[dropcap style=”font-size: 60px; color: #f421e2;”]P[/dropcap]elangi, atau ia kadang kita kenal dengan sebutan bianglala. Decak kagum akan keindahannya bisa terlontar seketika dari mulut kita saat menatapnya.

Sadar tidak dapat menyentuhnya, kadang dengan spontannya ponselpun dikeluarkan untuk mengabadikan pesona si bianglala. Tak peduli lagi kita fotografer profesional ataupun super amatir, karena hasil jepretan tidak dipuji orang lainpun sudah memberikan rasa bahagia tersendiri ketika kita bisa menikmati rupa sajian seni alam dari yang Maha Kuasa.

Tindakan spontan memotret pesona pelangi adalah hanya satu dari berbagai reaksi kita saat melihat sapuan gradasi tujuh warna membusur seluas pandangan mata di katulistiwa. Mengapa bisa bereaksi demikian ?. Keindahan, itulah salah satu faktor yang membuat kita tidak ingin melewatkannya begitu saja.

Saya tidak bisa menjelaskan proses terbentuknya pelangi secara mendetail dan ilmiah, tapi umumnya kita bisa memahami bahwa pelangi akan muncul setelah hujan turun secara bersamaan dengan pancaran sinar matahari, kemudian pelangipun dapat dilihat dari sudut tertentu. Selain dari itu, biasanya kita juga bisa melihatnya di air terjun.

Ada sebab ada akibat. Ada pelangi, ada air turun, dan ada sinar matahari.

Saya ingin mengajak untuk coba membayangkan bersama-sama hikmah dari munculnya pelangi.

Hujan, sebuah peristiwa alam yang identik dengan mendung, kelabu, dan bagi sebagian orang adalah momen yang mengingatkan akan hal-hal yang menyedihkan. Mungkin, hujan yang turun bisa diibaratkan air mata yang turun, meskipun sebetulnya kita semua tahu kalau hujan itu anugerah.

‘Cerah’ adalah satu kosakata yang paling melekat dengan sinar matahari. Kalau diumpamakan raut wajah manusia, mungkin inilah gambaran karakter wajah yang sedang bahagia, tidak mengerutkan dahi, dan kedua sudut bibir tidak ditarik kebawah.

Kalaulah pelangi itu indah, kurang lebih kita bisa menarik pelajaran bahwa keindahan akan senantiasa hadir dari perpaduan sisi hidup yang kadang begitu menyulitkan penuh ujian -yang tidak jarang membuat wajah kita muram semendung hujan-, dengan sisi hidup lainnya yang terasa mudah dan menyenangkan – yang kadang membuat wajah kita berbalut senyum sumringah secerah mentari.

Alam mengajarkan banyak hal, begitu juga dengan pelangi.

kalaulah pelangi itu indah

Melewati derasnya ujian hidup dengan penuh senyuman insya Allah akan seperti sinar mentari ditengah guyuran hujan yang kemudian menghadirkan keindahan hidup seperti indahnya rona pelangi.

Semua akan indah pada waktunya, tapi waktu akan menghadirkan keindahan apabila segala tantangan dan ujian kita sambut dengan senyuman yang dilatar belakangi oleh pikiran positif. Inilah saat dimana sikap kita akan memberikan pengaruh dalam momen hidup selanjutnya. Sikap memang sering dianggap hal kecil, tapi ia lah yang akan membuat perbedaan besar

Wallhu’alam

*sumber gambar :