Siapa yang tidak kenal dengan benda yang satu ini, kaos kaki ?. Bentuknya yang seksi dan lentur serasa dengan fleksibel-nya mudah membalut dengan mesra kaki siapa saja.

Begitu dikeluarkan dari lemari atau etalase toko, siapapun tidak akan pernah segan jika diminta menciumnya. Yaaaa… ia masih bersih, wangi, dan juga singset, membuat kaki siapapun merasa tergoda.

Cerita menjadi lain berbeda, ketika ia telah digunakan oleh tuannya. Usai dipakai, ia dilepas hanya dengan digulung-gulung. Bahkan, ada pula yang melemparkannya.

Berhari-hari kadang ia tidak mendapatkan pembersihan dan wewangian. Menjadi ironis ketika ada yang tidak pernah mencucinya dan langsung membuangnya begitu saja. Hemh… habis wangi bau dibuang !

Apa harus langsung dimasukan kembali ke dalam lemari ?

Tentu saja tidak !. Karena memang bukan soal  itu yang akan kita bahas disini, ada sisi lain dimana kita dapat mengambil hikmahnya.

Sobat, Kaos kakipun tidak pernah lepas dari tuduhan bau, meskipun bau itu sendiri sejatinya hanya limpahan dari kaki “majikannya”. Tapi ia tidak protes, dan kitapun tampaknya jarang menyadari kalau sumber bau bukanlah dari kaus kaki, tapi dari kaki kita sendiri.

Inilah gambaran keikhlasan dari sebuah pengabdian. Ia memberikan perlindungan, menghantarkan kenyamanan, dan menyelimutkan kehangatan. Tidak hanya sampai disitu, ia pun “pasang badan” atas tuduhan bau (baca : kesalahan).

Tidak kah kita malu kepada kaus kaki ?.

Ketika masih bertanya ; “apa yang mereka berikan kepada saya ?”.

Ketika masih senang saling lempar tanggung jawab atas konsekuensi yang seharusnya ditanggung ?.

Kalau masih, bisa jadi kita kalah terhormat dari kaus kaki yang selalu rela menjadi pijakan kaki dan bahkan “tuduhan” bau, padahal ia memberikan peran mulia.

Hikmah Kaos Kaki