Menjelang kelas 2 SMA saya memutuskan untuk tinggal di ruangan Rohis Masjid  Nurul Iman di sekolahan saya,  SMAN 1 Cikupa (kini SMAN 4 Kab. Tangerang). Hal ini bukan tanpa alasan, jarak dari tempat saya tinggal dengan sekolah lumayan jauh jika ditempuh dengan jalan kaki.  Jika dihitung dengan ongkos bisa mencapai Rp. 8.000, terlalu besar bagi saya yang berasal dari keluarga (bisa dibilang) tidak mampu. Saya tinggal disana tidak sendirian, kebetulan ada beberapa teman yang lebih dahulu tinggal disana dan seorang senior (alumni) yang kebetulan sudah menjadi pengajar di SMA saya tersebut.

Perlahan-lahan saya mulai beradaptasi dengan lingkungan mesjid, lingkungan sekolah dan juga lingkungan masyarakat sekitar. Selain karena memang keadaan yang memaksa, hangat dan akrabnya teman-teman dan kakak senior saya membuat saya lupa bahwa saya sedang tinggal ditempat yang tidak umum. Singkat kata, dengan kebersamaan kami mampu saling mengobati. Ya, mengobati rasa rindu pada keluarga, rasa nyaman pada lingkungan tempat tinggal, rasa nikmat ketika biasanya untuk makan tinggal melahap. Kadangkala dimalam-malam libur atau tanggal merah ada juga beberapa teman lainnya yang ikut menginap, ahh… sungguh kenangan yang tidak ada alasan untuk dibilang pahit. Disinilah perlahan-lahan keadaan mulai membimbing kami.

Menikmati Hembusan Angin Malam

Masjid Nurul Iman tidak seperti masjid-masjid pada umumnya, jangan bayangkan masjid ini mewah, tapi jangan salah disini penuh berkah dan hidayah. Yang saya maksud tidak seperti masjid pada umumnya adalah masjid ini tidak mempunyai dinding di kanan, kiri dan depannya. Persis di samping kiri adalah kebun palm, sebelah kanan dinding kelas dan bagian belakangnya adalah sawah. (Ralat, ternyata masjid saya mewah – Mepet Kesawah J).

Setiap kali malam menjelang kami lebih senang tidur-tiduran atau pun belajar diatas lantainya, karena mulai dari sore berlanjut ke malam udaranya sangat sejuk.

Sebelum tinggal di masjid sekolah saya memiliki satu kegiatan yang tidak bisa saya tinggalkan, ya menjelang pukul 1 dinihari saya harus bangun dan pergi ke pasar Cikupa untuk membantu Bapak saya belanja sayur, buat apa ?, buat dijual kembali, karena bapak saya (semoga bapak kini bahagia disisi-Nya) adalah pedagang sayur keliling dengan menggunakan sepeda ontel dan gerobak sayur dibelakangnya. Bagi saya ini adalah sebuah kewajiban, keajiban untuk saling membantu antara saya dengan orang tua saya. Saya sadar dan yakin betul, bahwa sebetulnya orang tua sayapun tidak ingin saya menjadi bagian perjuangan tanggungjawab mereka, tapi keadaan kan tidak selamanya seperti yang diinginkan, adakalanya kita harus begini adakalanya kita harus begitu.

Sekitar pukul 5 pagi barulah saya selesai belanja dan merapihkan semua sayur-mayur tersebut untuk dijajakan Bapak berkeliling kampung ke kampung, dan kalau saya mengingat-ngingat itu sungguh itu bukan sebuah pekerjaan yang ringan. Bayangkan saja, sebuah gerobak sayur yang penuh harus didorong dari satu tempat ketempat lain yang jaraknya bisa sampai 8 kilometeran, dan itu dengan jalan kaki, begitu dagangan tersebut habis barulah Bapak bisa menunggangi sepeda ontel tuanya.

Begitu selesai sekitar pukul 5 pagi sayapun langsung kembali ke tempat tinggal baru saya, masjid sekolah. Usai menunaikan sholat subuh, saya sama teman-teman lainnya menjalankan aktifitas pagi seperti biasa, bersih-bersih masjid, halaman masjid dan tempat wudhu. Disinilah saya benar-benar mendapatkan pelajaran bagaimana cintanya Islam terhadap kebersihan, tidak diajarkan oleh teori namun oleh keadaan. Saya yang sebelumnya sering malas membuka sepatu kalau untuk sekedar mencuci muka ketempat wudhu, kini menjadi sadar kalau ternyata cape-cape kita membersihkan lantai wudhu (yang seharusnya suci) kemudian dikotori oleh orang-orang yang enggan membuka sepeti itu ternyata cukup menyebalkan (pelajaran sabar, menghargai, dan intropeksi).

Usia melakukan aktifitas pagi memang enaknya dilanjutkan ke tidur, apalagi saya belum tidur dari pukul 1 malam. Tapi keadaan mengatakan bahwa itu “haram” hukumnya bagi saya, karena saya harus masuk sekolah.

Bersambung….

**Di Serambi Masjid Sekolah (Bag. 2) **