Begitu shalat Jum’at usai, hujan mulai mereda. Jamaah yang baru saja usai menunaikan kewajibannya satu persatu mulai meninggalkan Masjid  Alumni IPB. Ada yang kembali beraktifitas dengan kesibukannya, ada pula yang mencari tempat makan yang dirasa pas sesuai selera.

Demikian pula dengan saya, sembari menyusuri trotoar jalan yang masih disekitaran masjid tersebut, saya melihat ada satu warung nasi yang ukurannya tidak terlalu besar, kurang lebih sekitar 2 x 5 meter. Warung nasi yang saya lupa namanya tersebut sangat ramai sekali, orang-orang antri untuk mengambil nasi dan lauk pauknya sendiri. Ya, di warung nasi dengan ciri khas “dulang¹” nya tersebut semua pengunjung dipersilahkan untuk mengambil nasi dan lauk pauknya sendiri.

Tanpa pernah tahu mahal atau murahnya, sayapun masuk ke dalam antrian untuk bisa menikmati masakan yang tersaji.

Ketika saya menikmati nasi yang baru saja saya ambil, ada dua orang yang berbincang disamping saya. Tidak bermaksud menguping (karena itu memang kurang baik), tapi bagaimanapun itu sangat terdengar jelas. Dialognya kurang lebih sebagai berikut  (dialog dipersingkat)

“Sering kang makan siang disini ?”

“Alhamdulillah kang, setiap jadwal makan tiba saya selalu kesini”

“Menurut akang rasanya gimana ?”

“Lumayan, makanya saya kesini terus”

“Soal harga ?”

“Bersahabatlah….”

Gak takut dilebihin harganya ?”

“Nggak lah kang, orang dia sendiri percaya sewaktu kita nyebutin makanan apa saja yang kita ambil dan makan”

“Heheheheee… iya kang, bener banget”.

Cuplikan obrolan tersebut ternyata memancing reaksi pikiran saya untuk mendapatkan hikmah yang luar biasa tersebut, hikmah yang senikmat rizki yang saat itu sedang saya santap.

Penjual nasinya terlihat sederhana, masih muda, dengan kopiah terpasang di kepala. Saya tidak bisa memberanikan untuk ngobrol-ngobrol dengannya. Selain saya juga diburu waktu, dia pun sepertinya sedang sangat sibuk melayani pengunjung yang mau mebayar. Begitu pengunjung bilang “*berapa kang ?”, *dia hanya menanyakan *“sama apa aja ?” *dengan senyuman. Selanjutnya, episode saling percaya ini pun mulai terasa.

Sang penjual percaya, bahwa setiap pengunjung akan jujur untuk menyebutkan apa saja makanan yang disantapnya. Kemudian pengunjungpun percaya, bahwa sang penjual tidak akan melebihkan harganya. Dan saya sendiri saat itu merasa sangat normal harga yang harus saya bayar dengan makanan yang saya nikmati.

Di warung nasi itu pula saya merasa ada hak dan kewajiban yang begitu dijaga keseimbangannya, mungkin ini pula salah satu alasan mengapa Islam menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Terlepas dari benar atau tidaknya perkiraan saya

Bisa kita bayangkan, betapa lamanya tukang nasi tersebut membangun sebuah “konstruksi percaya” dari para pengunjungnya. Dan untuk dia bisa dipercaya, ia pun memulai untuk percaya terlebih dahulu kepada orang-orang yang diharapkan bisa percaya kepadanya.

Sungguh sebuah jalinan rasa saling percaya yang sangat luar biasa. Tidak idak menutup kemungkinan memang, ada saja yang curang atau bahkan si pemilik salah menghitung (tanpa disengaja), tapi disitu ada sosok sentral yang mampu meneguhkan rasa saling percaya tersebut, yaitu Allah Maha Adil.

Kalau saja dengan pola “saling percaya” yang selama ini digunakan malah menimbulkan kerugian, sudah pasti dia tidak akan berjualan lagi. Begitu juga kalau si penjualnya sering melebihkan harganya sudah barang tentu para pengunjungpun akan merasa kemalahan dan enggan kembali lagi. Tetapi (hanya menurut saya) karena sebuah rasa yakin (yang disertai ketaqwaan) bahwa Allah itu Maha Adil, maka dia optimis kalau Allah tidak akan membiarkan usahanya rusak.

Bahkan, bukan tidak mungkin (dengan tidak mengenyampingkan prinsip “tetap ikhtiar”) dia malah meyakini juga, bahwa ketika orang lain berbuat curang kepadanya maka Allah akan memberikan nikmat yang berlipat untuknya.

Sobat, soal kemungkinan rasa berserah diri si penjual kepada Allah tadi memang bukan fakta, karena jangankan saya mengetahuinya, mengajaknya mengobrolpun saya tidak. Tapi, saya berusaha menarik hikmah se-positif mungkin dari persitiwa yang saya saksikan agar itu bisa menjadi sebuah pelajaran, paling tidak buat saya pribadi.

Saya yakin, sobat-sobat akan mampu menarik hikmahnya lebih luas lagi. Karena saya juga yakin tidak sedikit dari sobat-sobat yang pernah mengalaman hal serupa, maksudnya tentang makan di warung nasi yang mempersilahkan kepada kita untuk mengambil nasi dan lauk-pauknya sendiri. Heheee….

Semoga bermanfaat, salam.

¹. Dulang adalah sebuah wadah seperti lumpang yang digunakan untuk mengaduk-ngaduk nasi yang baru matang sambil dikipasi agar tidak terlalu panas saat dimakan. Dulang berbentuk bulat cembung, mulut besar, bibir tebal dan menyempit di bagian bawah.