Ku periksa kembali persahabatan yang pernah dirajut. Apakah masih terbentang di sana ?. Di jejak yang pernah kutapaki bersama-bersama orang yang selalu ada buatku, atau aku telah melupakannya jauh sebelum ini dan menjadi lebih jauh lagi di saat ini.

Bekerja keras dan meniti jalan obsesi cita-cita memang merupakan satu keharusan dalam hidup, tapi bukan berarti memisahkanku dari cinta dan persahabatan.

Beberapa orang mengatakan bahwa menjadi pemimpin itu berarti akan berteman dengan sepi; selalu mengerjakan apa pun sendiri. Memang, pohon yang menjulang tinggi berdiri tegak sendiri. Perdu yang rendah tumbuh bersemak-semak. Demikiankah hidup yang ingin ku jalani ?.

Tak ingin kacaukan impian dengan kehidupan yang semestinya. Persahabatan merupakan bagian dari hidupku.

Dengan membina persahabatan merasakan betapa kayanya hidup, kekayaan yang sama sekali tidak terbatas dan tidak membatasi.

Berbagi kesedihan pada sahabat, mengurangi kesedihan. Berbagi kebahagiaan pada sahabat, memperkokoh kebahagiaan.

Orang bijak sering bilang bahwa sahabat adalah satu jiwa dalam tubuh yang berbeda. Barangkali, itulah mengapa bersahabat meringankan beban. Karena di dalam persahabatan tidak ada perhitungan.

Di sana aku belajar menghindari hal-hal yang tidak aku setujui, dan senantiasa mencari hal-hal yang mengedepankan persamaan dibanding perbedaan. Itu juga mengapa persahabatan adalah kekuatan.

Apalah artinya perbedaan dibandingkan dengan banyaknya persamaan di antara kita. Bukankah kita sama-sama membutuhkan sesuap nasi tanak dan seteguk air segar demi memenuhi lapar dan dahaga ?. Kita juga sama-sama menangis di kala sedih dan tertawa di saat gembira.

Kita sama-sama gemetar sewaktu ketakutan melanda serta tergelak ketika kegembiraan menerpa. Kita sama-sama berkeringat di bawah terik matahari, dan menggigil ditelan dinginnya malam. Tidakkah kita melihat begitu banyak persamaan di antara kita sampai-sampai mustahil menghitungnya ?.

Lalu mengapa secuil perbedaan yang dipicu oleh keinginan, hasrat dan nafsu menyangsikan semua kesamaan kita ? Mengapa kita seolah memiliki lebih banyak waktu untuk mengais-ais perbedaan, menggoreskan garis pemisah, memancang bendera ‘aku’ dan ‘kau’ ?.

Tidak cukupkah satu persamaan di antara kita memupuskan kegigihan untuk mempertahankan warna-warna itu: bukankah kita sama -sama membutuhkan kasih sayang setiap saat ?.

[box type=”bio”]

”Persahabatan adalah hal tersulit untuk dijelaskan di dunia ini. Dan, ini bukan soal apa yang anda pelajari di sekolah. Tetapi bila anda tidak pernah belajar makna persahabatan, anda benar-benar tidak belajar apa pun.

Muhammad Ali

[/box]