Sebetulnya sudah lama sekali pengen membuat artikel ini, namun karena semangat masih belum mampu juga menendang rasa malas didalam diri, akhirnya baru sekarang deh sempat menuliskannya. Emang susah ya ngalahin rasa malas itu ???, benar-benar musuh kelas kakap ! 😀

Kata atau kalimat Sekolah Unggulan tentunya tidak asing lagi dalam benak pikiran kita, sebagian besar dari kita tentunya pernah atau masih punya cita-cita untuk menjadi bagian dari “padepokan” pendidikan favorit tersebut. Beberapa waktu lalu ketika saya belajar mengajar di suatu sekolah diwilayah Tangerang, dalam beberapa kesempatan saya sering melontarkan pertanyaan kepada para peserta didik, Apa yang dimaksud dengan sekolah unggulan ?.**Dari beberapa jawaban yang tidak terdokumentaskan dengan baik (*nyesel juga, andaikan saja menggunakan pola kuisioner & random sampling mungkin sudah jadi karya ilmiah… 🙂 ), *namun tidak mengurangi porsi gambaran yang didapat, sekolah unggulan yang dimaksud peserta didik antara lain :

  1. Bangunan dan fasilitasnya lengkap dan kondisinya terawat dengan baik
  2. Sistem kurikulumnya tersusun dan dikelola dengan baik
  3. Ekstrakurikulernya banyak dan dikelola dengan aktif
  4. Sering mengikuti atau mengadakan event
  5. Siswa-siswinya baik-baik dan pintar-pintar
  6. Sekolahannya sering juara  dalam berbagai bidang
  7. Sekolah Berstandar Nasional atau Berstandar Rintisan Internasional atau bahkan Berstandar Internasional
  8. Sekolah nomor 1  di kota/kabupatennya (misalnya SMA Negeri 1 bla.. bla.. bla… )
  9. Biayanya murah, (padahal jarang sekali sekolahan dengan definisi point-point diatas biayanya murah atau bahkan gratis*) *

Hemhhhh.. kurang lebih itu definisi sekolah unggulan yang dapat saya himpun secara garis besar berdasarkan argumen para peserta didik, sobat mau *nambahin *juga boleh 😀

Esensi,  yang berasal dari kata essence yang menurut kamus Longman berarti *the most basic and important quality of something. *Kurang lebih esensi adalah makna dan kualitas paling mendasar dari sesuatu hal. Kalau dalam tulisan ini saya memberi judul “Esensi Sekolah Unggulan” (*mudah-mudahan gak’ berlebihan), *maka saya mencoba untuk bertukar pandangan tentang makna yang paling mendasar tentang sekolah unggulan.

Point-point gambaran tentang sekolah unggulan diatas tentunya merupakan sesuatu yang benar dan tidak bisa disalahkan, namun ada satu hal yang jarang terpikirkan dan itulah yang coba saya *bongkar * dari kepala saya. 😀 (padahal isinya aja kopong…).

Apa nama sekolah unggulan didaerah sobat ?, *tidak tahu ? *coba cari tahu… Sudah tahu, kira-kira bagaimana sistem penerimaan siswanya ?, upssss… saya sudah tahu jawabannya, Ribeeeettt :-D.

Paling tidak untuk masuk kesekolah unggulan dengan definisi-definisi seperti diatas minimal calon peserta didiknya harus ;

  1. Memiliki tingkat keceradasan diatas rata-rata yang dibuktikan oleh lulus ujian saringan atau daftar nilai hasil ujian akhir di tingkatan sekolah sebelumnya.
  2. Berperilaku baik alias tidak nakal.
  3. Mampu membaca Al-Quran dan menulis huruf Arab.
  4. Punya referensi prestasi seabrek.
  5. Siap mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
  6. Dan lain sebagainya yang menunjukan bahwa calon peserta didik merupakan manusia unggul diantara yang unggul.

*Oke, *sampai disitu saya ingin bertanya. Kalau yang diterima hanya siswa-siswa yang pintar-pintar dan baik-baiknya saja, bagaimana dengan anak-anak yang (maaf) kurang cerdas dan nakal ?, apakah akan dibiarkan dalam kebodohan dan kenakalan ?. Sampai disini memang satu hal yang pasti, yaitu telah terjadi kegagalan pada tingkatan pendidikan sebelumnya. Memang sekolah tidak dapat disalahkan sepenuhnya, tapi dengan begitu setidaknya sebagai pendidik kita mempunyai tanggung jawab moral dan perbaikan generasi bangsa yang kuat, hingga kita menyadari betul bahwa guru adalah agent of change. (terpujilah engkau bapak-ibu guru… 🙂 ).

**Jadi, bagi saya, kurang lebih sekolah unggulan bukan sekedar sekolah yang menjadi favorit, yang penuh dengan fasilitas mewah dan fasilitas segunung. Bagi saya sekolah unggulan sangatlah sederhana, yaitu sekolah dengan segala komponen yang ada benar-benar mampu menghijarhkan peserta didiknya dari kebodohan menjadi generasi yang cerdas dan penuh karya, dari penuh kenakalan menjadi manusia yang penuh keberadaban dan tata krama. Perkara prestasi sekolah, saya yakin dengan sendirinya akan mengikuti hasil dari proses pendidikan tersebut.

Kalau dilihat dari hal tersebut, memang tergambar sekali betapa beratnya tugas seorang guru, *(emang siapa yang bilang gempang ??… :-)). *Oleh karena dibutuhkan peran semua pihak untuk menghijarhkan generasi bangsa kearah yang lebih baik.

Terus terang sobat, tulisan ini terinspirasi dari masa kecil saya waktu sekolah SD dulu, waktu SD saya sekolah di SDN Pasirmukti,  Kab. Subang. Sekolahan saya sangat sederhana, lokasinyapun kalau dulu benar-benar ditengah persawahan, tapi sekarang alhamdulillah mulai ramai dikelilingi rumah-rumah disekitarnya. Waktu SD dulu, sekitar kelas 4-an, saya nakalnya bukan main, *strap *dan hukuman bukan sesuatu yang aneh, saya yakin teman-teman seangkatan saya masih mengingat bagaimana kenakalan saya saat-sata itu, *( naudzubillah deh… jangan sampai nurun anak cucu.. 🙂 ). *

Ketika di kelas 5, kenakalan belum beranjak juga dari diri saya, sampai disuatu waktu ketika teman-teman yang lain telah pulang, saya dipanggil oleh guru saya yang sebelumnya dikelas 4 menjadi wali kelas saya, yaitu Bapak Uri Mashuri *(kurang tahu sekarang bagaimana kabarnya, mudah-mudahan Allah selalu melindunginya, amin… :'(  ). *Ketika dipanggil takutnya bukan main diri saya, sambil saya pikir-pikir *“waduh… apalagi kesalahan gue nih, mampus dah gue…”. *Begitu pembicaraan dimulai, wajahnya sama sekali tidak terlihat marah, tapi saya masih gemeteran… Dengan nada halus, beliau mengutarakan maksudnya, singkat cerita dia menjelaskan :

Terus terang, setiap kali bapak mengajar pikiran yang berpengaruh dipikiran bapak itu tentang kamu dan sifat-sifatmu, segala kemampuan sudah bapak gunakan supaya kamu dapat berubah. Terus terang bapak merasa gagal dalam mendidik selama kamu seperti ini, bagaimana bapak harus mempertanggungjawabkannya terhadap orang tuamu… ?, bagaimana bapak harus mempertanggungjawabkan atas kegagalan kewajiban bapak dihadapan Alloh ???… kamu adalah amanah buat bapak, dan bapak akan sangat berdosa ketika bapak tidak berhasil menjaga amanah sebagaimana mestinya…

Suasana yang takut, menjadi haru seketika, tak’ kuat hati saya begitu melihat matanya berkaca-kaca, dari situ sedikit-demi sedikit hati dan pikiran saya mulai terbuka, bahwa saya merasa benar-benar menjadi murid yang menyusahkan, yang telah memperberat  pertanggunganjawaban seorang  guru yang besar dihadapan Alloh. Terimakasih banyak buat Pak Uri, buat semua guru-guruku yang telah dan terus berusaha menghijarhkan diriku bahkan hingga saat ini…. I Love U all… Semoga Alloh terus merahmati dan meneguhkan semangat perjuangan bapak – ibu dalam mengemban amanah sebagai agen of change. 🙂

Tulisan ini  bisa juga benar atau bahkan keliru atau salah total, oleh karena itu saya sangat berharap sekali adanya input sebagai bentuk saran, kritik atau bahkan bertukar pikiran yang pada intinya untuk menambah wawasan dan pengetahuan… 🙂