Buah yang satu ini memang populer luar biasa, hampir disetiap tempat dan daerah kita dapat menemukan buah ini. Mulai dari pedagang kaki lima, pasar tradisional, hingga supermarket, yang namanya jeruk mandarin selalu hadir. Tidak hanya itu, jeruk impor asal Cina ini juga masih menjadi primadona buah tangan kita baik untuk keluarga maupun untuk menjenguk teman, kerabat atau saudara yang sedang sakit. Mulai dari acara resepsi pernikahan sampai acara resmi kenegaraan, jeruk mandarin selalu hadir dihidangan.

Entah masalah tradisi, selera atau kebutuhan jeruk mandarin ternyata memang jauh lebih menguasai pasaran global diantara produk-produk populer Cina selain ponsel, tekstil dan berbagai produk lainnya.

Memang tidak ada yang salah atau ganjil dengan buah yang berwarna orange pekat ini, selain rasanya yang manis juga segar.  Namun ceritanya akan berubah drastis manakala kita berbicara “Cinta Produk Dalam Negeri”.

Kalau saya melihat jeruk mandarin di pasar-pasar atau di supermarket, atau dihidangan acara hajatan mungkin bukan sesuatu yang  aneh, itu sesuatu yang biasa. Tidak bisa dipungkiri, saya sendiri suka ko dengan jeruk mandarin. Tapi saya jelas bertanya-tanya kalau jeruk mandarin hadir di acara resmi kenegaraan. Nah Lhooo ??!!

Hari ini, saya membaca sebuah berita di harian Republika (Senin 25 April 2011), halaman  23. Judulnya “Jeruk Mandarin di Istana Presiden”, dipaparkan kalau pada acara pembukaan rapat kerja pemerintah dengan kalangan dunia usaha yang berlangsung di Istana Kepresidenan Bogor (18 April 2011) lalu, buah asal Tiongkok tersebut menjadi makan ringan pembuka selain Bika Ambon, Talas dan Ubi.

Terlalu sepele memang untuk mempersoalkan “sebuah” jeruk mandarin, tapi kalau selama ini pemerintah mengkampanyekan “Cinta Produk Dalam Negeri” kepada masyarakat jelas itu berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah sendiri. Saya tidak bermaksud membuat malu pemerintah, khususnya Bapak Presiden. Saya hanya berharap ya mudah-mudahan lingkungan “ring satu” negara ini bisa menjadi teladan bagi masyarakat Indonesia umumnya. Paling tidak buat saya yang memang suka jeruk mandarin tidak menjadi terbawa semakin suka dengan jeruk mandarin dibanding dengan jeruk lokal lainnya.

Situasi bisa menjadi semakin lucu seandainya ada Hu Jintao atau Wen Jiabao berkunjung ke Indonesia, kemudian disuguhi  jeruk mandarin. Hemhhhh…. Apa kata nenek saya ? (Emangnya nenek lho siapa ?, Heuheuheuheuuuu….

Kalau hal seperti ini terus dianggap sepele, terutama oleh bagian rumah tangga di Istana sana. Ya wajar saja kalau jeruk Pontianak atau jeruk Medan tetap jadi anak tiri di orang tua kandungnya sendiri. Ini baru masalah *** perjerukan, ***belum masalah lain yang lebih vital. Benar-benar memprihatinkan, bagaimana mungkin produk dalam negeri kita bisa bersaing dipasaran dunia, kalau dari tanah kelahirannya saja tidak diberikan perlindungan dan prioritas oleh orang tuanya sendiri.