Informasi dan pengetahuan adalah jalan menuju titik kemajuan suatu bangsa. Dalam perannya sebagai “jalan” tersebut informasi dan pengetahuan sekilas memang satu hal yang sama persis, namun jika coba kita kaji lebih jauh apa yang dikatakan  Wikipedia ;

Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur yang secara Probabilitas Bayesian adalah benar atau berguna.”

Maka bisa disimpulkan bahwa pengetahuan didapat setelah adanya informasi, jadi informasi dulu yang menjadi input kedalam pikiran kita kemudian  setelah informasi tersebut tersimpan didalam memori otak kita maka itu adalah pengetahuan. Pengetahuan yang ada didalam diri kita tersebut apabila dikeluarkan atau disampikan kepada orang lain maka pengetahuan tersebut berubah sifatnya menjadi informasi bagi orang lain, ketika informasi tersebut dapat disimpan di memori pikiran orang yang menerimanya maka informasi tersebut berubah menjadi pengetahuan bagi orang tersebut. Keadaan ini akan terus berulang dan berulang secara kontinyu seiring dengan derasnya arus penyampaian informasi dan kecepatan penangkapan informasi.


Secara khusus, informasi dan pengetahuan dapat berfungsi pada posisinya masing-masing, namun secara umum informasi dan pengetahuan memiliki peran yang sama, yaitu mencerdaskan peradaban.

Pada kesempatan Kontes Ngeblog Inspiratif Visimaya kali ini saya ingin coba mengulas mengenai peranan informasi dan pengetahuan dalam memberi inspirasi kemajuan bangsa. Salah satu factor dalam memajukan suatu bangsa adalah arus informasi yang tumbuh dengan baik, tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat. Kuatnya arus informasi harus berbanding lurus dengan kemampuan masyarakat dalam menangkap informasi tersebut untuk kemudian ditranslitkan menjadi pengetahuan.

Tidak semua arus perkembangan informasi dapat ditranslitkan menjadi ilmu pengetahuan, karena tidak semua yang dikatakan oleh informasi itu benar (incorrect information), sedangkan sifatnya ilmu pengetahuan itu sendiri harus sesuatu yang benar yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah baik secara fakta maupun *de jure. *untuk informasi yang benar harus dimulai dari kebenaran penyampai informasi itu tersendiri. Contohnya, tidak semua informasi yang disampaikan oleh media telvisi itu benar, bisa jadi informasi yang disampaikan tersebut masih berupa isue, atau bahkan tidak jarang sebuah informasi sengaja dilontarkan ke publik untuk kepentingan bagi pihak-pihak yang berada dibalik media televisi tersebut. Contoh tersebut semakin fatal ketika pihak-pihak yang berkepentingan dibalik media tersebut terkait erat dengan kepentingan politik karena media tersebut cenderung dijadikan sebagai senjata propaganda untuk mendorong opini masyarakat terhadap apa yang dibenarkan oleh media tersebut.

Oleh karena hal tersebut kita sangat butuh sekali atas kehadiran media-media informasi yang dapat memberikan informasi yang benar, netral tidak berpihak pada satu kelompok tertentu, tidak mempropokasi terjadinya perselisihan dengan mengekspose perbedaan yang berlebihan. Sesungguhnya media seperti inilah yang akan menjadi *Agent of *Intelligence**(agen pencerdasan), karena informasi yang disampaikan tidak hanya sekedar kabar atas perkembangan suatu kondisi, tapi juga kaya akan ilmu pengetahuan karena disitu terdapat kebenaran informasi yang bisa dipertanggungjawabkan baik secara fakta ilmiah maupun de jure.

Media informasi harus mempunyai kesadaran akan fungsinya sebagai bagian dari pendidikan masyarakat, namun bukan berarti menggiring masyarakat pada satu opini propaganda yang sebetulnya cenderung membodohi dan menyesatkan. Dengan kata lain media informasi tidak perlu menjadi ikan yang sudah didarat, namun cukup sebagai kail pancingannya saja.

Efek Sebuah Informasi

Hadirnya informasi dapat mengurangi kecemasan seseorang terhadap suatu kedaan disisi tempat lain yang memiliki hubungan emosional dengan orang tersebut, akan tetapi ketidak benaran suatu informasi bisa jauh lebih buruk efeknya dari sebuah kecemasan. Kita bisa melihat bagaimana ambruknya harga saham atau merosotnya nilai tukar rupiah akibat arus informasi  negatif suatu peristiwa, yang dapat mempengaruhi kehidupan berbisnis dan perekonomian.

Masih ingat dalam benak pikiran, ketika selang beberapa waktu gempa bumi di Sumatera Barat terjadi, muncul sebuah informasi palsu yang mengatakan akan terjadi tsunami dahsyat. Sontak saja informasi palsu tersebut membuat panik masyarakat yang mendengar informasi palsu tersebut, yang secara mental mereka berada dalam kondisi cemas dan takut akan terjadinya bencana tsunami.

Kalau itu adalah salah satu efek dari ketimpangan atas suatu informasi, maka lain halnya dengan informasi  beberapa waktu lalu yang mengabarkan perkara antara Ibu Prita dengan Rumas Sakit Internasional (RSI) Omni. Derasnya pemberitaan media mengenai kasus tersebut berefek pada kebangkitan empati masyarakat se-seantero tanah air yang berujung pada pengumpulan koin, dan ini sebuah gerakan masal yang sedikit unik menurut saya yang pertama kali terjadi di tanah air. Sayang sekali ya gerakan ini tidak dimasukan ke Guinness Books of Record. 🙂

*
*

Dari contoh-contoh tersebut saja kita sudah bisa melihat betapa kuatnya pengaruh sebuah informasi. Bisa kita bayangka apabila dalam setiap informasi yang disampaikan mengandung unsur-unsur inspirasi dan motivasi, saya rasa setiap orang yang menerima informasi-informasi dari media tersebut akan menjadi orang-orang yang penuh kreatifitas dan semangat.

Evolusi Informasi Menjadi Pengetahuan yang Membangun

Sebagaimana yang diuraikan diatas bahwa informasi yang benar (bukan *hoax *dan tidak menyesatkan) cenderung menjadi pengetahuan, pengetahuan yang dimaksud bukanlah sekedar suatu pemahaman yang diketahui saja, namun juga pengetahuan yang jika itu diwujudkan kedalam suatu tindakan akan melahirkan karya nyata yang memiliki nilai positif. Contoh sederhana, ketika media informasi menyampaikan bahwa, minum obat disertai dengan teh manis atau susu akan menghambat penyerapan komponen tertentu didalam obat, dan itu benar adanya (bisa dipertanggungjawabkan ilmiah), kemudian orang yang membaca informasi tersebut menghindari minum obat berbarengan dengan susu atau teh manis, maka jelas bahwa informasi tersebut merupakan pengetahuan yang mencerdaskan dan berdampak positif.

Sekedar ide, mungkin akan lebih bagus lagi apabila media informasi atau yang sering disebut dengan media massa tidak hanya sebagai sarana penyampaian berita akan tetapi juga sebagai ensiklopedia (wadah ilmu pengetahuan), sumber datanya ensiklopedinya tidak perlu terlalu muluk-muluk dulu,  sebagai permulaan mungkin ensiklopedi tersebut bisa merupakan rangkuman atau kliping atas pemberitaan yang telah disampaikan. Lebih bagus lagi kalau ensiklopedi informasi tersebut tidak hanya bersifat pengetahuan wawasan saja, melainkan juga menyampaikan teknis pengerjaan suatu tindakan seperti tips dan trik.

Ingat *lho, *penjelasan atas suatu istilah, peristiwa, sejarah, dan pengetahuan lainnya sudah terangkum memang di wikipedia, tapi belum ada satupun situs yang merangkum berbagai teknis atau cara pengerjaan suatu tindakan kerja (seperti tips dan trik tadi). Hal-hal yang berisfat tips dan trik mayoritas masih cenderung disebarkan oleh para blogger, dan ini sebetulnya kesempatan dengan nilai proyek yang besar.

**Peranan Informasi dan Pengetahuan di Sendi-sendi Kehidupan
**

Secara keseluruhan, peran informasi dan pengetahuan sangat mustahil bisa dilepas oleh manuasia dalam tatanan kehidupan, infromasi bisa membangun namun juga bisa menghancurkan, kadang tidak juga tergantung seberapa benar informasi yang disampaikan, tetapi juga sejauh mana informasi tersebut bermanfaat. Oleh karena itu sangat perlu akan adanya filter atau aturan yang mengatur setiap aliran informasi yang ada, filter tersebut bukan untuk mengekang bukan juga untuk menghambat arus informasi, namun untuk mengendalikan supaya kita semua terlibat sebagai bagian dari pembangun kemajuan sautau bangsa, yang salah satunya adalah informasi dan pengetahuan umum.

Kita bisa berkaca kepada Korea Utara, pembatasan akses informasi yang berlaku di negara komunis tersebut luar biasa ketatnya, secara keamanan dan stabilitas negara mungkin itu bagus walaupun tujuannya buruk untuk melanggengkan keabsolutan tirani, namun jika diukur dari tingkat kecerdasan masyarakat jelas ini tidak baik. Bukan berarti di Korea Utara tidak ada orang yang cerdas, melainkan hanya sedikit saja yang cerdas itupun yang dapat menunjang kebutuhan negara, selebihnya dibiarkan dalam keterbelakangan dengan proteksi informasi dari luar, karena apabila banyak muncul orang-orang yang cerdas dengan membawa faham dari luar maka tirani terancam runtuh, dan itu artinya berbahaya menurut penguasa Korea Utara.

Apa yang terjadi di Korea Utara tentunya sama sekali tidak kita harapkan, karena salah satu tujuan utama kita hidup bernegara adalah supaya dapat hidup teratur secara beriringan dengan tujuan mencapai kesejahteraan bersama, dan salah satu penunjangnya adalah informasi yang benar dan bermanfaat yang dapat dijadikan sebagai ilmu pengetahuan sebagai fasilitas untuk memenuhi kebutuhan hidup

**
**