Sebelumnya saya sama sekali tidak kepikiran untuk membahas apa yang sedang sobat baca saat ini, dihalaman ini. Inspirasi bermula ketika seorang teman, sekaligus juga saya anggap sebagai *teteh *(panggilan kakak perempuan Sunda), sepaket dipanggil juga ibu atau bunda. Sebagai teman karena setiap berkomunikasi dengan beliau seperti tidak ada *gap *dan orangnya blak-blakan. Sebagai seorang *teteh *karena usianya memang jauh diatas saya dan wajib hukumnya bagi saya untuk menghormati sesorang yang usianya diatas saya. Sebagai seorang ibu, karena memang beliau adalah ibu bagi puluhan bahkan ratusan anak didik-nya, ya beliau adalah seorang pengabdi di dunia pendidikan. Kalau beliau tidak keberatan sebut saja namanya Teh Furi (sukses selalu ya teh… )

Kamis, 15 Juli 2011, sekitar pukul 15.40 di dinding facebooknya beliau menulis sebuah status yang bunyinya sebagai berikut :

JIKA BENAR LELAKI ITU MENCINTAMU..♥..♥..♥..♥..

♥ Dia tidak akan MENYENTUHMU sebelum menikah denganmu ♥
♥ Dia tidak akan MEMANGGILMU SAYANG sebelum menikah denganmu♥
♥ Dia tidak akan MELIHAT AURATMU sebelum menikah denganmu ♥
♥ Dia takkan menyebabkanmu LALAI DARI MENJADI HAMBA ALLAH YANG BAIK ♥

Sayapun memberikan komentar :

Cik lenyepan tah Kabayaaaaan… Iteuuuung… Kabayan kudu jadi nu kumaha jeung Iteung kudu neangan nu kumaha… 😛” (Ayo silahkan renungkan Kabayan -kiasan untuk laki-laki-… Iteung -kiasan untuk perempuan- Laki-laki harus menjadi seperti apa dan Perempuan harus mencari yang seperti apa)

Teh Furi membalas komentar saya :

bakal aneh pisan pami jaman kiwari aya keneh nu kitu… walau pun mungkin ada…” (Akan terasa aneh sekali kalau zaman sekarang masih ada yang seperti itu… walaupun mungkin ada”

Sampai disitu, ternyata status dan balasan komentar Teh Furi benar-benar menggelitik pikiran dan perasaan saya. Sepertinya ada benarnya memang , akan terasa aneh jika dizaman seperti ini masih ada Laki-laki yang  mencintai pasangannya sebelum menikah ;

  • Tidak menyentuh perempuan yang dicintainya sebelum dinikahinya
  • Tidak akan memanggil “sayang” perempuan yang disayanginya sebelum dinikahinya
  • Tidak akan melihat aurat perempuan yang dicintainya sebelum dinikahinya
  • Perempuan yang dicintainya tidak akan menyebabkan lalai dari kewajibannya sebagai hamba Allah

Kata aneh menjadi muncul ketika ada satu hal yang resesif ditengah-tengah sesuatu yang dominan. Misalnya, pakaian sepenuhnya berwarna merah, ternyata ditengah-tengah dominasi warna merah tersebut terdapat warna kuning sebesar ibu jari dibagian punggung, kecil memang tapi akan terasa aneh bukan ?, apalagi jika perbedaan warnanya sangat kontras.

Aneh atau tidak kadang tidak terkait dengan benar atau salah selama mayoritas dianggap sebagai sesuatu yang sah dan benar. Contoh ; ketika 90 % tenaga kerja dilingkungan dinas pemerintahan menganggap bahwa korupsi (disadari atau tidak) sebagai sesuatu yang lumrah, wajar, dan dianggap sesuatu yang biasa oleh sebagai besar karyawan dilingkungan tersebut. Ketika ada 1 karyawannya yang bertolak belakang dengan kebiasaan tersebut, maka ia akan di cap munafik, dilabeli cari muka, digelari sok suci, dan yang pasti dianggap aneh.

Demikian halnya dengan contoh status facebook Teh Furi diatas, keadaan membuktikan kalau sepertinya menyentuh pasangan, memanggilnya dengan kata “sayang”, melihat auratnya, dan lalai karena orang yang dicintai sudah terkesan sangat lumrah sekali. Siapapun pasti akan bilang kalau itu semua adalah sesuatu yang keliru, tapi hampir sebagian besar pula tidak bisa menapiknya kalai ia  pernah melakukan hal seperti itu. Karena sebagian besar seperti demikian, maka keadaan dan lingkungan seolah-olah membenarkan hal tersebut. Dan tidak terlalu heran ketika ada yang bilang :

“Hah, belum pernah dicium atau mencium selama pacaran ?, masa sihhh ?, gak yakin gwe…”

Ungkapan kalimat diatas menggambarkan kalau sesuatu yang tidak salah tapi dianggap aneh. Tapi faktanya memang demikian.

Saya jadi ingat dengan filosofi ikan Salmon, satu karakter keunikan dari cara hidup ikan Salmon yaitu ia selalu melawan arus. Kalau arus kehidupan saat ini mengarah pada tujuan yang salah, keliru, dan menjerumuskan, sepertinya tidak ada salahnya kalau kita melawan arus seperti ikan Salmon. Dengan sifatnya yang melawan arus, ikan Salmon sangat dikenal sebagai ikan yang berkarakter dan turut melambungkan harganya juga. Bukan tidak mungkin, jika kita melawan arus yang salah akan menunjukan bagaimana kekuatan kepribadian kita yang tidak mudah terbawa arus dan dengan sendirinya akan melambungkan nilai kehormatan kita, paling tidak dihadapan Allah SWT.

Jadi bisa disimpulkan kalau dunia membutuhkan karakter “manusia-manusia yang dianggap aneh” oleh dominasi keadaan yang melumrahkan kekeliruan. Mudah-mudahan kita bisa menjadi “manusia yang aneh ditengah-tengah kekeliruan”, namun spesial “ditengah-tengah kebenaran”. Semoga, malam** nisfu sya’ban** ini bisa menjadi momentum bagi kita untuk mengevaluasi diri…