Sejenak melemparkan persoalan cinta dari yang “itu-itu saja”, yang melulu hanya persoalan hati kepada lawan jenis atau keluarga. Lemparannya kali ini coba dijatuhkan ke Batik.

Terlalu *lebay­ *sih memang rasanya kalau ini disebut persoalan seperti yang disebutkan diatas. Tapi ini kan Indonesia, kalau gak hiperbolik ya *gak *asik, acara adu keterampilan masak saja bisa jadi kaya sinteron *kok *!. Upsss… tampaknya malah over topic.

Kembali ke masalah dilema cinta dibalik batik.

![2009, terakhir kali saya mengenakan batik.](https://blog.rosid.net/content/images/2012/10/Batik-Rosid.jpg "2009, terakhir kali saya mengenakan batik.")
2009, terakhir kali saya mengenakan batik. (*gilak, kusut abis !!!)*
Hampir 6 tahun ini saya mengalami pergolakan batin ketika menggunakan batik (*halahhhh !, biasa aja kali mas !). *Ini bukan soal cinta tidak cinta. Kalau ditanya “cinta apa tidak sama batik ?”, jelas saja cinta !. Tapi masalahnya saya ingin mencintai batik dengan tanpa ada yang dirugikan.

Sama hal-nya seperti saya mencintai lawan jenis, tidak ingin ada orang-orang yang merasa tersakiti apalagi dirugikan.

Lalu apakah dengan cinta kita kepada batik bisa ada yang merasa dirugikan ?

Sangat bisa !. Tentunya bukan berarti para pedagang kain dan pakaian non batik yang dirugikan disini.

Lagi-lagi analoginya tidak jauh berbeda dengan cinta kita kepada seseorang. Cinta yang membabi butalah yang akan menimbulkan kerugian, baik di lain sisi maupun pada diri sendiri. Begitupun dengan cinta membabi buta kepada batik, alamlah yang akan dirugikan.

Eco Culture, Eco Batik

Contoh yang paling sederhana adalah saking meningkatnya rasa cinta masyarakat kepada batik sebagai warisan khasanah budaya yang penuh kebanggaan saat mengenakannya, membuat sebagian produsen mengabaikan nilai-nilai ekologis pada proses produksi batik demi mengejar keuntungan materi semata. Sehingga mereka tidak mempedulikan masalah limbah dalam pembuatan batik.

Tidak semua produsen seperti itu memang, banyak juga para produsen batik yang sangat memperhatikan dampak lingkungan, sehingga dibuatlah langkah-langkah produksi yang ramah lingkungan. Semisal penggunaan bahan alam seperti kayu secang, mahoni hingga mangrove untuk pewarnaan batik demi meminimalisir pencemaran lingkungan akibat dari limbah pewarnaan sintetis .

Apresiasipun sudah patut diacungkan kepada produsen seperti ini, karena dengan begini akan lebih meningkatkan lagi harkat dan martabat batik di mata dunia. Dimana batik sebagai warisan budaya yang lahir dari kecerdasan intelektual para leluhur bisa menjadi simbol buah kreativitas yang berwawasan keberlangsungan hidup.

Sultan Takdir Alisyahbana mengatakan : “kebudayaan adalah manifestasi dari cara berpikir”. Ini berarti tidak terkecuali  untuk batik yang bagian dari warisan kebudayaan.

Budaya memiliki tiga kemungkinan pelestarian :

  • Ditiadakan (ketika budaya tersebut dianggap tidak lagi relevan seiring perkembangan zaman)
  • Dimodifikasi (masih diperlukan dan dilestarikan, tapi butuh penyesuaian seiring perkembangan zaman. Sehingga tidak jarang melahirkan karyayang disebut ‘kontemporer’)
  • Tetap dipertahankan seutuhnya (masih sangat diperlukan tanpa ada perubahan)

Sebagai buah dari manifestasi cara berpikir bangsa kita, batikpun bisa kita ukur dengan tiga kemungkinan diatas. Dan, yang telah terjadi disini batik berada pada poin kedua dan ketiga.

Tentu ini sebuah kebanggaan, karena batik tetap eksis. Tapi, akan lebih bangga lagi kalau kitapun ambil bagian untuk memanifestasikan cara berpikir kita yang memperhatikan faktor lingkungan ke dalam batik.

Kedepannya, dengan begitu akan ada harmonisasi antara cinta kita kepada warisan budaya dengan cinta kita kepada lingkungan, dan itu tertuang pada batik.

Kita jadi tidak hanya mempromosikan batik kepada dunia, tapi mulai mempromosikan batik ramah lingkungan kepada dunia. Ketika kita mengenakan batik, akan ada rasa motivasi yang membanggakan dengan ikut melestarikan budaya bangsa tapi juga ikut mengkampanyekan Save Our Earth.

Sungguh luar biasa !. Ini akan menjadi sebuah kebanggaan yang tak akan terputus kepada generasi kita, karena kenyataannya yang bersahabat dengan alamlah yang bisa terus bertahan.


Sebagai *closing statement, *perlu saya sampaikan bahwa saya tidak sedang bermaksud memberikan catatan negatif terhadap batik. Saya justru berpandangan perlu menuliskan ini (meskipun dengan berat hati) demi tetap lestarinya batik sepanjangan masa.

Semoga bermanfaat dan menginspirasi, mohon maaf atas segala kekeliruannya.