Antara Tidur dan Baca Buku

Masuk sekolah dengan kedaan ngantuk memang bukanlah sesuatu yang baik untuk belajar, bisa dibilang *impossible *akan ada materi yang bisa diserap. Tapi apa boleh buat, saya harus sekolah, dan untuk sekolah saya harus membantu orang tua saya, tapi kalau saya terus membantu orang tua saya sekolah saya akan terganggu, tapi… terganggu masih lebih baik ketimbang tidak bisa sekolah.

Ada satu kejadian menarik (menurut teman saya saat itu, entah masih pada ingat atau tidak), saya punya sebuah cara untuk bersiasat supaya saya tidak ketahuan kalau saya ngantuk berat (bulak-balik cuci muka udah gak ngaruh sobb…). Kalau saya sudah tidak kuat dengan rasa ngantuk tersebut saya buka buku materi yang sedang diajarkan oleh bapak/ibu guru, kemudian dua telapak tangan saya letakan dikedua pipi dan masing-masing sikut berada diatas meja, muka agak ditekuk kebawah diarahkan ke buku yang sudah dibuka, kesannya sedang baca buku padahal aslinya udah zzzz…zZzZzzzz…. zZzZZZzz… heheheeee…. abis dah gak kuat banget, pliss ya buat adik-adikku cara ini jangan ditiru, mudah-mudahan aja ada bapak/ibu guru yang baca artikel ini biar adiku-adikku yang make cara ini dah gak mempan lagi.

Sepandai-pandainya tupai meloncat pasti jatuh juga – serapih-rapihnya menyembunyikan bangkai pasti terscium juga. Dua pribahasa ini ternyata benar-benar terbukti, satu ketika jadwal pelajarannya adalah PPKn, waktu itu guru mata pelajarannya Ibu Suparmi (mantan pacarnya Bapak Suseno –guru PPKn juga. Bapak dan Ibu, semoga Allah selalu melindungi yaa), waktu itu selaput kulit mata bagian atas sepertinya sudah benar-benar gak kuat untuk bertemu dengan selaput kulit mata bagian bawah. Fiuhhh…. seperti biasa, buka buku dan zZzZzzzz,,, zZzZzZZZZZZzzz….. Malang tak dapat ditolak, nyenyak tak dapat diraih. Tiba-tiba saja Ibu Suparmi menyebut namaku dan memintaku memberikan sebuah jawaban atas pertanyaannya, serasa ditampar dan disiram air “plak ! plak !!!!… byuuuuurrrrr !!!!”  sayapun bangun seketika dan panik membuka-buka halaman buku,kaget dan bingung gak ketulungan, untung  Romli (teman semeja saya- ,semoga sukses selalu ya sob dimanapun berada) langsung memainkan perannya sebagai seorang teman yang baik dengan memberitahu jawabannya. Untungnya gak jadi sob, ternyata Ibu Suparmi tahu kalau saya ketiduran. Fiuuhhhh…. kacau dah, mana ketiduran, pelajarannya PPKn lagi. Nilai PPKn jelek kan bisa menyebabkan nilai yang lainnya rontok. Ko bisa ?, *ya ibarat kata percuma aja lho pinter tapi kalo kelakuannya underdog, guru ngejelasin lho malah tidur, gak sopan. *😀

Yang Penting Kecap dan Teri Sambal Balado

Kriiiiiiiiiing…. kriiiiiiiiiiiiiiiiinng…. kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing…. alhmadulillah, akhirnya waktu sekolah hari ini selesai. Jujur, dalam masa-masa sulit seperti ini yang ada dipikiran saya kalau didalam kelas sebagian besar didominasi oleh kata “pulang”, dalam artian jam belajar selesai semuanya. Karena saya ingin buru-buru tidur. Begitu jam pulang tiba, saya bersama-sama teman lainnya langsung ke ruangan di masjid, tempat dimana kami tinggal. Usai shalat Dzuhur kami lanjutkan dengan makan siang, dipimpin oleh kakak senior kami yaitu Ka Asep Oto Dasila (semoga selalu dalam rahmay dan hidayah Allah SWT ya kaa…), kamipun siap menyantap makan siang kami.

Cara makan dan apa yang kami makan selalu spesial dan sulit untuk dilupakan. Kami makan tidak diatas piring, melainkan dengan menggunakan nampan berdiameter ± 50 cm, *mantap bukan ?, *awalnya kami memang tidak terbiasa, namuan lambat laun kami semakin merasakan semangat kebersamaan dari hal yang sederhana tersebut, jadi kalau satu orang saja tidak ada maka makan kami terasa kurang nikmat. Kadang kami merasa bahwa apa yang kami masukan kedalam mulut kami adalah sama halnya untuk 5 perut kami, satu orang makan maka semuanya harus makan.

Menunya sangat sederhana, tapi kalau saat ini saya bertemu dengan menu yang biasa tersebut sunggug terasa menjadi istimewa. Cukup nasi, diatasnya ditaburi kecap dan teri sambal balado. Terinya kalau ditempat saya sering disebut dengan teri jengki, sambalnya sendiri terbuat dari cabe merah, tomat, bawang, dan lain-lainnya deh… tidak lupa ditambahkan kacang tanah. Asyiknya lagi, diantara teman-teman kami lainnya yang tidak tinggal di masjid sekolah ada juga yang tertarik dengan cara kami makan, menurut mereka nikmat sekali kelihatannya, hingga tidak jarang merekapun menambahkan lauk-pauk ataupun gorengan untuk kemudian dimakan bareng-bareng. Luar biasa nikmat dan indahnya kebersamaan.

Dalam beberapa momen, apa yang kami makan menunya bisa jauh lebih wah…, yaitu biasanya kalau ada acara makan-makan para guru-guru. Kepedulian bapak dan ibu guru di sekolah saya tidak diragukan lagi. Begitu mereka ada acara makan-makan, merekapun tidak lupa kalau di masjid ada anak-anak mereka yang tinggal disana. Terimakasih banyak bapak dan ibu guruku tercinta, kepedulian kalian pada kami saat itu telah mengingatkan kami disaat ini, bahwa kebahagiaan itu hadir disetiap kepedulian.

Apa yang kami makan sangatlah seadannya, cara kami makan juga seadanya. Tapi, dari yang serba seadanya itu kami merasakan sebuah kebersamaan. Pada saat saya mengalami itu, mungkin terasa seperti dalam sebuah kesulitan, namun selang beberapa waktu berlalu masa-masa tersebut merupakan masa-masa yang indah dan membuat saya rindu untuk dapat merasakannya kembali.

Bersambung…