![ujian nasional 2012](https://blog.rosid.net/content/images/2012/04/ujian-nasional-2012-300x225.jpg "ujian nasional 2012")
ilustrasi gambar dari volarefm.com
Sebagian besar dari Anda mungkin masuk kesini karena terlempar dari google dengan kata kunci “*[bocoran ujian nasional”](https://blog.rosid.net/inilah-bocoran-jawaban-ujian-nasional-itu/). *Kalau iya, berterimakasihlah kepada google, karena Anda sudah tiba di tempat yang tepat untuk mendapatkan apa yang Anda harapkan.

Apapun jenis soal yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) untuk Ujian Nasional (UN), bocoran berikut merupakan jawaban yang paten buat Anda semua, ini dia bocorannya.

Adakah Yang Sukses Secara Instan ? 

Apa yang ingin Anda raih dari UN ?, kelulusan ?. Adalah **bodoh **seandainya mengharapkan kelulusan di UN tanpa pernah mau berproses. Jangan pernah berpikiran “*ah nanti juga dibantu !”, *keyakinan seperti itu adalah budaya sampah yang tidak akan memberikan efek positif sedikitpun.

Tidak ada ceritanya kesuksesan diraih dengan instan. Anda jangan beranggapan kalau sukses itu bagian-bagian dari jangka pendek, tapi sukses adalah proses yang menjadi bagian dari tujuan jangka panjang, hingga akhirat. 

Sudah saatnya antar pendidik berhenti saling “membunuh”. Maksudnya begini ; Selama tiga tahun (atau lebih) guru agama mendidik tentang kebaikan, keimanan, dan ketakwaan. Belum lagi ditambah dengan guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang mengajarkan tentang etika, keujujuran, dan budi pekerti. Bayangkan, dalam tiga tahun tersebut Guru Agama dan PKn bekerja keras penuh harap supaya anak didiknya menjadi manusia-manusia yang baik dan jujur, namun pada akhirnya dalam seketika diruntuhkan oleh guru juga, yaitu guru yang menjadi bagian dari kecurangan pada UN.

Belajarlah Dari Sejarah

Lebih dari 5 tahun sistem UN dilaksanakan, tapi niat baik itu tidak kunjung menampakan hasil yang baik. Hujatan dan cacian justru terlontar setiap tahunnya, belum lagi dibarengi dengan kelakuan orang-orang yang “memancing di air yang keruh” (semisal memanfaatkannya sebagai peluang bisnis jual beli soal / bocoran, terlepas dari asli atau memang menipu). 

Satu hal yang tidak pernah ditanamkan pada anak didik kita adalah supaya mereka belajar dari sejarah kakak kelas mereka terdauhulu saat UN. Kalau perlu sampaikanlah kepada mereka betapa dulu kakak kelas mereka seperti hampir setres (atau bahkan setres) saat menjelang ujian, karena sebelumnya tidak belajar bersungguh-sungguh. Hanya beberapa orang saja yang begitu siap saat menghadapi ujian, yaitu mereka-mereka yang memang giat belajar.

Cerminan pahitnya perjalanan sang kakak tidak kunjung sampai, yang sampai terlebih dulu justru cerminan sejarah “kalau nanti juga bakal ada bocoran, sama seperti kakak kelasmu dulu”. Apa yang terjadi ?, “*santai aja bleeeeh…. ngapain pusing-pusing belajar, nanti juga lulus ko”, *suara iblis laknatullah menguasai generasi kita. 

Nikmatilah Proses Seperti Makan

[![Lapar Ilmu](https://blog.rosid.net/content/images/2012/04/lapar-270x300.jpg "Lapar Ilmu")](https://blog.rosid.net/content/images/2012/04/lapar.jpg)
Lapar Ilmu (sumber gambar pra edit : yawmiyatmoughtareb.wordpress.com)
Proses itu memang pahit, paling tidak bagi yang merasakannya. Saat masih duduk di bangku SMA *kepengen *buru-buru lulus, biar bisa kerja, hidup bebas, dan punya penghasilan, asyik bayangannya. Tapi, nyatanya tidak sedikit dari yang sudah lulus SMA sering mengkhayal ingin kembali ke masa SMA. Dari situ kita bisa menarik kesimpulan kalau waktu tidak pernah kembali, waktu adalah proses yang terus berjalan, dan salah satu cara terbaik untuk menapaki jalan tersebut adalah dengan menikmatinya. 

Nikmatilah proses belajarmu seperti layaknya kita makan. Jadikan belajar sebagai sebuah kebutuhan, yang kalau sehari saja kita tidak menyantapnya lapar dan dahaga rasanya. Kalau dicermati, lezatnya ilmu justru melebihi lezatnya makanan. Selezat-lezatnya makanan tidak akan memancing selera sedikitpun kalau perut kita dalam keadaan kenyang. Tapi ilmu, semakin dia dinikmati maka akan semakin membuat kita lapar.

Dalam menikmati proses belajar, pilihannya hanya dua : “Iya” atau “Tidak”. Masing-masing pilihan punya konsekuensi, jika “Iya” hasil positif yang akan diperoleh, jika “Tidak” maka jangan pernah membayangkan keberhasilan, karena Anda sudah menyerah ditengah jalan.

Jangan Buat Noda Sejarah Dalam Hidup

Menodai sejarah hidup itu adalah seperti berbuat curang dalam Ujian Nasional. Sepanjang sejarah hidup akan tercatat kalau hasil yang dicapai berbau kecurangan. Celakanya, tidak ada pengulangan untuk menghapus catatan hitam itu. Kalau caranya curang, ijazah yang diperolehpun hasil curang. Apa bangganya nilai besar tapi hasil curang ? 

Kemudian diterima di sekolah tingkatan selanjutnya / perguruan tinggi / tempat pekerjaan karena faktor nilai di ijazahnya tinggi (padahal hasil curang), berarti kelulusan/diterima di sekolah selanjutnya/perguruan tinggi/pekerjaan tersebut juga berawal dari hasil curang, sedangkan “tidak ada keberkahan dari hasil kecurangan”. 

Percayalah, nilai sebesar apapun tidak akan memberikan hasil yang positif tanpa disertai dengan kemampuan kita. Tidak ada orang besar di dunia ini yang diakui kebesarannya karena nilai-nilai dalam ijazahnya tinggi, total dari mereka diakui berdasarkan karya-karyanya dan perbuatannya yang luar biasa, dan untuk itu mereka tidak akan mampu melakukannya tanpa ilmu pengetahuan.

Kita Dekat DIA Dekat, Kita Jauh DIA Menunggu Kita Mendekat

*Tidak ada sesuatu yang kebetulan dalam hidup !”, *kalau manusia yang percaya akan adanya Allah tentu saja akan sepakat dengan itilah tersebut. Lalu apakah hasil Ujian Nasional kita tanpa campur tangan-Nya ?, tentu saja tidak. Kuasa Illahi tetap tidak bisa dikesampingkan. 

Lulus dan tidak lulus kadang tidak ada bedanya. Dengan catatan :

  • Kita telah berusaha semaksimal mungkin secara lahir dan bathin supaya lulus ujian
  • Kita berpegang teguh kepada Allah SWT, bahwa apapun hasilnya setelah kita berjuang maksimal, Allah pasti punya rencana yang terbaik buat kita.

Percayakah Anda kalau yang tidak lulus UN bisa lebih sukses dari yang lulus ?. Saya pribadi percaya, dan 1 tahun yang lalu saya telah menuangkannya DISINI. Disitu saya ceritakan bagaimana teman SMA saya yang dengan idelaisme kuatnya tidak mau pakai bocoran saat UN, kemudian ia tidak lulus. Ia tidak patah semangat, terus belajar, sekolah kembali, bahkan ikut kursus. Teman saya percaya kalau Allah akan selalu bersamanya, yang terpenting diapun tidak menjauhi-Nya. Dan, Allah benar-benar punya rencana hebat, teman sayapun dihantarkan-Nya untuk menimba ilmu di Negeri Panser, Jerman.

Seberapapun hebatnya kita, tetaplah ada Yang Maha Hebat. Maka tetaplah berpegang teguh kepada Dia. Dia tahu apa yang terbaik buat kita, nikmatilah itu, niscaya akan merasakan keindahannya.

Sebagian besar dari Anda mungkin merasa kecewa, niat hati mencari bocoran tapi malah mendapatkan ocehan yang tidak bermutu. Tidak apalah, saya rela Anda caci maki dan dihujani sumpah serapah karena postingan ini. Tapi, saya hanya ingin mengingatkan juga ; *“Hati-hati, kadang-kadang doa yang tidak baik sering berbalik pada diri sendiri, apalagi tidak disertai dengan alasan yang benar”. *Demikian bocoran ini  , semoga bisa menjadi jawaban yang tepat buat Anda semua. Yakinlah, kita semua akan lebih baik dengan dimulai menjadi lebih baik dari diri sendiri. 

**Special Thanks *buat Google yang sudah menyesatkan banyak orang ke postingan ini. 🙂