapi kita juga akan diperlakukan seperti layaknya buah kelapa, berikut gambaran sederhananya :

Dijatuhkan

*Cara orang  memetik buah kelapa berbeda dengan memetik buah-buah lainnya, dipelintir lalu dijatuhkan. *

Begitu kita sampai pada puncak karir atau mungkin sedang tinggi-tingginya prestasi kita, maka bersiap-siaplah untuk dijatuhkan. Ini bukan saya yang mengancam akan menjatuhkan, tapi sebuah hukum alam, hukum alam yang jangan sampai membuat sobat-sobat kaget saat menghadapinya dan bersiaplah untuk menhadapi kemungkinan yang seperti itu.

Ditusuk

*Untuk mengupas buah kelapa, cara pertama dengan menusuknya terlebih dahulu supaya sabut dalamnya terbuka. *

Filosofinya bukan hanya berarti kita akan ditusuk oleh senjata tajam begitu dipuncak karir (meskipun itu tidak menutup kemungkinan), bisa juga yang ditusuk adalah mental dan kepribadian kita. Masih mending kalau yang menusuk tersebut orang atau pihak yang selama ini menjadi kompetitor, tapi kalau kawan sendiri jelas itu sangat menyakitkan. *Apakah kita harus siap juga ?. *Ya, kita harus sangat siap dan itu bagian dari resiko dari apa yang telah kita capai.

Dijambak

*Habis ditusuk, maka serabut buah kelapa yang terbuka tadi dijambak dan ditarik. (Mulai kasar nih cara mainnya). *

Bukan tidak mungkin ini juga akan dialami oleh kita saat berada dipuncak, ini bisa diibaratkan “penggusuran” secara paksa posisi yang kita duduki atau mungkin peran yang sedang kita lakoni.

Dikupas Batoknya

*Begitu semua serabut terlepas dari lapisan batok kelapa, maka tahapan selanjutnya adalah mengupas batoknya, biasanya menggunakan kapak kecil. *

Hikmahnya, bukan tidak mungkin akan selalu ada yang tidak suka dengan kita dan berusaha menjatuhkan kita, baik mental maupun kedudukan. Yaitu dengan cara membongkar tentang semua aib dan kekurangan kita. Setiap keburukan kita yang sudah terjadi diekspos secara habis-habisan kepada khalayak ramai, dan yang belum terjadipun kita dijebak supaya melakukan kesalahan. Semakin kejam bukan ?

Dibelah dan Diparut

*Begitu semua lapisan batok terkupas, maka selanjutnya daging kelapa dibelah dan diparut. *

Ibaratnya, diri kita ini sudah habis “ditelanjangi” oleh orang yang tidak suka kepada kita. Semua aib kita diketahui oleh banyak orang, semua kesalahan kita sekecil apapun terus dibesar-besarkan. Yang tidak suka kepada kita tersebut belum tentu puas untuk “menghajar” kita, maka cara selanjutnya adalah menyebarkan kebencian dan fitnah supaya kita tidak punya lagi kawan, tidak ada lagi yang simpatik, dengan lingkungan dan keluargapun sebisa mungkin kita dibuat tercerai-berai. Sadis ya ?, ya memang kadang seperti itulah proses hidup, akan selalu ada konsekuensi atas apa yang kita perbuat.

Diperas

Parutan sudah terkumpul, selanjutnya tinggal diperas.

Setelah kita tidak punya lagi apa-apa, harga diri dirusak, dan keluargapun tercerai berai, atau diibaratkan diri kita ini sudah dibuat hancur, tapi “keadaan” masih menguji kita sobat, yaitu membuat kita tak berdaya, kalau perlu sampai dijemput malaikat maut*. Apakah itu mungkin ?,* si Rosid yang cetek ini berpendapat sangat mungkin.

Tapi yakinlah sobat, selama kita benar dan tidak bersalah tentunya kita tidak perlu khawatir. Setelah diperas sampai kering sekalipun maka yang akan keluar dari parutan kelapa tadi adalah sari patinya (santan). *Artinya apa ?, *artinya pada akhirnya kebenaran akan muncul, mana yang benar dan mana yang salah akan kontras.

Demikian kawan, sedikit coretan ringan yang saya tuangkan, mudah-mudahan bisa bermanfaat atau paling tidak bisa dijadikan pengingat bahwa kita tidak selamanya akan diatas, suatu saat kita akan jatuh.