Sobat, diantara kita semua sudah pasti bahwa kita memiliki keinginan-keinginan yang kita simpan dalam hati kita. Setiap hal yang kita inginkan tersebut sudah pasti pula dibangun berdasarkan alasan-alasan dan idealisme. Contoh, didalam benak kita, kita mendabakan seorang sosok pendamping dengan berbagai criteria yang kita sebut sebagai “idealnya”. Selang beberapa waktu, Alloh memberikan kita pendamping yang tidak 100 % sama dengan apa yang kita idealkan.

Apa yang diberikan oleh Alloh itulah kenyataan, dan kenyataan adalah realita, dan ketika kita mampu menerima bahwa apa yang Alloh berikan itui adalah yang terbaik buat kita, maka disitu kita sudah mampu menjadikan realita sebagai idealita, dan dengan sendirinya antara realita dan idealita sudah saling menyatu. Hal lain dari itu adalah kita harus menjadikan idealita sebagai titik target, landasan, sekaligus tolak ukur usaha kita dalam menggapai sesuatu yang akan menjadi realita (kenyataan).

Gambarannya, Realita adalah lautan yang luas, berombak, dan berusaha menggeser perahu kita sesuai arah gelombangnya. Idealita adalah bintang-bintang di langit yang belum mungkin kita capai. Tapi kita menggunakan bintang-bintang itu sebagai pedoman untuk mengarahkan perahu kita ke tujuan kita. Kita bisa melawan ombak, atau kita bisa memanfaatkan ombak selama kita tidak terhanyut sambil lupa mengarahkan perahu kita. Kadang-kadang kondisi ombak tidak memungkinkan kita untuk mengarah ke tujuan kita. Lepaskan sejenak, tetap waspada, dan segera kembali ke arah kita. Ini fleksibilitas. Bukan dalam arti kesediaan untuk sesekali berpaling dari tujuan kita. Tetapi dalam arti bahwa menurut kalkulasi, menggeser arah kapal karena terdesak ombak lebih benar daripada memaksa perahu untuk bekerja ekstra kuat, dengan kemungkinan pecah, dan kita akan terpaksa meninggalkan kapal dan berenang (dan barangkali malahan terpaksa tenggelam ditelan ombak). Optimasi.