Sebetulnya ini bukanlah sebuah kisah istimewa sebagaimana jika para cerpenis bercerita. Ini hanyalah sebuah momen 4 jam yang penuh pelajaran.

Sekitar jam tujuh lebih tiga puluh menit malam, saya berpamitan kepada teman-teman yang menghadiri acar **“Diskusi Budaya dan Wisata” **yang diadakan oleh ASEAN *Blogger Community *dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) di Gedung Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kemenlu.

Dengan berjalan kaki, saya menyusuri trotoar sepanjang Jalan Sudirman, kemudian berhenti di halte Ratu Plaza. Disini saya menunggu bus Feeder Blok M – Citra Raya Tangerang. Saya memilih menunggu bus ini karena hanya dengan sekali naik bisa langsung sampai ke rumah. Tanpa perlu naik – turun beberap angkutan.

Sampai  jam Sembilan, bus yang saya nantikan tak kunjung datang. Sementara bus jurusan Tangerang lainnya (AC 34 : Blok M – Poris Plawad) sudah beberapa kali melintas.

Dulu, sebelum ada bus *Feeder, *biasanya saya menggunakan AC 34. Turun di Perum Karawaci, kemudian naik angkot yang ke Cimone, terus disambung lagi naik angkot Cimone – Balaraja, turun di Citra Raya. Untuk *finishing *naik ojek sampai ke rumah.

Bayangan kenyamanan *Feeder *Blok M – Citra Raya mengabaikan saya untuk memanfaatkan kesempatan yang diberikan AC-34. Sampai pada akhirnya, sekitar jam Sembilan lebih tiga puluh meni, *Feeder *Blok M – Citra Raya tak kunjung datang dan AC 34 pun tak kunjung melintas. Ditengah kecemasan, saya masih beruntung, melintas bus PPD R 45 Blok M – Cimone yang kondisinya sudah layak untuk diremajakan.

Antara Kesempatan dan Harapan

Kejadian tunggu-menunggu bus diatas mengingatkan saya pada cerita tentang memilih rumput terbaik di tengah lapangan sepak bola sambil maju kedepan tanpa boleh mundur kembali. Tidak ada hasil yang didapat, sementara tidak sadar kita sudah sampai di ujung lapangan.

Saya telah begitu banyak melewatkan kesempatan yang ditawarkan oleh AC 34 dan tetap setia menanti *Feeder *Blok M – Citra Raya, dengan harapan bisa sampai lebih cepat. Padahal, kalau saja dari awal saya cepat ambil keputusan naik AC 34, tidak mesti saya sampai rumah hampir tengah malam.

Ini bukanlah sebuah penyesalan, tapi saya catat sebagai pelajaran dalam mengambil keputusan yang cepat dengan memperhatikan segala kemungkinan terburuk jika keputusan tersebut tidak diambil.


Allah Menjaga Lidahnya dari Keluhan

Sesampainya di Islamic Village – Karawaci, barulah saya punya kesemptaan untuk duduk. Rasa lelah dan penat beban pikiran sedikit terobati dengan duduk. Mau buka ponsel ternyata *si ponsel *sudah terlelap duluan, lowbet.

Tidak lama kemudian, sang  sopir membangunkan saya dengan santai dan ramah.

Kaget bukan kepalang, dengan kondisi yang kurang sadar saya agak kelimpungan. Tidak pikir lagi sudah sampai mana saya langsung minta turun.

Setelah turun saya tambah bingung lagi, nah lho !, ini dimana ?. Baru beberapa menit kemudian saya sadar sepenuhnya kalau saya turun di daerah Perum.

Berdiri dipinggir jalan dengan tidak tahu itu jam berapa, saya malah kepikiran  kenapa yang membangunkan saya tadi sopirnya, bukan kondekturnya ?. Saya baru ingat, (mohon maaf) kondekturnya tuna wicara.

Allah kembali menunjukan kepada saya hikmahnya yang luar biasa. Bagaimana saudara-saudara kita yang dalam keterbatasanpun tidak lelah dan tidak mengeluh dalam menjemput rizkinya.

Kalau saja kita pernah mendengar kalimat doa : *“Ya Allah, jika ini yang terbaik buat hamba, maka kuatkan hai hamba supaya bisa ikhlas menerimanya”.*Kita bisa membayangkan bagaiamana kondektur yang tuna wicara tadi menerima keadaan pada dirinya tanpa mengurangi semangat kerja kerasnya.

Sampai disini saya bertanya-tanya :

“Ya Allah, bisa jadi lidah kami yang dalam kondisi normal ini tidak lebih bermanfaat dari lidah sang kondektur tadi. Bisa jadi lidah kami ini lebih menghasilkan dosa ketimbang tidak menambah dosa. Sungguh, luar biasa rasa sayang-Mu kepada sang kondektur tadi dalam menjaga lidahnya dari keburukan ucapan seperti yang sering terlontar dari mulut kami.”


Jalanan Menguji Kesetiaan

Angkot yang saya tunggupun datang. Begitu masuk saya agak kaget ketika di dalamnya ada seorang perempuan berjilbab sedang menangis. Duduk persis di belakang pengemudi.

Angkotnya masih kosong memang, hanya ada pengemudi, saya, penumpang di samping pengemudi, dan perempuan yang menangis tadi.

* *Ternyata, perempuan yang menangis tersebut adalah istri dari si pengemudi angkot yang meminta suaminya pulang. Dan penumpang didepan adalah selingkuhan si pengemudi.

Sebelumnya saya mohon maaf. Saya tidak bermaksud menguping pertengkaran tersebut. Tapi saya tidak punya pilihan lain. Mau tutup kuping dengan headset, ponsel sayanya sendiri mati.

Ada dua dasar yang membuat saya tetap menaiki angkot tersebut : Pertama, khawatir menyinggung ketiga orang yang terlibat masalah bersama didalamya. Kedua, siapa tahu uang yang saya bayarkan sebagai penumpang bisa menambah penghasilan si pengemudi. Harapannya sih mudah-mudahan penghasilannya sesuai peruntukannya.

Kemudian saya berasumsi ; baiklah, apa yang saya saksikan ini adalah pelajaran yang harus saya bisa ambil hikmahnya.

Sang istri meminta suaminya pulang, karena anaknya dirumah selalu menanyakan bapaknya. Yang membuat batin saya terenyuh adalah ketika istri sopir angkot tersebut  bilang kalau dia sekarang jadi tukang cuci pakaian di 4 rumah sekitarnya. Alhamdulillah cukup buat makan diri dan anaknya.

Astagfirullah, saya ingin menangis rasanya saat menyaksikan itu. Saya tidak bisa menyimpulkan hikmah dari peristiwa di angkot tersebut ke dalam blog ini. Mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmahnya bersama-sama.


Hormat dan Cinta di Depan Pabrik Mayora

Sesampainya di Cimone, saya pindah naik angkot jurusan Cimone – Balaraja. Malam tampaknya sudah sangat larut, tergambar dari hampir semua angkot dalam keadaan kosong.

Singkat cerita, angkot sudah ada di depan pabrik Mayora. Cukup lama angkot yang saya tumpangi berhenti disini. Tapi *tak *apalah, saya coba memaklumi, karena si pengemudi angkot juga butuh penumpang untuk menambah pundi-pundi penghasilan demi tanggungan mereka.

Ya, angkot saya tumpangi sedang menunggu karyawan PT Mayora *ship *3 keluar. Itu juga bisa diartikan waktu menunjukan sekitar jam 11 malam.

Begitu para karyawan yang didominasi perempuan keluar, sebagian besar dari mereka langsung menyambangi orang-orang yang mencintai mereka menjemput. ‘Hujan cium tangan’pun menjadi pemandangan nyata yang saya saksikan dimalam itu.

Ya Allah, betapa indahnya pemandangan itu. Antara rasa hormat dan cinta berpadu menggugurkan semua rasa lelah sisa bekerja. Menggeser rasa kantuk dengan rasa tanggungjawab sebagai pelindung ketika harus menjemput orang yang dicintainya.

Salam penuh persahabatan *“semoga esok bisa bertemu kembali di medan juang” *melambai tertiup oleh senyuman dari tangan-tangan mereka.


Meletakan Jabatan untuk Ketenangan

Angkota sudah penuh, si pengemudipun tancap gas.

Dalam hitungan menit, saya sudah sampai di depan gerbang Citra Raya. Turun dari angkot langsung berpindah angkutan. Sebagai “hidangan penutup”, ojek-lah yang kali ini jadi pilihannya.

Kebiasaan saya jika naik ojek adalah selalu mengajak berbicara tukang ojeknya. Tidak terkecuali untuk yang satu ini.

“Keluar jam berapa Pak ?” (pakai “bapak” mengingat usianya yang sudah cukup tua)

“Dari siang Mas”

“Wah, sudah lumayan cukup dong pak buat yang dirumah. Heheheheee”

“Ya Alhamdulillah Mas, setidaknya antara kebutuhan dan pendapatan bisa ekuilibrium”

Mendengar istilah ekulibirum yang tidak umum, sayapun agak ngernyit. Ini tukang ojek jangan-jangan ahli ekonomi.

“Hah, ekuilibirum apaan pak ?”

“Seimbang Mas, ya setidaknya kan tidak defisit”.

Hemhhh… mendengar cara dia berbicara, saya tidak yakin kalau tukang ojek ini tidak sekolah cukup tinggi. Meskipun memang ijazah tidak menjamin keluasan pengetahuan seseorang.

“Istilah bapak berat-berat banget pak, bapak lulusan sarjana ya ?”. Tanya saya dengan nada canda

“Alhamdulillah mas, masih diakui bergelar doktorandus sama almamater saya” Heheheee

Kalau sudah begini apa nih kira-kira yang saya tanyakan lagi ?. Yahhhh itu dia !.

“Maaf pak, ko memilih jadi tukang ojek pak ?, apa paginya ngajar ?” (tanpa bermaksud menganggap rendah profesi tukang ojek)

“Nggak Mas, dulu saya sempat jadi PNS Pemda. Tapi setelah beberapa tahun jadi bagian dari Korps Pegawai Negeri, saya memilih mengundurkan diri.”

“Lha kenapa pak ?”

“Saya merasa tidak nyaman, ketika gaji yang saya makan bersama keluarga setiap bulannya merupakan buah dari menyogok saat melamar jadi PNS. Bayangkan, seandainya seumur-umur saya makan uang hasil kerja yang diawali dengan kecurangan. Batin saya merasa khawatir tidak *barokah *atas uang saya dapat, ditambah lagi kerja saya yang khawatir tidak bisa bernilai ibadah, karena diawali kecurangan dengan menyogok itu tadi”.

“Meskipun memang saya akui jadi tukang ojek sendiri tidak bisa lepas dari salah dan khilaf”. Lanjut si bapak tukang ojek.

Menyimak ucapan dari tukang ojek yang menohok pikiran saya, sampai-sampai saya tidak sadar kalau tujuan akhir saya sudah terlewat beberapa rumah.

Sampai disini fokus obrolan buyar. Tapi, poin-poin penting perkataan tukang ojek tadi begitu melekat dalam pikiran saya.


Tidak mau kehilangan pelajaran berharga ini, sayapun bersegera menuliskannya di blog ini. Harapannya semoga bisa menjadi pengingat saya sendiri ketika hati kering atas hikmah (mudah-mudahan jangan sampai), selebihnya semoga bermanfaat bagi yang berkenan membacanya. Mohon maaf atas keliruannya.

4 Jam Hujan Pelajaran Kehidupan

*Sumber gambar ilustrasi : fotocommunity.com *(berlisensi CC)