Siapa yang tidak kenal bubur ayam ?, meskipun racikan dan sajian yang kadang berbeda di tiap daerah sepertinya sama sekali tidak merubah penamaan atau penyebutannya. Bubur ayam Cirebon mempunyai khas yang agak encer tapi mempunyai rasa gurih meskipun belum ditambah pelengkap, berbeda dengan bubur ayam Pemalang, tidak begitu gurih ketika belum diberi pelengkap tapi tidak encer.

Apapun resepnya, cara pengolahannya, dan cara penyajiannya, itu semua tidak merubah ciri khas utama dari bubur ayam, yaitu :

  1. Beras yang dimasak menjadi lebih encer dan berubah dari sifat nasi. Dengan jumah beras yang sama jika dimasak menjadi bubur maka volumenya akan menjadi lebih banyak dibanding dimasak menjadi nasi.
  2. Ayam satu potong disuir-suir, tidak disajikan secara utuh.

Dua unsur yang saya sebutkan diatas adalah bagian pokok dari bubur ayam. Tapi, pernahkah kita membayangkan pesan dari kedua unsur tersebut, yaitu bubur dan ayam yang kemudian kita sebut bubur ayam. Kenapa berasnya dijadikan bubur dan kenapa ayamnya disuir-suir ?.

Dengan beras yang dijadikan bubur voluemnya bisa lebih banyak, dan itu artinya bisa dinikmati oleh banyak orang, meskipun mungkin tidak seenak nasi dan powernya tidak sekuat nasi pula. Demikian hal-nya dengan ayam, jika disuir-suir maka akan lebih banyak orang yang akan merasakan lezatnya meskipun mungkin tidak dalam jumlah yang banyak. Bayangkan itu semua jika dalam kondisi krisis beras dan lauk pauk ?.

Bubur ayam memberikan pesan kepada kita bagaimana hidup harus saling berbagi, sama rasa sama rata. Apa yang ada harus dibagikan secara adil dan merata, terutama dalam keadaan sulit. Tidak ada yang egois, semuanya harus bisa altruis.

Demikianlah sebuah gambaran singkat dan sederhana dari semangkuk bubur ayam, yang ternyata memberikan sebuah pesan yang berharga buat kita. Semga bermanfaat.