kesalahan dalam berinternetSejatinya kita semua tau kalau internet ada untuk menunjang kita dalam mempermudah berbagai pekerjaan dan aktifitas dalam kehidupan. Banyak hal memang dalam internet, tidak hanya sebatas transformasi data dan informasi semata, dalam perkembangannya internet seolah memindahkan lingkungan suatu kehidupan ke sebuah dunia baru, dunia yang hanya bisa dilihat dan didengar namun tidak untuk diraba, oleh karena itulah ia disebut dunia maya. Dunia yang dimana paru-parunya adalah server-server *space data *yang berperan sebagai *cloud computing, *dan jantungnya adalah penyedia layanan internet yang terus memompa bandwith ke berbagai pembuluh *browser *dan aplikasi di tiap gadget yang terhubung kepadanya.

Luar biasa memang peran dan perkembangan internet ini, dengan kondisi seperti ini bisa-bisa kebutuhan primer dalam teori ilmu ekonomi menjadi bertambah satu selain dari sandang, pangan dan papan. Hehehe… *lebay *banget ya. Tidak heran memang kalau dalam perjalanannya banyak terjadi fakta yang keliru tentang perlakuan kita terhadap internet, akibat kesalahan kita sendiri dalam memperlakukan internet yang terlalu berlebihan.

1. Penggunanya Cepat Emosional

Sebetulnya hal ini tidak akan terjadi kalau saja kita mau bersikap bijak sedikit. Pernahkah kita marah-marah atau bahkan hampir membanting handphone kita karena kesulitan saat mau buka twitter ?. Secara logika, kita tidak akan mati tanpa membuka twitter dalam beberapa saat, tapi entah kenapa kita merasa seperti dalam posisi yang disudutkan oleh seekor macan di ring tinju saat tidak bisa mengakses internet. Ingat, internet hanyalah sarana penunjang, selebihnya ada dunia nyata yang memerlukan tindakan lebih nyata. Jadi, jangan pernah gantungkan persoalan kehidupan kita di internet, bukan apa-apa, saya hanya khawatir begitu servernya mati sobat malah ikutan-ikutan mematikan diri (naudzubillah).

2. Kecanduan dan Lupa Daratan

****Apakah sobat saat ini merupakan pengguna internet aktif setiap hari lebih dari 3 jam ?. Kalau iya, cobalah untuk tidak melakukan itu selama 1 hari. Kalau setelah cuti dari internet (minimal 1 hari) sobat merasa dunia ini terasa sepi, hampa dan membetekan, dan sobat baru merasakan ada kehidupan saat membuka internet kembali, itu artinya sobat sudah kena *Sindrom Kornet Stadium 4. *Apa itu Sindrom Kornet ?, yaitu Sindrom Korban Internet. Kenapa dibilang sindrom ?, karena kalau kadarnya sudah berlebihan dan membuat kecanduan itu tidak ada bedanya dengan sebuah penyakit, dan sobat akan “sakau” secara mental dan perasaan apabila lepas dari internet.

Begitu sobat offline sobat akan merasa bete dan kesepian, ini tidak disebabkan oleh dunia yang tidak lagi ramai atau orang-orang telah meninggalkan sobat. Cobalah keluar sejenak, populasi dunia semakin meningkat jadi sangat mustahil dunia menjadi sepi. Cobalah kunjungi teman-teman sobat yang selama ini lama tak berjumpa, cobalah tengok tetangga sebelah yang selama ini hampir tidak sobat kenali, cobalah nimbrung dan bergabung dengan kegiatan-kegiatan gotong royong atau acar-acara yang penuh kebersamaan. Sobat akan sadar, bahwa selama ini sobatlah yang telah mengasingkan dan menyepikan diri sendiri dihadapan komputer, laptop dan handphone. Pikiran kita telah dibawa bekhayal terlalu jauh, sehingga lupa tentang lingkungan kehidupan disekitar kita yang lebih nyata dan lebih dekat. Dan inilah yang menyebabkan orang-orang diluaran sana banyak yang menjadi kurang waras dengan ide gilanya, yaitu menikah dengan karakter virtual.

Setiap perbuatan kita tidak bisa dinilai berarti tanpa ada tindakan nyata, dan tindakan nyata kita minimal bisa dinilai oleh orang terdekat disekitar kita. Maksudnya apa ?, maksudnya, sehebat apapun orang mengenal kita di internet kalau di dunia nyatanya kita tidak pernah berbuat apapun karena terlalu banyak “hidup di internet” itu artinya nilai sesungguhnya tentang diri kita adalah nol, dan bahkan minus.

3. Mempercayai Isi Internet Sepenuhnya

****Pada artikel saya sebelumnya yang berjudul “Internet Sehat, Berbudaya Internet Berkarakter Indonesia” saya pernah mengatakan : *“Tidak semua yang dikatakan oleh internet itu benar adanya, jadi berhati-hatilah karena ilmu yang keliru lebih berbahaya dari kebodohan”. *Nah, dalam opini saya kali ini saya ingin kembali menegaskan hal tersebut. Tidak perlu jauh-jauh dulu, pernahkah sobat tertipu oleh salah satu akun (atau bahkan lebih) di facebook atau jejaring sosial lainnya ?, dan parahnya lagi sobat merasa tertarik bahkan sampai sempat menyatakan cinta. Oke, kalau sobat keberatan untuk menjawabnya biarlah saya yang jawab sendiri, dan saya jawab “pernah”. Eits… tidak perlu menertawakan saya, cukuplah pengalaman buruk saya tersebut jadi pelajaran buat kita semua.

Ketika kita dengan cerobohnya percaya begitu saja dan menelan bulat-bulat setiap apa yang kita saksikan, itu artinya ada 2 kemungkinan. Pertama, kita emang (maaf) bodoh dan kedua, kita terlalu baik, dan memang kalau menurut saya orang baik dan bodoh beda-beda tipis, sebab orang baik itu mudah dibodohi. Nah, mungkin seharusnya kita menjadi manusia yang baik tapi teliti, tapi kalau setiap kebaikannya diniatkan untuk ibadah, insya Allah meskipun dibodohi tidak akan menjadi sia-sia. Dan kadang tidak jarang juga sih kalau orang baik tapi teliti, itu biasanya perhitungan. Jadi mau pilih yang mana, orang baik tapi bodoh apa orang baik tapi teliti ?. Kalau saya sih mending milih orang baik dan juga ikhlas. Heuheuheuuu… amiiin.

Kembali ke…topik.

Jadi, apa yang ada di internet jangan langsung kita percayai sepenuhnya, karena tidak semua yang ada di internet itu benar, baik itu tentang seseorang, ilmu dan informasi, jual – beli, berita, opini, ideologi, bahkan tentang agama sekalipun. Dan untuk mempercayainya usahakan mencari referensi sebanyak mungkin sebagai bahan pembanding dan penguat, karena menurut saya untuk mempercayai apa yang dikatakan oleh internet tidak ubahnya seperti memilih pada pemilihan umum, yaitu jangan sampai memilih (mempercayai) kucing dalam karung.

Baik sobat, demikian dulu fakta keliru seputar pengunaan internet yang bisa saya sampaikan, kalau ada sobat-sobat yang mau menambahkan dengan sangat senang hati saya menerimanya. Opini ini tidak saya tulis sebagai sebuah karangan belaka, melainkan didasari oleh pengalaman saya sendiri. Saya pernah kecanduan jejaring sosial Nimbuzz selama 2 tahun, pernah juga kecanduan facebook berbulan-bulan, keduanya benar-benar membuat saya seperti tidak peduli dengan kehidupan dunia nyata, pernah juga menjalin hubungan asmara melalui dunia maya selama 3 kali yang kalau dikalkulasikan waktu dari ketiganya itu hampir 2 tahun, dan ironisnya saya tidak pernah bertemu dengan ketiga sosok orang yang pernah cintai tersebut, yang 2 menghilang begitu saja dan yang 1 jaraknya terlalu jauh, tapi alhamdulillah komunikasi dengan yang satu ini masih lancar dan normal. Hehehee… tapi saya sama sekali tidak pernah menyesali itu, saya justru merasa bersyukur, karena dengan begitu saya mendapatkan pelajaran yang akan menjadi manfaat jika saya mau mengambil hikmah dan membagikan pelajarannya.

Intinya pergunakanlah internet secara bijak, kalau perlu sobat buat dosisnya. Tidak ada salahnya untuk belajar kehilangan sejenak, toh kita juga akan kehilangan untuk selamanya. Owh.. iyaaa…, sampai saat tulisan ini diposting saya sedang coba mempelajari rasanya kehilangan kontak komunikasi lewat ponsel, yaitu program pribadi “60 hari tanpa ponsel”, lumayan lucu juga ternyata sensasinya sobat, disaat ponsel sudah menjadi kebutuhan pokok setiap orang, saya mencoba untuk mencari rasa tiba-tiba tidak menggunakan ponsel selama 2 bulan, dan sekarang baru 56 hari. Tinggal 4 hari, insya Allah kalau tidak ada halangan nanti pengalamannya saya posting juga. Beberapa waktu lalu juga saya sempat mencoba “bagaimana rasanya kehilangan akun facebook ?” dengan cara menutup aku facebook pertama saya (Javasland Underconstruction) secara permanen, padahal pertemanan sudah hampir dua ribu dan banyak daftar sahabat-sahabat saya, serta memiliki nilai komersil yang lumayan karena sering saya gunakan sebagai media promo. Tapi sayang, saya belum sempat memposting pengalamannya.

Pesan terakhir saya untuk postingan ini (mengutip dari sahabat saya dari Nimbuzz, yaitu Kang Iboy di Karawang – Semoga sehat dan sukses selalu kang) : *“*Jadikan Dunia Maya Sebagai Ajang Komunikasi dan Dunia Nyata Sebagai Ajang Silaturahmi”.