Tidak ada yang suka dengan kondisi ini (wabah virus Corona), tapi ketika yang Maha Kuasa sudah berkehendak, tidak banyak yang bisa kita perbuat, beberapa di antaranya berikhtiar menjaga diri, sekaligus memohon agar dihindarkan. Kenapa? karena risiko terburuk dari wabah virus ini adalah kematian.

Risiko inilah yang membuat kita begitu merasa khawatir. Khawatir atas keselamatan diri sendiri, keluarga, anak dan istri, serta umat manusia lainnya.

Terus berada dalam kekhawatiran juga tidaklah baik. Rasa khawatir yang berlebih malah bisa membuat diri kita semakin lemah. Kondisi lemah membuka kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya apa yang dikhawatirkan.

Pada waktu kita khawatir, kita terkadang lebih percaya pada masalah kita dari pada janji Allah. - Tjut Nyak Dien

Maka, cara yang bisa kita lakukan untuk menggeser kekhawatiran itu adalah menarik hikmah dari sesuatu yang yang kita khawatirkan.

Dikutip dari Hidayatullah:

Dalam bahasa umum hikmah dipahami sebagai kebijaksanaan atau bijaksana. Dan, di dalam Al-Qur’an istilah ‘hikmah’ yang merupakan langsung dan asli dari Al-Qur’an itu disebut sebanyak 20 kali. Hamid Fahmy Zarkasy dalam artikelnya yang berjudul “Hikmah” menjelaskan bahwa Hikmah juga berkaitan dengan berpikir yang logis dan mendalam. Karena itu Ibn Rusyd menerjemahkan ‘hikmah’ dengan filsafat dan hakim dengan filosof.

Mengambil hikmah dari wabah Corona bisa jadi salah satu upaya dalam menenangkan diri sendiri. Menghindarkan diri dari rasa panik. Jika kita tarik beberapa hikmah dari wabah ini, mungkin kita akan mendapatkan beberapa kesimpulan seperti di bawah ini:

  1. Dengan adanya himbauan atau kebijakan bekerja dari rumah, kita jadi memiliki waktu yang lebih banyak bersama keluarga. Kita jadi tahu bertapa beratnya rutinitas istri mengurus rumah dan anak. Istri jadi tahu, betapa rumitnya pekerjaan suami di kantor.
  2. Lebih peduli dengan kebersihan. Rajin cuci tangan, hati-hati dalam menyantap berbagi makanan.
  3. Tempat-tempat yang menurut kita tidak membawa kebaikan, setidanya berhenti beroperasi untuk sementara waktu. Semoga selamanya! :)
  4. Polusi dan kerusakan alam akibat perbuatan tangan-tangan kita memiliki potensi berkurang
  5. Lebih bisa menghargai betapa berat dan mulianya profesi di dunia medis (dokter, perawat, apoteker, dll). Mungkin kita sering tidak sadar, bahkan sampai marah-marah, ketika di rumah sakit, kita merasa pertolongan mereka dirasa lambat tanpa mau tahu apa sebab mereka (yang menurut kita) tidak cepat. Padahal, bisa jadi karena banyak juga pasien yang harus diberi pertolongan.
  6. Merasakan betul, betapa indahnya salat berjamaah atau ibadah di rumah ibadah.
  7. Betapa berharganya kemerdekaan yang selama ini kita miliki. Bisa pergi bebas kemana suka, bertemu dengan orang-orang, menghirup udara segar, menikmati sinar matahari. Bisa jadi, selama ini kita kufur atas nikmat-nikmat tersebut. Dengan peristiwa ini, semoga kita bisa lebih bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan.
  8. Muncul rasa syukur atas pekerjaan yang dimiliki, sehingga masih bisa dikerjakan dari rumah. Sekaligus juga lahir rasa empati kepada saudara-saudara kita ketika di kondisi seperti ini (dianjurkan untuk #TetapDiRumah) tapi harus tetap berjibaku mencari nafkah untuk keluarganya.
  9. Dan lain sebagainya. Sila didaftar dan direnungkan sama-sama.

Ada begitu banyak hikmah yang bisa kita ambil

Hal kurang baik akibat dari wabah ini pasti memang ada, tapi bukan itu yang mau kita bahas. Dengan menarik hikmahnya, justru diharapkan pikiran kita bisa dilepaskan dari pikiran-pikiran negatif yang bisa membelenggu, yang bahkan bisa menimbulkan prasangka buruk kepada Allah SWT.

Jadi, apapun kondisinya, semoga kita selalu berpikir positif!