Pergantian tahun masih seumur toge (lebih muda dari jagung), tapi sepertinya rasa optimisme dalam menyongsong resolusi yang baru tersebut lambat laun harus digerus oleh keraguan.

Menjadi pesimiskah ?.

Tidak sobat, sama sekali tidak. Rasa optimisme dalam menyongsong resolusi yang baru yang digerus oleh keraguan tersebut bukan diarahkan kepada resolusi pribadi baik Anda maupun Saya, tapi resolusi kita, yaitu bangsa, kepentingan bersama. Bukan kepentingan sepihak atau individual.

Begitu memasuki awal tahun, konflik hebat terjadi disana-sini, kecelakaan terjadi dimana-dimana, musibah silih berganti, kejahatan kriminal semakin aneh-aneh dan nyeleneh tapi serius. Yang paling miris adalah ditengah kekacauan tersebut kita sibuk saling lempar arah telunjuk yang dengan penuh kebencian mengatakan “dia biang keroknya”.

Ada yang dipersalahkan dan ada yang melempar tanggung jawab, ada yang menghujat kemudian berlari ke barisan paling belakang. Rakyat menunjuk wakil rakyat sebagai biang kerok kekacauan khususnya dalam masalah-masalah undang-undang (semisal undang-undang agraria). Para pengelola negarapun kecipratan hujatan rakyat. Wakil rakyat dan pemerintah tidak mau disalahkan hingga akhirnya menjadi saling tunjuk. Kesal melihat diatasnya saling tunjuk, akhirnya yang dibawah saling tumbuk.

Mungkin kita tidak merasa sebagai yang benar, tapi ketika sibuk menyalahkan orang lain lantas apa bedanya dengan sombong dan pengecut ?

Sibuk saling tunjuk dan saling menyalahkan ternyata tidak ubahnya *devide et impera *yang disulut sendiri. Wajar memang, ketika kita tidak merasa ada kepuasan dari kinerja orang-orang yang kita gaji dan kita amanahkan. Tapi, ketika itu menjadi kebiasan sepertinya tidak ada salahnya kalau ada yang nyeletuk kalau negeri kita adalah *“Negeri 1001 Komentator”, *yang tidak ada satu orangpun merasa kalau dirinya adalah bagian dari yang bersalah.

Kalau Tiba-tiba Dicubit, Siapa Yang Salah ?

Ada seorang anak yang pulang kerumah dalam kondisi menangis terisak-isak. Kemudian ia mengadu kepada ibunya kalau dia habis bertengkar dengan temannya dan  temannya yang terlebih dahulu berbuat kesalahan dengan mengejek-ejek dia.

Mendengar aduan sang anak, si ibu tidak lantas naik pitam, baik menghardik anaknya sendiri maupun menyalahkan teman anaknya. Sang ibu lantas membujuk anaknya dengan penuh kelembutan supaya ia menghentikan tangisannya. Sang ibu menganggap bahwa tangisan adalah sifat alamiah. Setelah si anak reda tangisannya sang ibu memberikan wejangan sederhana :

*[box] *

*“Nak, kalau tiba-tiba kita dicubit tanpa alasan yang kita ketahui. Kira-kira siapa yang salah dan apa yang akan Ananda lakukan ?.” *

*“Ya yang nyubitlah yang salah, dan Ananda jelas gak terima dong bu.” *

*“Jangan, itu namanya pendendam. Cobalah kita lihat diri kita sendiri. Apakah mungkin tidak ada kesalahan sedikitpun dari diri kita ?.” *

*“Ya kan kalau tiba-tiba dicubitmah atuh jelas nggak ada bu.” *

*“Belum tentu, bisa jadi kita ini tidak menyenangkan menurut orang lain. Dengan diri kita tidak disukai oleh orang lainpun itu sudah sebuah kesalahan. Jadi ketika tiba-tiba ada yang mencubit kita, kita tidak perlu lantas menyalahkan orang lain apalagi membalasnya. **Tapi lekaslah kita koreksi diri kita, kita perbaiki diri kita agar bisa diterima oleh orang lain. *

Kita mungkin tidak berniat menyakiti orang lain, tapi kita sering tidak menyadari bahwa kelakukan dan sifat kita kadang menyakiti orang lain. Begitupun ketika orang lain mengejek kita, kita tidak perlu membalasnya apalagi marah, ejekan itu harus kita jadikan sebagai cambuk supaya kita terus meperbaiki diri agar tidak diejek lagi.”

[/box]

Sobat, diatas adalah contoh bagaimana seorang ibu lebih mengarahkan anak tercintanya supaya lebih memperbaiki diri saat tersakiti ketimbang menyalahkan dan membalas yang menyakitinya.

Kesimpulan pesannya adalah ;

Sudah kah kita mengakui kesalahan ?

Sudah kah kita mengakui kalau kita adalah bagian dari kesalahan ?

Sudah kah kita menyalahkan diri sendiri ketimbang sibuk menyalahkan orang lain ?

Ketika kita sibuk menyalahkan orang lain, maka kebencianlah yang semakin tumbuh. Tapi ketika kita merasa bahwa diri kita adalah bagian dari kesalahan maka Insya Allah justru kita akan terdorong untuk berusaha menjadi bagian dari manusia-manusia solutif.

Ketika kekacauan terjadi diseantero pelosok negeri tidak kah kita merasa kalau jangan-jangan diri kita sendiri bagian dari pembuat masalah. Sederhana saja, ketika kita buang sampah sembaranganpun kita sudah bagian dari pembuat masalah. Ketika kita melontarkan kata-kata kasarpun kita sudah bagian dari pembuat masalah. Ketika kita bolos sekolahpun kita sudah bagian dari pembuat masalah.

Kemudian, *“Apa kontribusi kita untuk bangsa dan negara ?” *kalau tidak ada berarti kitapun bagian dari pembuat masalah, karena negara tidak bisa dibangun oleh segelintir orang.

*“Besar mana antara hak dengan kewajiban kita untuk negara ?”. *Kalau besar hak, berarti kita ini adalah bagian dari pembuat masalah. Pepatah mengatakan “jangan tanyakan apa yang sudah negara berikan untuk kita, tapi apa yang sudah kita berikan untuk negara”.

Banyak orang-orang yang berjasa tapi kurang dihargai negara

Percayalah, kita tidak akan menjadi besar dengan banyak mengharap penghargaan. Niatkanlah apa yang kita perjuangkan untuk ibadah, dan Allah akan membalasnya meskipun tidak melalui stempel negara.

Sewajarnya memang negara memberikan perhatian dan kepedulian kepada orang-orang yang berjasa, tapi ketika itu tidak dilakukan oleh negara maka tidak perlu kita sibuk cuap-cuap tanpa solutif.

Jadi, ketika kita sibuk mengkambinghitamkan orang lain, jangan-jangan kita sendiri adalah bagian dari kambing hitamnya.

Sibuk saling menyalahkan serasa mempersulit untuk mendapatkan solusi tepat. Sulitnya solusi yang tepat serasa harapan semakin sempit. Inilah yang saya maksud “bukan berarti pesimis”, tapi situasi sudah menuntut kita untuk lebih berpikir solutif ketimbang saling menyalahkan. Karena, disadari atau tidak jangan-jangan kita ini turut andil dalam menciptakan masalah terlepas dari kecil dan besarnya maupun jangka pendek dan panjangnya.