[dropcap style=”font-size: 60px; color: #009900;”]P[/dropcap]erbaikan diri atau Self Improvement kadang saya anggap bukanlah sesuatu yang alami bagi kebanyakan orang, termasuk bagi diri saya sendiri.

Pada kenyataannya, kebanyakan dari kita seperti merasa “ogah berubah”. Seolah memiliki rasa takut untuk mengubah hidup, terutama takut mengubah diri sendiri.

Jadi, bukannya mengubah atau memperbaiki keadaan hidup, kebanyakan dari kita akan lebih suka mempertahankan status quo dan bermain dalam posisi “cari aman” menurut intuisinya.

Ada banyak alasan yang berbeda bagi setiap orang ketika menolak atau menghindari perbaikan diri. Alasan-alasan berikut ini merupakan beberapa rintangan (sepertinya) terbesar yang seringkali menghalangi diri kita (khususnya saya) untuk menjadi lebih baik.

Terlalu banyak memiliki dan memelihara kebanggaan

Salah satu hal yang paling umum yang menghalangi kita untuk melakukan perbaikan diri adalah bahwa kita memiliki kebanggaan terlalu banyak yang cenderung berbau kesombongan.

Ini dikarenakan kata “perbaikan diri” sering menyiratkan bahwa ada bidang kehidupan di mana kita tidak sepenuhnya baik, penuh kelemahan yang kita sendiri tidak suka mengakuinya kalau itu sebagai kekurangan.

Sampai batas tertentu, “perbaikan diri” berarti harus mengakui bahwa kita bisa lebih baik dari situasi saat ini. Bahkan juga menyadari kalau untuk sementara waktu akan berbenturan dengan ego kita.

Jadilah diri sendiri mungkin benar, tapi benar dilihat dari sisi mana dulu tampaknya patut dipertanyakan. Jangan sampai teori “jadilah diri sendiri” menjadi pondasi lisan dan pikiran kita untuk mengatakan “ya inilah saya !” (seolah-olah membanggakan kekurangan diri).

Kita dapat mengatasi hal ini dengan mengakui bahwa tidak ada yang sempurna, dan semua orang dapat memperbaiki diri dengan cara yang berbeda.

Memahami bahwa saya, anda, kamu atau dia adalah seorang individu yang selalu berkembang dan berubah, ini bisa menjadi alasan bagi kita untuk merasa malu jika tidak melakukannya.

Hanya orang yang tidak mengejar perbaikan diri, yang mengabaikan bahwa mereka dapat berbuat lebih baik diberbagai aspek kehidupan mereka,  yang benar-benar memiliki ego perusak pada akhirnya.

Berpikir akan selalu ada hari esok

Masalah lain yang kita hadapi ketika mengejar perbaikan diri adalah  memiliki keyakinan palsu bahwa akan selalu ada hari esok atau lusa. Padahal kita sendiri tidak pernah tahu masih hidup atau tidak dalam beberapa detik kedepan.

Jadi, bukannya bekerja untuk membuat perubahan dimulai dari hari ini, tapi kita menunda dan menunda tujuan dan impian dalam hidup.

Sayangnya, jika kita terus mengikuti kebiasaan ini, maka suatu hari kita bisa terbangun dan menyadari jika seluruh hidup kita telah melewatkan begitu banyak kesempatan. Kemudian (seperti) dengan bodohnya kita merasa tidak pernah mendapat kesempatan untuk melakukan hal-hal yang kita benar-benar ingin lakukan.

Istilah “masih ada hari esok” tidak lebih sebuah penyemangat ketika kita gagal hari ini di medan juang. Selebihnya perjuangan hari ini tetaplah yang menentukan.

Memang, kita semua mengalami fenomena berlalunya waktu tanpa kita sadari. Tapi kemudian kita semua harus menyadari bahwa hari ini adalah esoknya kemarin, dimana kita berjanji untuk melakukan sesuatu. Jadi kita harus bertindak hari ini.

Mengapa kita tidak belajar untuk melakukan segala sesuatu seolah-olah itu merupakan kesempatan terakhir kali ?. Hemhhh… Mungkin kita terlalu percaya kepada “keajaiban akan keindahan” di masa depan, sehingga kita menjadi lalai untuk memulai selangakah demi selangkah mewujudkannya.

Pelajaran di sini adalah Jangan biarkan waktu hanya berlalu begitu saja. Hidup ini sangat singkat dan besok tidak pernah bisa jadi jaminan.

Yakin dapat mengubah dalam sekejap

Kita sering mengharapkan perubahan yang besar dan cepat. Jadi, ketika keajaiban yang dipercaya bisa membuat hidup kita lebih baik dalam waktu singkat tidak kunjung datang, kita cepat kehilangan komitmen dan dedikasi ke arah perubahan positif secara bertahap.

Ini bisa dibilang perangkap umum yang membuat kita jatuh ke dalam lubang frustasi.

Seringkali lupa, jika perbaikan diri itu dimulai dari hal-hal kecil dan bertahap. Kita perlu bekerja untuk jangka waktu yang lama sebelum kita bisa menengok ke belakang dan melihat seberapa besar perubahan yang telah dibuat.

Alih-alih mencari solusi ajaib untuk hidup, sepertinya fokus pada perubahan kecil dan bertahap adalah pilihan yang terbaik. Perlu dicoba untuk membuat sedikit kemajuan setiap harinya, sembari menyadari kalau itu adalah komitmen jangka panjang.

Dibagian ini saya cenderung percaya dengan teori “sesuatu yang bisa diraih dengan mudah, besar kemungkinannya bisa hilang dengan mudah juga”.

Merasa terlalu sibuk

Last but not least, salah satu alasan yang paling umum yang kita miliki adalah bahwa kita “terlalu sibuk.”

Ingin pergi berolahraga, tapi seperti tidak dapat menemukan waktu yang tepat, karena terlalu sibuk di tempat kerja, di rumah, atau melakukan tugas lainnya.

Tentu, kehidupan bisa menjadi sibuk (tidak ada yang menyangkal itu), tapi ketika kita menemukan diri kita “terlalu sibuk”, bias jadi itu merupakan tanda jika kita perlu mengevaluasi kembali skala prioritas.

[quote]”Mereka yang berpikir bahwa mereka tidak punya waktu untuk kesehatan, maka cepat atau lambat harus punya waktu untuk penyakit.”** Edward Stanley**[/quote]

Di titik ini, sepertinya sudah saatnya untuk bertanya pada diri kita sendiri, “Apa yang benar-benar penting bagi saya ?”. Kemudian memilah waktu untuk hal-hal yang dinilai paling penting.


Pesan dari penutup postingan ini adalah : “Jangan anggap tulisan ini sebagai tulisan yang menggurui”. Sama sekali tidak ada maksud kesana, karena pada dasarnya postingan ini adalah sindirian untuk diri saya sendiri yang mudah-mudahan saya bisa menjadi lebih baik. Salam 🙂