Berada di tengah laut seperti hidup di dunia yang berbeda. Indah, namun berbahaya, tapi juga menarik, menginspirasi kekaguman yang tak ada habisnya.

Kebiasaan atau rutinitas apapun yang dilakukan akan selalu memiliki dampak besar pada karakter kita. Tak terkecuali laut dan para pelautnya, laut yang begitu kuat disadari atau tidak telah meninggalkan jejak yang begitu kuat pada orang-orang disekitarnya. Inilah hikmah yang akan coba kita petik.

Saya belum pernah menghabiskan hidup di laut. Tapi, setiap kali ke laut atau kemudian membayangkannya, saya merasa ada pelajaran hidup yang diajarkan oleh laut.

hikmah laut

Tujuan Akhir Tidak Selalu Bisa Dilihat

Ketika mengarahkan pandangan ke segala arah di laut terbuka, indra tidak bisa memberitahu kita sedang berada di mana, atau kemana kita melaju. Cakrawala membentang jauh ke segala arah. Anda harus mengandalkan cara lain untuk mengetahui apakah Anda berada di jalur yang tepat ke tujuan. GPS atau astro-navigasi mau tidak mau harus menjadi pembimbing.

Anda harus percaya pada alat-alat bantu meskipun tidak harus sepenuhnya (karena alat juga kadang bisa berbohong). Yang cukup penting adalah yakin bahwa jika Anda mengikuti pandangan, akhirnya akan mencapai tujuan.

Seringkali kita mudah berkecil hati dalam hidup ketika mengejar tujuan karena tidak dapat melihat kemajuan yang sedang dibuat. Anda tidak dapat melihat diri Anda lebih dekat ke tujuan, tapi dengan keyakinan dalam perjalanan sangat memungkinkan Anda untuk mencapai tujuan.

Tidak Semua Salah Itu Sia-sia

Masih ingat dengan Kristoforus Kolumbus, yang bernama asli Genoa : Christoffa Coromboatau, yang kemudian dikenal juga dengan Christopher Columbus ?. Kesalahan di lautlah yang kemudian membesarkan namanya.

Cerita sejarah mengenalkan nama besar Columbus tidak lepas dari petualangannya yang dianggap sebagai penemu benua Amerika. Meskipun kemudian cerita berkata lain dengan menyampaikan jauh sebelum kedatangan Columbus sudah tiba lebih dahulu bangsa Viking dari Eropa Utara di Amerika Utara. Sedangkan kedatangan Columbus sendiri ke benua Amerika adalah sebuah kesalahan (ketidaksengajaan), karena tujuan ia sebetulnya adalah Asia Timur Jauh.

Inilah lautan !. Tidak ada jaminan 100% Anda bisa sampai ke tujuan dengan tanpa kesalahan. Tapi, tidak semua kesalahan itu sia-sia. Ada sisi dimana jika Allah menghendaki kesalahan (sesuatu yang diluar rencana) itu justru akan memberikan pengaruh besar dalam hidup kita. Yang terpenting adalah kita tetap berusaha sebaik mungkin untuk mengarungi samudera kehidupan sebaik mungkin menuju ‘pelabuhan’ yang tepat.

Alam Memegang Kendali

Budaya kita terpesona untuk mengendalikan banyak hal. Semisal meningkatkan teknologi sebagai salah satu usaha untuk mengontrol dan memegang kendali atas alam. Tapi di laut, Anda menyadari bahwa alamlah yang memegang kendali.

Bahkan sebuah kapal besar berbahan bajapun ketika di laut tidak lebih hebat dari albatross, lumba-lumba, atau bahkan serangga. Alam tidak memperlakukan kita dengan martabat atau hormat karena kita adalah manusia. Ia tidak kenal kita, dan hanya perlu waktu sekejap untuk menghancurkan kita.

Hidup ini berharga, tapi rapuh. Anda bisa mati dalam sekejap dimanapun Anda berada, tetapi kenyataan ini akan meningkat kemungkinannya ketika Anda ada di lautan.

Lautan adalah sebuah pengingat yang nyata tentang betapa dekatnya kematian dengan kita. Kita hidup dalam gelembung modern yang membuat sering lupa bahwa kita selalu sangat dekat dengan kematian. Kita harus hidup dengan kebaikan dan semangat karena kita tidak pernah benar-benar tahu hari terakhir dalam hidup.

** Kehidupan yang Dinamis**

Saat seorang pelaut berlayar ke pantai dengan angin berkecepatan 60 knot, ini adalah cuaca yang tidak begitu baik, tapi mereka bisa berlayar dengan merasa nyaman. Mereka tidak harus berjuang terlalu keras (diukur dari kemampuan mereka), karena faktanya itu ibarat sebuah bantuan. Tapi kadang hanya dalam beberapa hari kemudian situasi cuaca dan arus laut bisa berubah.

Dalam banyak hal, akan ada saat di mana sesuatu terjadi dengan mudah. Sementara di waktu yang lain Anda benar-benar harus berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang dikejar. Bisa jadi karena faktor keadaan, atau juga karena cara pendekatan.

Terimalah, bahwa kadang kondisi akan mendukung Anda atau justru bisa sebaliknya. Untuk itu kita harus tahu dan siap bahwa situasi dan kondisi akan selalu berubah. Jika Anda statis, bersiaplah untuk babak belur dari waktu ke waktu meskipun mungkin pada akhirnya akan mencapai apa yang dituju (sekalipun dalam kondisi yang memprihatinkan).

Kepemimpinan adalah Mutlak

Saat berada di laut, berusaha untuk tenang dan tepat dalam mengambil keputusan adalah hal yang wajib bisa dilakukan, mengingat segala sesuatunya bisa terjadi dengan cepat. Setiap orang membutuhkan kepemimpinan dengan skil diri tingkat tinggi untuk memastikan bahwa ada orang yang kompeten dan siap untuk memimpin dalam melakukan tugas apapun saat diperlukan.

Ketika situasi berbahaya terbentang di lautan, orang harus bereaksi secara efektif. Maka diperlukanlah sosok pemimpin yang bisa mengendalikan situasi dengan cermat. Sementara itu yang lainnya wajib untuk memberikan kepercayaan kepada sang pemimpin, dan sang pemimpin harus menunjukkan kemampuan memimpin yang cerdas dan berwibawa.

Tidak peduli besar dan kecilnya suatu kapal, yang pasti seorang nahkoda haruslah tetap ada.

Tidak adanya kepemimpinan bukanlah berarti akan mengarahkan penumpang kapal pada kematian. Namun, kepemimpinan yang kuat, baik dari diri sendiri maupun orang lain, adalah alat yang ampuh yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan dengan selamat. Teruslah mengembangkan jiwa kepemimpinan Anda, karena apa pun yang Anda lakukan tetap harus terarah.

Tidak Bisa Menjadi Egois

Di laut, Anda saling bergantung pada teman-teman di kapal hampir untuk semua hal. Anda harus bekerjasama dengan mereka, makan bersama mereka, hidup bersama, dan bersosialisasi dengan mereka. Anda tidak bisa mengisolasi diri dan mencoba bertahan hidup sendiri.

Kebiasaan buruk dalam cara bermasyarakat di era modern yang cenderung individualis adalah sering mencoba dan menjadi ‘lone ranger’ karena tidak percaya pada orang lain.

Hubungan manusia sangat penting untuk kesejahteraannya. Pastikan Anda menyisihkan waktu untuk memelihara hubungan yang Anda miliki dengan orang yang dekat dengan Anda. Jika Anda membiarkan sebuah hubungan hanya karena sebatas kebutuhan, bisa jadi suatu saat Anda akan mendapati mereka tidak lagi peduli kepada Anda..


Setidaknya itulah hikmah yang saya temukan untuk pelajaran hidup dari luasnya bentangan lautan. Tentunya masih banyak lagi analogi lainnya dari laut. Hikmahnya tidak akan tuntas kita kupas. Saya tunggu masukan dari Anda semua untuk saling mencerahkan. Semoga bermanfaat.

Sumber gambar : hdwallpapers.in