Pertanyaan "kenapa kuliah?" memang biasa. Hampir semua orang bisa menjawabnya. Bahkan, mungkin akan seragam menjawab dengan urutan:

  1. Untuk menambah ilmu
  2. Ingin mendapatkan gelar
  3. Karena tuntutan dunia kerja dan karir
  4. Menuntut ilmu itu sifatnya wajib, dari lahir sampai mati

Semua jawaban itu tentu saja benar, tapi itu hanya mampu dijawab dengan lugas oleh mereka yang bisa kuliah. Sementara mereka yang tidak bisa kuliah oleh berbagai sebab, kadang memilih mencari jawaban lain yang berbanding terbalik dari jawaban-jawaban normatif tadi. Jawaban yang bisa meyakinkan diri bahwa "tidak masalah tidak kuliah, yang penting sukses!".

Saya, pernah ada di posisi mencari jawaban lain itu.

Sampai akhirnya, situasi memaksa saya berpikir 180 derajat. Mencari alasan-alasan baru yang konkrit dan mampu meyakinkan diri bahwa kuliah itu penting dan harus!

Alasan-alasan yang tidak hanya membuat yakin, tapi juga harus bisa memaksa diri saya sendiri untuk benar-benar menjalaninya. Sekalipun usia sudah 32 tahun yang mungkin cukup repot dengan urusan pekerjaan dan keluarga.

Lalu, Kenapa Kuliah?

Revolusi industri 4.0 dan anak kandungnya; Artificial Intelegency (AI) alias Kecerdasan Buatan, adalah sebab utama saya akhirnya ambil keputusan melanjutkan kuliah.

4 sampai 5 tahun lagi, revolusi industri 4.0 diprediksi akan memulai kejayaannya. Jika di revolusi industri sebelumnya, tenaga manusia digantikan oleh mesin, maka di revolusi industri 4.0 bukan hanya tenaga manusia, tapi otak manusia juga akan disubtitusi perannya, oleh yang disebut kecerdasan buatan itu tadi.

Kondisi ini sudah mulai terjadi. Petugas pintu tol sudah digeser oleh mesin e-tol. Layanan live chat customer di beberapa situs bisnis online sudah diganti oleh bot. Ya, chat kita dibalas oleh bot, bukan manusia.

Berbekal gadget, kita bisa punya asisten vitual yang bisa membuatkan jadwal, mengingatkan agenda, mengirimkan pesan, bahkan memesankan tiket pesawat dan reservasi hotel. Perannya diracik seidentik mungkin dengan asisten manusia sungguhan.

Mantap jiwa bukan?

Terus, kita (manusianya) ngapain?

Saya sempat berasumsi (dengan kata lain; mencari pembenaran), bahwa tidak semua peran akan digantikan oleh AI, terutama hal-hal yang membutuhkan keahlian khusus.

Tapi, ketika saya bertanya lebih dalam "keahlian apa?" pada asumsi saya sendiri, saya malah bingung. Karena, malah jawaban lain yang timbul; bagaimana jika semuanya benar-benar tergantikan oleh AI?

Walah, perang batin dan pemikiran di diri sendiri.

Saya cooling down. Oke lah, kita anggap ada keahlian khusus yang (setidaknya) belum bisa digantikan oleh AI, dan kita, punya keahlian itu. Lalu apa yang membuat nilai kita setingkat lebih baik dari orang lain yang punya keahlian sama?

Dueng!

"Gelar akademik!"

Ya, itulah yang seketika terlintas di pikiran saya.

Jika kita punya keahlian yang sama dengan orang lain, industri yang akan menggunakan keahlian kita pasti akan melihat nilai lebih yang jadi diferensiasi positif antar keduanya. Dan gelar akademik atau letar belakang pendidikan, selalu jadi syarat di urutan pertama.

Saya punya anak dan istri yang masa depannya ada di pundak saya. Sebagai pemikul, tentu saya harus punya energi yang lebih kuat dan bahan bakar energi itu salah satunya adalah kapasitas dan kapabilitas diri yang bisa diperoleh melalui bangku kuliah.

Bismillah, saya harus memulainya. Tidak boleh ada rasa minder (meski saya salah satu dari yang paling kolot dari segi usia), karena salah satu prinsip saya untuk memulai adalah; "dalam hidup, pasti akan selalu ada permulaan".

Jadi, jangan pernah ragu untuk memulai (kebaikan).