Seorang penyair, al-Mutanabbi, pernah mengatakan : 

Ketahuilah, adakalanya lawan itu mendatangkan kebaikan

Sebaliknya juga, kawan datang dengan serangan lebih menyakitkan

Maksud dari syair tersebut ; bahwa, lawan-lawan kita sudah pasti akan lebih menguak berbagai kesalahan kita dibanding dengan segala kebaikan kita. Mau tidak mau, kita harus sebisa mungkin berbuat kebaikan, menghindari keburukan, dan membenahi kesalahan. Disadari atau tidak, seorang lawan hadir untuk memberitahukan kekurangan-kekurangan kita, sehingga menyebutkan berapa kekurangan yang ada bisa kita perbaiki. Tidak hanya itu, mereka juga menunjukan titik-titik kelemahan pada diri kita.

Lawan atau musuh kita tidak akan banyak atau bahkan tidak pernah menunjukan rasa kagum mereka terhadap kelebihan kita. Ini pula, yang sering membutakan kita terhadap posisi mereka. Pernahkah kita menyanjung lawan-lawan kita ?, mungkin kita bisa bilang “tidak pernah !”, karena merasa tidak memiliki lawan (musuh). Lawan bukan hanya *head to head *antara diri kita dan musuh, tapi dengan yang berbeda sudut pandang dan selerapun itu sudah masuk kategori lawan (berlawanan).

Celakanya, ternyata kitapun sangat berat hati untuk menyanjung lawan kita, dua sisi yang saling melempar kebencian. Padahal, seandainya terus-menerus menerima sanjungan dari orang-orang yang kita cintai dan pujian dari rekan-rekan kita, niscaya itu lebih akan menjadikan kita cenderung sombong dan besar kepala. Walaupun mungkin rasa sombong dan besar kepala itu hanya sebesar *zarah, *tetaplah ia bibit penyakit yang mampu meracuni hati dan pikiran.

Lawan-lawan mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya bersaing, sehingga kitapun lebih bersemangat untuk berlomba-lomba demi kebaikan dengan cara-cara yang baik. Sebab, mustahil kebaikan bisa ditelurkan oleh kemunkaran. Belomba-lomba pula dalam membersihkan debu-debu kemalasan, serta menanggalkan pakaian kelemahan dan kehinaan.

Selain itu, para lawan juga mampu membuat semangat kita semakin berkobar. Tapi, meskipun semangat yang menggebu-gebu begitu luar biasa, kita menjadi “dipaksa” untuk tetap tenang dan berhati-hati dalam berbicara, harus segera sadar setelah terlelap, dan berpikir matang sebelum bertindak, juga menjadi tahu kalau sedang diamati oleh lawan-lawan kita. Jangan sampai setiap langkah yang diambil justru malah menjadi bumerang. 

Terkadang, lawan bisa menjadi lebih baik dari kawan karena sanjungan yang seorang kawan terkadang sering membuat kita terbuai, bahkan pujian seorang sahabat karibpun bisa membuat kita menjadi lemah. Tidak hanya itu, kitapun bisa mabuk tak berdaya oleh rasa takjub dari para pengagum. Menurut DR. Aidh al-Qarni ; hal ini karena rasa cemburu dalam diri seorang lawan layaknya aliran panas dalam tubuh kita yang senantiasa dapat membersihkan dari molekul-molekul pasif, serta menghilangkan sel-sel yang beku.

Pertanyaannya adalah :

  • Sadarkah kita kalau setiap kontra yang disampaikan oleh lawan-lawan kita merupakan bahan evaluasi bagi diri kita untuk berbenah ?
  • Sudahkah kita memperbaiki titik-titik kelemahan dan kesalahan yang diungkapkan oleh lawan-lawan kita tentang diri kita ?
  • Sudahkah kita berterimakasih kepada lawan-lawan kita yang sudah menjadi “cermin” untuk menunjukan betapa parahnya kelemahan kita ?.
  • Sudahkah kita menyadari kalau kita sedang dibuat terlena oleh pujian dan sanjungan dari orang-orang yang kita sukai karena telah memuji dan menyanjung kita ?.
  • Sudahkah kita menjadi kawan yang tidak hanya memberikan sanjungan dan pujian kepada kawan kita, tapi juga mengingatkan ketika kawan kita salah mengambil “arah” ?.
  • Sudahkah kita berterimakasih kepada kawan kita, yang tidak hanya sekedar menganggukkan kepala untuk kita, tapi juga memberikan kita masukan berharga yang meskipun kita sendiri kadang tidak menyukainya ?

Kalau belum, mari kita mulai bersama-sama dari sekarang. Semoga Allah menaburkan hidayah-Nya selalu untuk kita semua.

berterimakasih kepada lawan