Sewaktu sekolah dulu, dari SD sampai dengan SMA saya sangat terobsesi dengan sikap dan gaya formal. Dengan bersikap dan bergaya formal saya sering menganggapnya sesuatu yang elegan dan profesional. Saking gandrungnya dengan dunia formal, berbagai kegiatan yang memiliki banyak nilai disiplinpun saya ikuti, entah itu Pramuka maupun menjadi bagian dari Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Menjadi pemimpin upacara yang cakappun tidak ubahnya sebuah obsesi masa sekolah.

Setiap kita mendengar kata “formal”, deskripsi yang muncul didalam pikiran kita adalah sesuatu yang serius, resmi, seragam, disiplin, baku, kaku, dan protokolis. Nyaris tidak ada tempat untuk sesuatu yang abstrak.

Belakangan, lambat laun saya semakin tidak nyaman dengan sesuatu yang berbau formal, meskipun mungkin pada satu kesempatan tertentu saya tetap harus bersikap formal. Ketidaknyamanan ini muncul ketika saya merasa tidak srek dengan hal-hal yang berbau formalitas yang tidak bisa lepas dari sesuatu yang formal, dan istilah formalitas sendiri bagi saya cenderung mengarah pada penyelewengan terhadap sesuatu yang seharusnya.

Formalitas tidak ubahnya sebuah basa-basi, kosong, tidak memiliki nilai, tidak sepenuh hati, sekedar menggugurkan kewajiban, atau mungkin lebih tepatnya ungkapan kalimat ketidak mampuan. Tidak jarang, sesuatu yang formalitas tersebut malah membatasi kemampuan seseorang untuk mengekspresikan ide dan pemikirannya, karena yang menjadi *top priority-*nya bukan masalah kinerja ataupun gagasan, tapi saya udah formal belum ya ?.

Ketika lebih serius *(emang udah serius ya ?) *tinggal di dunia blog dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi seorang blogger, saya merasa lebih nyaman dengan sesuatu yang informal, santai, penuh ekspresi, dan tentunya sepenuh hati. Jarang sekali ketika saya bertemu dengan blogger-blogger lain dengan gaya dan sikap yang formal, apalagi formalitas.

Menteri Pidato, Kursi Tamu Kosong

[![Amprokan Blogger 2011 (Photo by. eshape.wordpress.com)](https://blog.rosid.net/content/images/2011/09/amprokan-blogger-2011-6-300x199.jpg "Amprokan Blogger 2011 (Photo by. eshape.wordpress.com)")](https://blog.rosid.net/content/images/2011/09/amprokan-blogger-2011-6.jpg)
Amprokan Blogger 2011 (Photo by. eshape.wordpress.com)

Ini adalah salah satu pengalaman unik buat saya saat mengikuti Amprokan Blogger 2011 di Bekasi. Ketika Menkominfo Tifatul Sembiring memberikan pidato sambutan sekaligus membuka acara, kursi tamu yang ada dihadapan Bapak Menteri hampir semuanya kosong.

Hampir sebagian besar blogger maju persis ke depan podium dengan mengarahkan mata kamera ke arah pak menteri. Jepret… jeprettt.. cklik… cklikk, cahaya kamerapun menghujani pak menteri. Tentu, ini hanya akan terjadi di acaranya blogger. Ya, namanya juga blogger, tidak mungkin mengabaikan suatu kesempatan langka yang bisa menjadi bahan postingan di blognya. Dan sepertinya, Pak Tif-pun (sapaan Tifatul Sembiring) sangat bisa memakluminya.

Biasanya, untuk acara sekelas di hadiri oleh seorang menteri, semua tamunya menggunakan pakaian formal semisal jas, kemeja, atau batik dengan sepatu pantofel. Disini lain, hampir sebagian besar menggunakan kaos oblong, celana jeans dan banyak juga yang menggunakan celana ukuran 3/4 , gaya kasual, sepatu kets, bahkan hanya menggunakan sendal, jauh dari kesan formal. Tapi memang itulah blogger, apa adanya dan tidak pura-pura (termasuk pura-pura formal).

Demikian halnya ketika Pak Menteri meninggalkan ruangan, sangat tidak terkesan kalau beliau adalah seorang menteri, melainkan cenderung seperti seorang selebritis. Banyak orang berebut untuk minta foto bersama, dan uniknya Pak Menteripun meladeninya. Sangat jauh dari kesan formal dengan aturan ketat protokoler, dan sekali lagi ini hanya ada di dunia blogger.

Belajar Dari Aturan Kerja Google

Ternyata bukan materi pengetahuan umum saja yang bisa kita pelajari dari google, tapi juga bagaimana cara google memperlakukan para pekerjanya. Ada satu hal yang paling diapresiasi dan dihargai oleh google, yaitu ide. Setiap ide, gagasan, atau inspirasi, akan lahir dari pikran-pikiran yang tenang, nyaman, rileks dan tanpa beban. Hebatnya, google tahu itu, oleh karena itu ia berusaha semaksimal mungkin untuk membuat karyawannya nyaman sehingga bisa menelurkan ide-ide cemerlang dan bekerja dengan tenang. Google tahu, kalau hal termahal untuk kemajuan perusahaannya adalah ide positif.

Saking dibuat nyamannya, bisa dibilang tidak ada ketentuan formal rutinitas sehari-hari yang mengikat karyawannya. Karyawan diberikan kebebesan bagaimana mereka mengatur ruang kerja dan cara berpakaian agar mereka merasa nyaman dalam bekerja. Cara seperti ini pula yang sekarang mulai di adopsi oleh KasKus, dan efeknya memang menunjukan hasil yang luar biasa.

Aturan kerja “nyeleneh” dan jauh dari kata formal di google ini pula yang sedikit banyak sepertinya mulai tumbuh di kalangan blogger. Dengan gaya yang santai, tidak kaku, kondisi fun dan rileks, ide-ide segarpun lebih mudah hadir dipikiran dan bisa sepenuh hati dalam mengaktualisasikan ide-ide segar tersebut. Dan sepertinya memang ada benarnya kalau di acara Amprokan Blogger kemarin ada yang bilang “blogger itu kadang nyeleneh, tapi biasanya sepenuh hati”. Aseeeeeek daaaaah, alhamdulillah ya sesuatu banget 😛