Dua tahun sudah ku membentangkan layar bahtera pernikahan dengan istriku yang sangat ku sayangi, Indah Putri Lembayung. Awal-awal perjalanan kehidupanku pasca pernikahan selalu diwarnai indahnya pulasan tinta romantisme. Terlihat dan terasa sangat bahagia. Tidak jarang orang terdekatku selalu menyebut kalau Aku dengan Indah adalah kedua pasangan yang sangat ideal.

Di usia pernikahanku yang masih muda tersebut, perhatianku terhadap Indah istriku mulai teralihkan. Awal ku mencintai Indah tidak terlepas dari kepribadiannya yang sederhana, keibuan, dan memang cantik. Segala apa yang ada di diri Indah bagiku sudah lebih dari cukup. Bukan ku bermaksud terlalu melebih-lebihkannya, tapi memang sepertinya tidak ada alasan bagiku untuk tidak mencintai dan menyanyangi.

Tapi dasar keimananku yang masih sangat rapuh, masih saja kebejatan terus membayangiku. Hati nuraniku menginginkan Aku memiliki seorang istri yang soleha, mampu membentengi kekokohan rumah tangga, dan menjadi peri bagi anak-anakku kelak. Dan Allah telah benar-benar mengabulkan keinginan nuraniku tersebut dengan menyandingkan Indah disisiku. Tapi itu nuraniku, lain dengan ketidakmampuan pengendalian diriku. Istriku sudah begitu luar biasa, tapi tetap saja aku selalu merasa tertarik dengan perempuan yang berpenampilan seksi dan menggoda.

Ketidakmampuanku dalam mengendalikan diri benar-benar menggetarkan kekokohan rumah tanggaku yang pondasi cintanya baru saja dirintis.

Hampir setiap hari aku pulang larut malam. Begitu pulang kerja langsung jalan sama teman-teman ke tempat hiburan yang selalu diramaikan wanita-wanita berpenampilan seksi dan menggoda. Pulang dalam keadaan mabuk sudah menjadi sesuatu yang biasa bagiku mungkin menyiksa bagi istriku. Berhari-hari tak pernah aku nikmati lezatnya masakan Indah. Bayangan kelezatanya bagiku sudah terkalahkan oleh menyenangkannya dunia luar yang tanpa hadirnya sosok istriku. Sejujurnya memang tidak ada yang salah dengan diri Indah maupun kondisi dirumah, tapi kerapuhan imanku memang telah memalingkan perhatianku terhadap banyak hal, termasuk istriku.

Suatu malam, aku pulang dalam kondisi yang tak terkendali tapi tidak mabuk. Persoalan pekerjaan membuatku merasa mumet dan tertekan. Akibat situasi tersebut, kekesalan dan emosiku malah terlepaskan kepada istriku. Jiwaku yang (mungkin) setengah gila, aku ajak tiga orang perempuan untuk menghiburku dirumah. Tentu saja itu sangat membuat Indah sangat terpukul, tapi disaat itu aku tidak menyadari kalau Indah akan merasa terpukul. Yah… kehadiran Indah tak ubahnya seperti sosok patung yang ada dan tiadanya tidak berarti apa. Intinya memang perilakuku sangat biadab.

Esok hari dari malam tersebut, aku terbangun dengan kondisi kesendirian, aku teritdur dalam kondisi mabuk berat. Sementara apa yang ku lakukan dengan tiga orang perempuan tadi malam entah apa, yang pasti tidak mungkin malaikat Kirâman Kâtibîn mencatatkannya sebagai amal baik. Saat ku terbangun, tiga orang perempuan tersebut sudah angkat kaki dari rumahku. Tidak hanya itu, ternyata Indahpun pergi dari rumah.

Perginya Indah sama sekali tidak membuatku khawatir. Aku tidak membencinya, tapi meskipun aku tidak membencinya sikapku ternyata lebih parah dari benci, yaitu tidak peduli.

Dalam kesendirian, gemerlapnya dunia hiburan malam lambat laun membuatku merasa jenuh. Waktu luangku banyak ku habiskan di depan laptop, baik untuk sekedar main game, chatting, ataupun update berita. Ketika banyak menghabiskan waktu diinternet inilah pikiranku tiba-tiba benar-benar teringat pada sosok Indah Putri Lembayung, istriku yang terusir oleh kebodohanku. Dalam perenunganku aku mulai sadar kembali, kalau Aku telah banyak lalai, tersesat, lupa diri, diselimuti kebodohan, ditutupi kerapuhan.

Tidak banyak berpikir lagi, aku lekas mengenakan jaket dan pergi mencari istriku tercinta yang telah aku sia-siakan kesetiaanya. Kupacu sekencang mungkin sepeda motor yang ku kendarai menuju rumah mertuaku di Sumedang. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk perjalanan dari Cimahi ke Sumedang.

Sesampainya di Sumedang, aku disambut dengan sangat hangat dan ramah oleh kedua mertuaku. Terus terang, aku masih bertanya-tanya “kenapa mereka masih begitu ramah ?”, meskipun anak semata wayangnya telah aku perlakukan dengan sangat tidak wajar.

“Assalamu’alaikum…!!!”

“Wa’alaikumsalam… !, eh… Akmal… masuk-masuk. Waduuuh, jam berapa dari Cimahi ?, gimana perjalanannya ?”. Ayah Indah menyambut kedatanganku dengan sangat ramah penuh senyuman.

“Sehabis Isya Pak, alhamdulillah lancar.”

“Bu… ibuuu… N’dah mana ?, ada Akmal nih baru datang… “

“Iya Pa… ! Eh jang Akmal, tuh N’dahnya ada dikamar. Lagi isya kayaknya, tadi habis bantuin ibu dulu nganterin jahitannya Wa Ani. Ke kamar aja, sekalian istirahat dulu, lumayan cape kan Cimahi – Sumedangmah ?” Ibunya Indah menyambutku dari arah kamarnya, juga dengan sangat hangat.

“Iya bu… Bapak sama ibu gimana kabarnya ?”. tanyaku. Sementara dalam hatiku masih penuh tanda tanya.

“Alhamdulillah bapak sama ibu baik… Eh, udah taruh dulu tuh tasnya di kamar… gampang kita ngobrol-ngobrolmah, yang penting kamu istirahat dulu”. Dengan kalimat yang sangat penuh kasih sayang, Bapaknya Indah menyarankanku untuk istirahat terlebih dahulu.

Akupun langsung permisi menuju kamar Indah, kamar yang pasti punya berjuta kesan disaat Indah masih gadis dulu sebelum ku pinang dan kemudian ku ajak tinggal di Cimahi agar lebih dekat dengan tempatku bekerja.

Saat ku buka pintu kamar, persis sekali Indah baru selesai menunaikan shalat. Begitu dia melihat wajahku, senyum manisnya langsung terkembang dihiasi lengsung pipit di kedua pipinya, pandangannya menatapku penuh kesetiaan dan pengabdian.

“Ya Allah… kesempurnaan kuasa-Mu hadir melalui sosok wanita yang tidak pernah menorehkan luka sedikit di hatiku ini.” Gumamku dalam hati yang diiringi linangan air mata atas pengakuan penuh dosa.

Seketika istriku memeluk tubuhku, tangannya yang penuh ketulusan mengusap air mataku. Sungguh, aku tidak habis pikir betapa sabarnya istriku.

“Indah kangen pisan kang, akang udah selesai tugasnya ?” Tanya indah kepadaku sambil  menutup pintu.

Tugas ?, awalnya aku tidak mengerti tentang pertanyaan tersebut sampai akhirnya aku bisa memahami, kalau ternyata Indah bilang ke orang tuanya bahwa dia mau tinggal sementara di Sumedang karena aku sedang ada tugas dadakan keluar dari tempat bekerja, Indah tidak berani kalau tinggal sendirian dirumah. Iya sangat yakin kalau Allah akan mengabulkan do’anya selama ia bersungguh-sungguh memintanya, saking yakinnya iapun yakin kalau aku akan kembali untuknya.

Istriku terpaksa berbohong kepada orang tuanya tentang diriku. Dengan penuh rasa sayang ia melindungi kehoramatanku, ia menutupi kebobrokanku. Ia berani bertaruh sangat luar biasa antara “mudah-mudahan aku sebagai suaminya bisa segera sadar” atau “dia akan menanggung malu yang luar biasa jika aku sebagai suaminya tak kunjung sadar”. Ya Allah… betapa besarnya jiwa seorang perempuan yang engkau anugerahkan kepadaku…

Saat aku duduk ditempat tidur, Indah lantas membereskan tas dan pakaianku. Disaat aku rebahan untuk sedikit merilekskan badan, Indah langsung ke dapur merebus air untuk aku mandi. Sangat seperti biasanya waktu kami hidup bersama tanpa ada persoalan.

Belum banyak yang kami bicarakan memang. Seolah-olah menjadi satu karakter Indah kalau dia tidak akan banyak mengajakku berbicara banyak jika aku terlihat lelah, dan kecuali jika memang aku yang mengajaknya berbicara. Dia bukan hanya tau bagaimana caranya melayani seorang suami, tapi juga mengerti apa yang harus dilakukan.

Dan ternyata banyak fakta lain tentang kemulian istriku yang sama sekali tidak aku sadari.

Disaat aku mabuk ataupun marah, ia tidak marah. Tidak marahnya dia bukan karena dia tidak menyayangiku, tapi dia berpikir seandainya dia marah mungkin akupun akan lebih marah lagi, dan itu akan mengarahkan kami pada pertengkaran. Semakin mendekatkan kami pada kehancuran rumah tangga. Sebagai seorang istri dia benar-benar menjadi pondasi keluarga yang kokoh, yang menjadi penyeimbang saat aku rapuh.

Saat Indah merebus air inilah ku dapati sebuah buku diari datas mejanya, tepat ku buka halaman yang didalamnya terdapat sebuah balpoin.

Suamiku sayang,

Maafkan aku yang tanpa seizinmu pergi meninggalkanmu dalam keadaan buruk.

Maafkan aku yang tanpa seizinmu melangkahkan kaki keluar dari hizab.

Mungkin ini adalah dosa besarku, tapi aku hanya berharap tidak ingin ada dosa yang lebih besar lagi.

Aku pergi meninggalkanmu bukan aku membencimu,

Aku pergi bukan untuk menyakitimu,

Aku pergi supaya kenyataan tidak meruntuhkan kesabaranku yang akan membawa lidahku pada kalimat perpisahan, karena aku sangat mencintaimu. Mencintaimu ibarat sebuah fatwa, sekali terucap pantang ditarik, mungkin itulah menurutku.

Aku bukanlah edelweiss, tapi aku akan berusaha seperti edelweiss yang tidak pernah kering akan kasih sayang dan layu akan kesabaran.

Aku bukanlah edelweiss, tapi aku akan berusaha seperti edelweiss yang setiap orang tidak mudah untuh menyentuhku dengan penjagaan keimanan dan hijab cintamu.

Aku bukanlah edelweiss, tapi aku akan berusaha seperti edelweiss yang langka dan berbeda ketika banyak perempuan yang lalai akan tanggung jawabnya.

Suamiku sayang…

Hadirmu adalah jawaban terindah atas doa’-do’aku

Kini aku meminta kepada Yang Maha Kuasa, “Ya Allah, kalaulah aku tidak sempurna dipandangan suamiku, tunjukanlah kepadaku bagaimana menjadi istri yang sempurna. Apapun akan ku lakukan untuk-nya selama tidak melanggar syariat-Mu”.

Suamiku sayang…

Aku hanyalah tulang rusuk yang bengkok, yang bisa engkau patahkan atau engkau luruskan. Tapi, apapun yang engkau lakukan aku adalah tetap bagian dari hidupmu, bagian dari ruas-ruas tulang didadamu, bagian dari orang-orang yang pernah dan mungkin akan terus mengisi ruang hatimu sebagaimana engkau menempati ruang hatiku.

Saat terjadi kesalahan yang ku lakukan, mungkin saat itu engkau mendambakan diriku sebagai istri tanpa kekurangan dan kelemahan. Perbaikilah kekurangan diriku dengan lemah lembut, karena itulah cara terbaik meluruskan jiwa yang rapuh.

Aku tahu sebagaimana engkau juga tahu, bahwa ragaku ini, diriku ini, hanya halal buatmu seorang. Maka pintaku, berilah aku sesuatu yang halal yang bisa kunikmati sebagai nafkah lahir dan batinku. Bantulah aku berlaku pintar menunaikan hakmu, sebagaimana aku akan berusaha menjadikanmu pandai berbaik-baik kepadaku. Dengan begitu, aku berharap agar kita berkesempatan bersama menggapai ridho-Nya.

Ya Allah ya Rabbi…

Jadikanlah suami yang ku cintai melalui cintamu menjadi seorang imam yang soleh dan menyolehkan, yang sabar dan menyabarkan, yang lurus dan meluruskan, yang sukses dan menyukseskan.

Aku yakin, dengan segala petunjuk-Mu suamiku akan kembali mendekapku penuh cinta… Aku yakin, karena aku percaya bahwa Engkau masih disisiku dan disisi suamiku.

Apa yang ku baca dari tulisan singkat istriku menggambarkan bahwa betapa banyaknya kesabaran yang terus ia pendam. Ia jadikan setiap keburukanku sebagai amanah baginya yang harus dijaga sebagai seorang istri, bahkan kepada keluarganya sekalipun. Benar-benar hanya dia, Allah, dan mungkin buku kecil ini. Indah benar-benar menjadi tiang yang kokoh bagi rumah tanggaku dan kunci yang teguh bagi rahasia kehormatanku.

Terimakasih banyak ya Allah, Engkau masih menyelamatkan kehormatanku. Engkau masih menyelamatkan rumah tanggaku. Engkau masih menjaga cinta istriku…. Istriku yang menjunjung tinggi kehormatan rumah tangga, yang tidak pernah kering dan layu kasih sayang dan kesabarannya, yang tidak semua perempuan bisa menjadi sepertinya… setidaknya itulah yang ku lihat dan kurasakan.

Disklaimer :

Sesudahnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila didalam cerpen tidak bermutu yang saya karang ini ditemukan banyak kesalahan. Baik dari segi penulisan maupun penceritaannya. Mohon maaf  juga atas kesamaan nama tokoh dan tempat yang saya tuliskan. Mudah-mudahan didalamnya terkandung nilai-nilai yang dapat memberikan manfaat. Amin