inovasi untuk indonesia mandiriBeberapa waktu lalu saya telah menulis sebuah postingan yang berjudul “Membangun Kota dengan Konsep Ecopolis”. Pada postingan tersebut ada satu penggalan sub-judul “Sampah Tidak Dibuang sembarangan, Dikubur, Maupun Dibakar”, artinya sampah mampu memberikan nilai tambah yang wah jika kita pandai dalam mengelolanya. Di kesempatan kali ini saya coba menguraikan maksud dari sub-judul tersebut.

Kita mungkin pernah mendengar sebuah kalimat nasehat ;

*Jika sesuatu dilihat sebagai masalah maka ia akan menjadi masalah, tapi jika dilihat sebagai solusi maka ia akan menjadi solusi. Karena kadang di situ masalahnya maka di situlah solusinya. *

Begitu juga dengan sampah (khususnya sampah lingkungan). Sampah umumnya masih cenderung lebih dilihat sebagai masalah yang tidak jarang membelenggu pikiran kita untuk menganggap sampah benar-benar tidak memiliki nilai.

Kalau saja kita coba mengambil pelajaran dari sisi lain orang-orang yang hidup diatas nilai cukup dari kepandaian mereka dalam mengolah sampah, kita akan menemukan sebuah fakta bahwa sampah sebetulnya bisa menjadi sumber pendapatan bagi suatu daerah. Terutama bagi daerah-daerah yang memiliki tingkat konsumtifnya tinggi.

Bagaimana tidak, sampah atau limbah yang jika dikelola dengan baik itu akan mampu berevolusi menjadi pundi-pundi rupiah bernilai milyaran. Inilah yang kemudian kita sebut From Trash to Cash !.

Kalaupun sampah tersebut tidak memberikan kontribusi pendapatan daerah yang signifikan layaknya sumber-sumber lain seperti pertambangan, perindutrian, pariwisata, jasa, dan pertanian, paling tidak bisa menjadi sumber biaya pengolalaan sampah itu sendiri . Artinya, kalau ada sebuah dinas yang bertugas mengelola sampah (semisal Dinas Kebersihan, Pertamanan, dan Pemakaman), maka dinas tersebut akan mandiri dalam menjalankan kewajibannya tanpa terlalu bergantung pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

Langkah awalnya bisa bermula dari konsep sederhana ;

JANGAN DIBUANG SEMBARANGAN

  • Jangan buang sampah sembarangan, karena sudah pasti ini akan mengotori lingkungan yang berefek domino pada gangguan kesehatan, perekonomian, keindahan, bahkan bisa menyebabkan penyalahgunaan anggaran.
  • Jangan dikubur, karena tidak semua sampah bisa diurai oleh tanah.
  • Jangan membakar sampah, karena ada sampah yang masih memiliki peluang untuk di daur ulang, bernilai ekonomi, dan tidak semua masalah sampah tuntas dengan dibakar.

Dari situ pemerintah daerah harus melakukan pengadaan bank sampah terstruktur dari pusat hingga ke pelosok desa untuk menampung semua sampah dari masyarakat. Kalaupun merasa keberatan soal pendanaan, cobalah menggandeng pihak-pihak yang mampu memberikan pendanaan semisal perbankan. Ingat, ini konsepnya usaha alias bisnis. Kalau usaha pengelolaan sampah perorangan saja bisa mendapatkan suntikan dana dari bank, masa pemerintah daerah tidak ?. Yang penting adalah pengelolaanya profesional.

Akan lebih bagus lagi jika untuk pengelolaan sampah itu dibuatkan sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Jika bayangannya terlalu rumit, kita bisa mengambil contoh bagaimana sebuah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) mampu merubah air kotor dari sungai menjadi air bersih yang layak pakai (bahkan layak konsumsi), dan menjualnya ke masyarakat.

Di bank sampah, sampah-sampah tersebut dipilah berdasarkan kategori organik dan non organik. Yang organik diolah kembali menjadi kompos, dan kompos bisa digunakan untuk melakukan penghijauan kota tanpa harus membeli pupuk menggunakan kas daerah. Apabila hasil produksinya surplus, kompos tersebut bisa dijual secara bebas kepada masyarakat.

Sedangkan sampah yang non organik dipilah kembali, dipisahkan (misalnya) antara logam, plastik, stereofoam, karet, kulit, kayu olahan, dan lain sebagainya. Sampah hasil pemilahan non organik inilah yang paling memungkinkan bisa dijual kembali ke berbagai industri untuk didaur ulang menjadi aneka produk baru.

Uang hasil penjualan ini paling tidak bisa digunakan untuk :

  • Membayar honor para pekerja pengolahan sampah dengan standar upah minimum (jika perlu, berstatus Pegawai Negeri Sipil apabila pengelolaanya berada dibawah Dinas Kebersihan, atau Pegawai BUMD apabila pengelolaanya berada dibawah BUMD).
  • Membiayai penambahan dan perawatan alat-alat pengelolaan sampah.
  • Merawat kebersihan lingkungan.
  • Sosialisasi program pengolahan sampah yang sedang berjalan.
  • Membiaya berbagai program kemasyarakatan lainnya.

Sepintas mungkin hasilnya tidak akan mampu mencukupi itu semua. Tapi nanti dulu, kita bisa membayangkan : “kalau perorangan saja bisa meraup untung milyaran rupiah dari sampah, kenapa pemerintah daerah yang memayungi hajat hidup orang banyak tidak bisa ?”.

Jelas sangat bisa !, masalahnya antara “mau apa tidak untuk melakukan Inovasi ?”.

Pemberdayaan Ekonomi Kreatif

Dengan cara seperti ini kita juga bisa mengedukasi masyarakat untuk mengubah budaya mereka dalam memperlakukan sampah. Masyarakat diajak untuk melihat sampah bukan sebagai musuh, tapi sebagai peluang yang jika kita memperlakukannya secara arif tidak hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga terhadap sustainabilitas hidup dan perekonomian.

Dari segi perekonomian, tidak hanya dimaksud untuk menambah sumber pendapatan daerah, tapi juga berpeluang untuk melahirkan proses penciptaan lapangan pekerjaan.

Dari sektor lingkungan dan kesehatan, paling tidak kita akan memastikan bahwa sampah-sampah tidak langsung berakhir tanpa nilai di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang setiap detiknya memerlukan ruang dan lahan, di mana bahan kimia dan lainnya mudah mengkontaminasi tanah.

Tim Arvier, seorang reporter dari A Current Affair (ACA / aca.ninemsn.com.au) menyampaikan beberapa tips ‘from trash to cash’ :

  • Setiap daerah mempunyai kekayaan sendiri, termasuk potensi ‘harta karun’ sampah.Jika memang kita melihat sampah sebagai peluang, maka seandinya debit sampah di daerah kita tidak sebagus potensinya dari daerah tetangga, jika memungkinkan daerah kita yang menjadi sentra pengolahan sampah dari daerah lain.
  • Yakin bahwa orang-orang akan membeli segalanya, termasuk misalnya untuk limbah kayu yang diolah (modifikasi) menjadi furnitur. Kebanyakan jenis furnitur akan menjual, dari bingkai jendela tua yang berubah bentuk menjadi meja, tempat tidur, dan rumah lampu. Usahakan selalu ada opsi ‘dipakai lagi dan di daur ulang baik dalam fungsi yang sama maupun berbeda’.Dengan berpola pikir pada opsi tersebut akan membuka cakrawala berpikir kita untuk tidak langsung membuang sisanya sedikitpun.
  • Jangan hanya mengandalkan dari sampah yang sudah benar-benar dibuang oleh masyarakat. Pastikan bahwa masyarakat bisa menjual barangnya (terutama yang masih bisa digunakan kembali) kepada pengelola sampah/limbah daerah. Ini semisal pusat jual – beli barang antik.

Berikut ini adalah salah satu contoh video “**From Trash to Cash” **di Kota Bangkok – Thailand dari *special report *ASEAN News Room, dimana sampah dikelola dan ‘berubah wujud’ menjadi uang :

Bayangkan, sampah yang biasanya dianggap sumber masalah mampu menjadi potensi mandiri dalam pengelolaannya. Alih-alih membutuhkan banyak anggaran dari kas daerah, sampah malah bisa memberikan nilai tambah untuk pendapatan daerah, atau setidaknya pengelolaan sampah tidak menyedot kas daerah.

Ingat, di situ masalahnya maka di situ pula solusinya.

Referensi lain :

Sumber gambar :

Sumber video :