Seperti merasa tertantang untuk menumpahkan opini hati ketika seorang kawan bertanya “Setujukah kamu kalau cinta itu membutuhkan pengorbanan ?”. Akhirnya saya coba kembali menalar pikiran untuk mendapatkan jawaban versi saya atas pertanyaan seorang kawan tersebut.

Seperti tidak ada kerjaan saja, sampai-sampai opini tentang cintapun harus dituangkan disini, padahal itu-mah cukup ditelan dalam diri sendiri saja. Tapi tak apalah – disanggah sendiri-, mudahan opini ini bisa bermanfaat.

Saya merasa kurang begitu sepakat dengan istilah “cinta butuh pengorbanan”. Toh kalau memang cinta, kita tidak akan menganggap apa yang kita lakukan sebagai pengorbanan.

Bisa jadi “cinta butuh perjuangan” jauh lebih halus istilahnya. Kita yang memerjuangkannya akan jauh berada dalam posisi yang lebih terhormat meskipun apa yang diperjuangkan tidak berhasil dicapai.

Tapi kalau bekorban ?

Kita seperti menuntut sebuah balasan atas pengorbanan yang dilakukan, dimana didalamnya ada pamrih dan penyesalan atas sebuah usaha untuk cinta yang tak tidak sesuai dengan hasrat dan harapan.

Ini mungkin terlalu idealis kawan, tapi tidak jika kita memposisikan diri sebagai orang yang tidak ingin mendengar “aku telah banyak berkorban untukmu, lantas apa yang sudah kau berikan untukku ?”.

Maka dari itu, cintailah dia karena Dia dan demi Dia. Insya Allah, apa yang kita lakukan (selama dalam penjagaan-Nya) tidak akan kita anggap sebagai sebuah pengorbanan.

Cinta tak butuh pengorbanan

Yakinilah apa yang sedang diusahakan sebagai sebuah perjuangan, bukan sebagai sebuah pengorbanan.

Dimana kita harus berjuang melawan godaan untuk tidak setia.
Berjuang untuk memberikan yang terbaik atas hak orang yang kita cintai.
Berjuang untuk membalutkan ketulusan atas apa yang kita berikan.
Berjuang untuk mempertahankan hubungan yang sedang dijalin.

Membenamkan pendapat “cinta butuh pengorbanan” bisa jadi akan menjenalisir pikiran kita untuk menjadi pribadi yang pelit dan perhitungan.

Saya tidak mengarahkan untuk boros atau tanpa perhitungan. Tapi ada sisi dimana kita harus melakukan sesuatu dengan penuh keikhlasan, dan ada sisi lain dimana yang kita lakukan adalah sebuah kewajiban yang berhak mendapatkan imbalan.

Selama meyakini cinta membutuhkan sesuatu untuk dikorbankan. Maka, bukan tidak mungkin kita akan bertindak diluar batas kewajaran yang akan dibayangi oleh ancaman penyesalan.

Kalau apa yang kita lakukan diniatkan atas-Nya, tanpa diminta dan diingat-ingatpun Allah akan memberikan balasan terbaik yang (sering) diluar perkiraan kita.

Jadi, cinta itu tak butuh pengorbanan. Ketika merasa telah berkorban, berarti saat itulah cinta sudah pudar.

Wallahu’alam…


Ini hanyalah sebuah opini, tidak perlu ditanggapi terlalu serius. Sayang energi pikiran kita kalau harus sibuk memperdebatkan yang seperti ini. Tapi kalau mau berbagi pendapat yang mencerahkan ya dengan senang hati kolom komentar selalu tersedia :).