“Ketika saya menyelesaikan sekolah, saya akan senang.”

“Ketika saya menikah, saya akan senang.”

“Ketika saya memiliki anak, saya akan senang.”

“Ketika saya memiliki rumah dan menempatinya, saya akan senang.”

“Ketika saya mendapatkan pekerjaan baru ,saya akan senang.”

“Ketika anak-anak saya akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan, saya akan senang.”

Rangkaian kalimat yang menjadi angan-angan dengan bayangan kebahagiaan itu nyaris tidak akan berhenti hanya sampai disitu, ada banyak kalimat lain yang menggelayut dalam benak pikiran kita ; bahwa itulah yang akan membuat kita senang.

Tidak ada yang salah dari bayangan momen yang memberikan kita ilusi bahwa kebahagiaan kita tergantung pada sesuatu di luar diri kita sendiri.

Kita juga terus dihujani oleh berbagai informasi yang mendukung ilusi kita tentang kebahagian ; mendorong kita menjadi lebih populer, lebih cantik, lebih cool, dan sukses. Tampaknya, seolah-olah kebahagiaan kita tergantung pada itu semua.

Ironisnya kadang kita terlalu sering mencari kebahagiaan di tempat-tempat yang bisa jadi itu tempat yang salah.

Situasi sepertinya telah menunjukkan kalau kita cenderung buruk dalam memprediksi apa yang membuat kita bahagia. Setelah mencapai apa yang menjadi ekspetasi (yang dikira akan terasa begitu membahagiakan), tingkat kepuasan kadang tidak seperti yang kita bayangkan, malahan akan terasa biasa saja setelah beberapa waktu, malah bisa semakin mendorong hasrat kita untuk tidak pernah merasa puas.

Sementara banyak dari kita yang tidak bisa dan tidak mau melihat lahiriah untuk sebuah kebahagiaan, penelitian telah berulang kali menunjukkan bahwa selama ada kebutuhan dasar untuk makanan, tempat tinggal, dan hubungan yang harmonis, kebahagiaan lebih bergantung pada apa yang terjadi di diri kita.

Jadi, bukan melihat “di sana” untuk menemukan perasaan positif (bahagia), mulailah melihat apa yang terjadi “di sini”. Salah satu cara untuk melakukan ini adalah dengan mempelajari beberapa kebiasaan umum orang yang bahagia.

Berikut adalah pelajaran yang dapat kita ambil dari ‘kebiasaan sehat’ orang yang merasa bahagia:

1. Memiliki rasa kontrol

Mereka lebih fokus pada perubahan apa yang bisa mereka lakukan, bukan merasa terjebak dan bergerak mencoba untuk mengubah hal-hal yang mereka tidak bisa. Alih-alih menjadi seperti lalat yang membenturkan diri berulang kali ke jendela yang tertutup, mereka menerima apa yang tidak dapat diubah dan lebih berfokus pada apa yang dapat mereka lakukan.

2. Jadilah optimis

Orang-orang bahagia selalu optimis. Mereka tidak mengalahkan diri dengan kebiasaan berpikir berlebihan atau tidak rasional. Mereka tetap lebih kepada fakta, kurang untuk berinterpretasi dan berpenilaian yang mengarahkan ke pelabelan diri dengan istilah yang merendahkan, seperti “pecundang” “malas” “buruk” atau “egois”.

3. Be a “victor” not a “victim”

Mereka memiliki kebiasaan berpikir yang sehat, berpikir dalam bahasa “pemenang” dan bukan bahasa “korban”. Alih-alih menyalahkan orang lain untuk memberikan tekanan pada sebuah kesalahan kerja, mereka lebih memilih untuk bertanggung jawab sendiri dan menyadari kalau mereka adalah “tombol kerja” mereka sendiri yang harus dalam kendali mereka.

4. Membangun dan Mengembangkan Hubungan Sosial

Saat mereka menua, orang bahagia terus memperluas jaringan sosial mereka daripada membiarkannya menyusut. Mereka terus bertemu orang baru, mencari teman baru, meningkatkan semangat berbagi dengan orang lain, dan menjangkau orang lain untuk mendapatkan dukungan disaat usia semakin membuatnya rapuh.

Sebagai orang yang sedang bertransisi generasi, mereka tidak pernah berhenti membuat koneksi baru. Mereka menolak untuk menjadi “batu” atau “pulau” yang terpisah dari orang lain.

5. Live in the moment

Orang-orang bahagia cenderung lebih fokus. Mereka sadar kalau ia hidup di masa sekarang, dan tidak hidup di hari kemarin atau bertahan untuk menanti esok yang lebih baik. Mereka belajar dari masa lalu, dan menggunakannya sebagai sebuah tonggak pengingat di hari ini. Mereka tahu apa yang sedang mereka lakukan.

6. Menerima apa yang tidak dapat diubah

Orang-orang bahagia menerima kenyataan bahwa hidup pastilah adil. Mereka menyadari bahwa tidak ada yang pernah menjanjikan kepada mereka sebuah taman mawar, dan jika mereka menagihnya, sudah pasti mereka salah.

Sebaliknya, disamping rasa syukur yang terus terpanjatkan, mereka fokus dalam menabur benih kebahagiaan  tanpa memikirkan hak, tapi mereka yakin kalau suatu saat akan memetiknya.

7. Menemukan Arti dan Tujuan

Terbiasa proaktif, bukan reaktif, orang bahagia merasakan pentingnya komitmen untuk hal-hal di luar diri mereka sendiri. Mereka ingin membantu dunia menjadi tempat yang lebih baik dan tidak membiarkan kesempatan hilang begitu saja. Tidak hanya “berharap dan berharap” untuk membuat perbedaan di dunia.

8. Memaafkan dan Membuang Prasangka Negatif

Tidak ada tempat untuk kebencian dan dendam dalam kebiasaan orang bahagia. Mereka menyadari bahwa pengampunan adalah hadiah yang mereka berikan kepada diri mereka sendiri. Mereka sadar, bahwa positive thinking tidak hanya bermanfaat bagi orang lain, tapi juga bermanfaat bagi dirinya untuk dihindarkan dari penyakit kedengkian.

9. Tahu kalau dirinya layak bahagia

Senang jika menjadi orang seperti mereka. Mereka merasa nyaman dengan dirinya, bangga dengan siapa mereka saat ini yang mau menerima kekurangan diri, bukan bangga dengan kekurangannya. Mereka tidak merasa malu untuk mengungkapkan kalau kekurangannya disempurnakan oleh orang-orang yang sudah membuatnya menjadi berarti ketika berada ditengah-tengah yang lain, ataupun sebaliknya.

10. Penuh harapan dan tangguh

Orang-orang bahagia tetap berpengharapan. Daripada dilemahkan oleh kesalahan, kegagalan dan kekecewaan, mereka lebih terus berpegang pada harapan bahwa mereka dapat belajar dari setiap langkah kehidupan dan tidak menyimpan pikiran negatif atas setiap peristiwa yang kurang menyenangkan. Apapun itu, selalu ada harapan untuk hari yang lebih baik. Mereka membuat setiap hari adalah awal yang baru, menjadikan momentum waktu sebagai pelajaran untuk memulai kehidupan baru, lebih bijaksana dari sebelumnya.

Semoga kebiasaan-kebiasaan orang-orang yang selalu merasa bahagia tersebut dimiliki juga oleh kita, amiin.