Apa yang terpikirkan begitu mendengar istilah "Multi Level Marketing" atau kata "MLM" ?

Hemhhh… mungkinkah Anda salah satu orang yang langsung antusias meresponnya? atau justru malah sebaliknya, skeptis!?

Eit, jangan ditanyakan balik ke saya loh ya.

Dulu saya adalah bagian dari sistem pemasaran tersebut. Ya, itu dulu, dengan beberapa perusahaan multi level yang saya ikuti.

Untungnya, saya adalah 1 dari sekian ribu (mungkin juta) orang yang gagal memanfaatkan sistem tersebut demi meraih (yang disebut) kesuksesan. Kenapa saya gagal? tentu saja karena saya menyerah. Saya menyerah untuk menarik banyak orang menjadi kaki-kaki binari saya.

Saya tidak tega untuk berdiri di atas pundak oran lain. Apalagi kalau kaki-kaki tersebut nantinya tidak bisa lagi mencari downline untuk menjadi kaki-kakinya. Mungkin, inilah yang disebut dengan deadlock MLM, yaitu ketika menggaet orang lain menjadi downline semakin sulit, bahkan tidak memungkinkan.

Berkaca ke masa lalu, doktrin dan motivasi pada strategi MLM begitu kuat menancap di pikiran saya. Hampir semua langkah-langkah dalam mengajak orang lain saya ikuti. Termasuk diantaranya membuat daftar nama orang-orang terdekat; keluarga, sahabat, teman sepekerjaan, tetangga, teman sekolah, dan teman masa kecil. Buat apalagi kalau bukan sebagai "sasaran tembak" prospek.

MLM bukan sesuatu yang baru didengar oleh orang-orang yang ada pada daftar tersebut. Jadi, sudah bisa ditebak kalau banyak dari mereka yang ujung-ujungnya bukan cuma skeptis begitu mendengar kata MLM, tapi makin menjauh dari saya, karena ada rasa bosan dan khawatir diajak masuk ke MLM terus.

Ternyata, apa yang saya lakukan di beberapa tahun lalu masih berlangsung hingga sekarang.

Teman saya, sebutlah dia Mr. X, punya teman namanya Mr. Y. Sudah sejak lama keduanya berteman sangat baik. Bahkan hampir setiap hari menghabiskan waktu bersama. Tapi, situasi berubah semenjak negara api datang menyerang, eh maaf… maksudnya, keadaan berubah semenjak Mr. Y menjalankan bisnis MLM.

Dulu, setiap mereka ngobrol topiknya selalu beragam. Berbagai persoalan biasa didiskusikan bersama. Tapi sekarang, setiap kali bertemu obrolannya tidak lagi asik, topiknya selalu diseret ke MLM oleh Mr. Y. Dikit-dikit topiknya ditarik ke MLM.

Mr. X mulai bosan dengan temannya itu, lambat laun ia semakin menghindar. Kejadian ini persis dengan yang saya alami dulu.

Saya tidak sedang menjelekkan orang-orang yang menjadikan MLM sebagai mata pencaharian. Beranjak dari pengalaman saya dan teman saya, ingin sekali melalui tulisan ini saya mengatakan "jangan rusak pertemanan dengan MLM".

Apakah MLM merusak pertemanan?

Tentu saja tidak. Yang berpotensi merusak adalah cara Anda dalam memperkenalkan MLM yang Anda geluti.

Itu juga yang membuat orang lain menjadi skeptis. Mereka takut akan menjadi seperti Anda yang saat ini kurang disukai cara bergaulnya oleh orang lain. Mereka takut ditinggalkan oleh teman-temannya karena melakukan apa yang Anda lakukan dalam memperkenalkan MLM. Tegasnya, Anda adalah cerminan dari sistem MLM yang Anda geluti.

Orang bijak suka mengatakan; "persahabatan itu lebih penting dari materi". Jika sekarang Anda menjejali sahabat dan teman Anda dengan knowladge product dan knowladge system MLM yang sekali saja dia tidak memberikan respon positif, saya khawatir itu malah akan merusak hubungan baik Anda, karena sesuatu yang menurut Anda bonusnya (dari member get member) sangat menggiurkan.

Seperti yang saya katakan tadi, Anda adalah cerminan dari sistem MLM yang Anda geluti, maka saran saya tunjukanlah bahwa Anda mengalami perubahan sisi hidup (kesehatan, kebahagiaan, kemudahan, dan sebagainnya) menjadi lebih baik setelah menggunakan produk dari MLM tersebut.

Ini berarti, kekuatan perubahannya ada produk, bukan pada jenjang member di bawah Anda. Dari sebuah produk MLM yang hebat, tidak Anda promosikanpun orang akan mencarinya, termasuk teman Anda. Apalagi jika orang lain melihat perubahan langsung dari salah satu (atau lebih) sisi hidup Anda.

Orientasikan pada produk, member hanyalah efek, jangan dibalik!