Mungkin pada masa lalunya seorang Becky Wilson tidak pernah membayangkan apalagi memimpikan kalau dia akan menjadi sosok yang lekat dengan bumi Pasundan, berikut juga dengan segala adat istiadatnya. Belasan tahun silam, nama Becky Wilson cukup dikenal oleh sebagian besar masyarakat Jawa Barat dengan rutinitas kehadirannya di acara “Talaraga” dan *“Sejenak Bersama Becky” *yang disiarkan stasiun TVRI Bandung.

![Becky Wilson](https://blog.rosid.net/content/images/2012/03/Becky-Wilson.jpg "Becky Wilson")
Becky Wilson (by. ethnic-unique.blogspot.com )
Becky Wilson adalah “mojang” yang berasal dari Amerika Serikat. Becky dan suaminya Bruce E Wilson datang ke Indonesia untuk belajar Bahasa Indonesia di Universitas Padjajaran (UNPAD). Namun, begitu menapakan kaki di bumi Pasundan, Becky merasa jatuh cinta dengan kultur budaya etnik Sunda. Itu pula yang menjadikannya sebagai pelantun lagu-lagu Pop Sunda berkolaborasi dengan Kang Nano S., dan telah melahirkan dua album Pop Sunda semenjak tahun 1990, yaitu Kasmaran dan Wening Cinta.

Dari beberapa lantunannya, ada yang sangat menarik bagi saya pribadi, khusunya ini tidak terlepas dari karakter budaya leluhur saya, yaitu lagu yang berjudul Karumasaan(Kemawasdirian). Karakter seorang Becky Wilson yang tentunya semakin terasa unik, karena sebagai “bule” ia mampu melantunkan lagu Sunda secara baik dengan nada dan tutur kata yang indah. Lagu yang berjudul *Karumasaan *tersebut berisi sebuah nasehat yang sangat berharga sebagai cerminan bahwa kita harus mawas diri tentang betapa kecilnya kita dimata Allah SWT. Berikut klip video dan liriknya (mudah-mudahan saya tidak salah menerjamahkan, karena banyak lupa tentang tutur bahasa Sunda yang halus) :

** Basa Sunda (Lirik Asli)** ** Baahasa Indonesia (Terjemahan)**
Saupama Hiji Mangsa

Urang Mulang Ka Manten-Na

Naon Nu Kudu Di Bawa

Rumasa Pinuh Ku Dosa

Saupami Hiji Wanci

Dipundut Mulang Ka Jati

Naha Diri Geus Sayogi

Nampi Kaputusan Gusti

Rumaos Seu’eur Katuna

Rumaos Seu’eur Codeka

Tutur Kalangkungan Catur

Nyiwit Ati Neumbag Manah

Nanging Hiji Anu Pasti

Gusti Tigin Kana Janji

Jembar Kersa Ngahampura

Ka Umat-Na Nu Percaya Ka Anjeuna

Seumpama Suatu Saat

Kita Pulang Ke Pangkuan-Nya

Apa yang Harus Di Bawa

Sadar Diri Penuh Dengan Dosa

Seumpama Suatu Waktu

Dipanggi Pulang Ke Asal

Aapakah Diri Sudah Siap

Menerima Keputusan Yang Maha Kuasa

Sadar Diri Penuh Kesalahan

Sadar Diri Penuh Tingkah

Tutur Kata Yang Berlebihan

Mencubit Hati Menyinggung Perasaan

Tapi Satu Yang Pasti

Yang Maha Kuasa Tidak Akan Inkar Janji

Luas Ampunan-Nya

Bagi Umat-Nya yang Percaya Kepada-Nya

Lirik-nya sederhana, namun begitu dalam maknanya. Lebih dalam lagi tentunya bagi yang mengerti bahasa Sunda, karena ada faktor ikatan bathin antara dirinya dengan masa lalunya yang jika disadari tidak akan pernah lepas dari “payung” rahmat Allah SWT.

Lagu ini mengingatkan saya kepada orang tua – orang tua dulu (saya akui kalau sekarang *mah *jarang) yang hampir setiap ada waktu dan kesempatan, kata demi katanya selalu dipenuhi dengan nasehat-nasehat yang halus tapi mengena. Meskipun dari yang tua ke yang muda -karena apa yang diucapkannya adalah nasehat-, maka nasehatpun disampaikan dengan tutur bahasa yang lembut, struktur kata yang halus penuh kasih sayang. Ini juga kembali menjadi cerminan, bahwa sampaikanlah setiap nasehat itu dengan cara-cara halus, dengan cara yang halus maka siapapun akan dengan senang hati menanggapinya, syukur-syukur bahkan menurutinya.

Bagaimana latar belakang Becky Wilson lebih jauh tentu saya juga tidak banyak tahu. Tapi, terlepas dari siapa itu beliau lagi-lagi sebuah cerminan kecintaan kita terhdap budaya kita patut dipertanyakan, khususnya generasi muda Sunda. Ketika kita cenderung lebih menyukai budaya-budaya luar, sudah seharusnya kita malu kepada Becky Wilson yang begitu cinta dengan budaya Sunda. Belum lagi dengan “Becky-becky” yang lainnya, yang tersebar di seluruh penjuru tanah air, ada yang mahir menjadi sinden Jawa, bermain gamelan Bali, dan lain sebagainya. Sudah sepatutnya kita *“Rumasa” *bahwa kita punya budaya positif yang harus dicintai dan di lestarikan, dan itu tidak menjadi lucu ketika kita teriak-teriak kalau budaya kita di klaim oleh bangsa lain, sementara kita sendiri tidak melestarikan atau bahkan tidak mampu menampilkan warisan budaya tersebut.

Mun geus nyaho ulah poho, tangtu moal kabobodo. Mun geus ngarti ulah lali, pinasti moal pahili. Lamun rasa geus rumasa, kade ulah asa-asa, hirup moal katambias. Mun geus iman ulah mangmang, moal kagembang ku nu herang”

Kalau sudah tahu jangan lupa, maka tidak akan tertipu. Kalau sudah mengerti jangan lupa, takdir tidak akan tertukar. Kalau perasaan sudah punya rasa, jangan ragu-ragu, hidup tidak akan tersisihkan. Kalau sudah beriman janganlah ragu-ragu, tidak akan tertarik oleh gemerlapnya keduniawian.  

Pepatah Sunda